Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
95. Keputusan Egois


__ADS_3

Kini Sora dan Maria berada disatu ruangan, yaitu rungan tengah di tempat penginapan yang Maria sewa.


"Kenapa kamu ikutin aku lagi?" Maria bertanya dengan sangat ketus.


"Aku cuman khawatir, gimana klo kamu kenapa-kenapa lagi." Sora mencoba menjadi seorang penjaga untuk Maria.


"Gak usah. Pulang aja. Aku gak bakal ngapa-ngapain. Gak bakal lakuin yang aneh lagi" Maria mengusir Sora.


"Kamu sebenarnya gak ada niat buat gugurin kandungan kamu, kan? Kamu juga gak tega, kan?" Sora mengintrogasi Maria yang kini wajahnya sedikit memerah.


"Kamu tuh terlalu ikut campur urusan orang lain. Kamu urus aja hidup kamu sama suami kamu itu." Perkataan Maria memang memang terdengar masih sinis ditelinga Sora, namun raut wajah yang Maria tunjukkan tidak bisa membodohi Sora.


"Maria, aku serius. Kalau kamu memang gak mau urus calon anak kamu itu, aku dengan hati menerima anak kamu itu." Sora tidak berhenti membujuk Maria.


"Aku sulit untuk punya anak lagi... Dan kesalahan ada pada aku. Aku yang menyebabkan sulit untuk hamil lagi. Dokter bilang, sedikitnya ada kaitannya dengan kehamilan pertama aku. Kamu juga tahu sendiri, gimana kehamilan aku waktu itu." Kini Sora terdengar seperti memohon.


"Jadi maksud kamu, sekarang kamu nyalahin aku. Kejadian yang udah kita sepakati untuk kuta lupain." Maria tanpa sadar meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Bukan maksud aku nyalahin kamu. Aku cuman mau ngingetin kamu, masih banyak wanita diluar sana yang sulit untuk punya anak, mereka memohon kepada Tuhan. Tapi kamu, Tuhan dengan mudahnya percaya sama kamu, sedangkan kamu malah menolak pemberian Tuhan. Biar aku aja yang terima pemberian Tuhan itu." Sora tidak menyerah.


"Suami kamu? Keluarga kamu? Gimana tanggapan mereka tentang keputusan kamu ini. Belum tentu mereka setuju, kan! Banhkan Maru udah nolak mentah-mentah." Harga diri Maria serasa diinjak.


"Kamu tenang aja. Aku bakal ngomong baik-baik sama mereka semua. Aku yakin, mereka juga pasti akan setuju kok. Jadi kamu hanya harus bertahan, bertahan untuk bayi kamu, bayi kita."


Bayi Kita...


Kata tersebut membuat hati Maria tergerak. Ia merasa sakit, karena selama ini tidak ada kata Kita lagi yang melibatkan dirinya dan seseorang. Maria akui sendiri, keadaannya sekarang adalah akibat dari tingkah laku dan jalan hidup yang ia jalani sendiri, ia tahu semua itu salah. Namun semua isi hati, isi kepalanya tidak pernah sinkron dengan tubuhnya.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Maria lagi. Sora yang mengerti akan keadaan Maria, membiarkannya untuk beristirahat, dan tidak mengganggunya lagi. Sora membiarkan Maria berbaring di ranjangnya, sedangkan dia tetap berada di ruang tengah.


Maria memikirkan semua tawaran Sora. Tentang bayinya yang bahkan masih didalam perutnya itu.


Hati dan pikirannya sangat tergiur dengan semua perkataan Sora. Namun, egonya yang tinggi membuatnya terus berpikir dan mengurung diri. Terlebih, masa lalu dirinya dengan Sora yang sangat tidak ingin dia ingat lagi. Maria takut, kalau saja dia kembali menginginkan Maru untuk hidupnya.


Maru yang berada di rumahnya sendiri, duduk termenung. Ia memikirkan semua keinginan Sora yang sangat ingin dia tolak. Dia tidak sanggup jika harus berurusan dengan Maria lagi. Maru benar-benar ingin hanya ada dua nama dalam hidupnya kink. Hanya Maru dan Sora. Tidak ada nama lain. Maru berharap bahwa istrinya itu membatalkan, atau menarik semua perkataannya itu.

__ADS_1


Maru menjadi merasa bersalah kepada dua wanita yang kini berada di bangunan sebrang.


Maru merasa bersalah kepada Sora, semua yang Sora alami sekarang tidak lain adalah kesalahan dia juga.


Maru juga merasa bersalah kepada Maria. Karena untuk melupakan dirinya yang memilih untuk hidup dengan Sora, jalan hidup Maria menjadi sangat kacau.


Maru merasa dirinya harus bertanggung jawab untuk kedua wanita tersebut. Terutama tanggung jawab terhadap Sora, wanita yang paling dia cintai.


"Kenapa semuanya jadi begini? Dengan percaya dirinya aku, semua sudah selesai. Aku cuman berharap aku bisa hidup bahagia dengan Sora Tqpi, ujung-ujungnya, aku kembali nyakitin dia. Kembali menyakiti dua wanita yang sama." Maru tidak berhenti mengutuk dirinya sendiri.


"Apa aku harus ikutin semua keputusan egois Sora ini?"


🌱🌱🌱


Maaf ya teman-teman semua...


Akhir-akhir ini jarang sekali up...

__ADS_1


Karena ada kesibukan lainnya.


Terima kasih yang sudah ngikutin cerita ini, author akan terus berusaha membuat erita ini menarik.🙏🙏***


__ADS_2