Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
45. Goodbye Kiss


__ADS_3

Maru bertanya-tanya apa yang sebenarnya Sora dan Maria bicarakan beberapa hari yang lalu. Tidak mungkin hanya sekedar untuk berterimakasih. Dirinya yang tidak mau ambil pusing, tidak berani bertanya lagi kepada Sora.


“Mau belanja gak?” Ajak Maru.


“Hhaa... tumben banget ajak aku belanja.” Sora mengangkat bahunya.


“Apaan sih... aku ada rezeki lebih. Mau gak. Nanti hari minggu deh.. lagi libur..” Ajaknya kembali


“Okay..”


“Besok kayaknya aku gak pulang makan siang. Ada pertemuan sama client. Jadi kayanya makan siang bareng client.” Memberikan informasi agar istrinya tidak perlu menunggunya.


“Okay.. ya udah aku juga mau ketemu sama temen kerja pas di mall.”


“Cowok? Cewek? Ketemuan dimana?” Sambil mengecup bibirnya.


“Cewek... belum tahu dimana. Udah ah ayo tidur..” Sora memejamkan matanya terlebih dahulu.


Ting... Suara notifikasi ponsel Maru.


^^^Maru, aku mohon. Ayo kita ketemu untuk yang terakhir kalinya. Aku mau pergi ke luar kota sebentar lagi. Kita bereskan hubungan kita.^^^


Maru melihat istrinya yang sudah terlelap, dan membalas.


Aku sibuk. Besok ada janji. Tidak tahu selesai jam berapa.


Ting... ia mendapat balasan kembali


^^^Aku gak bakal lama kok, mungkin 10 menit cukup buat aku.


^^^


☆☆☆


Sora sibuk memilah barang yang akan dibeli oleh temannya untuk persiapan pernikahannya.


“Wwaahhh... udah lama banget ya kita gak ketemu.” Teman Sora juga memilih barang.


“Yaelah, baru juga dua minggu yang lalu kita ketemu. Cuman beda tempat doang.” Sambil tertawa.


“Iya juga ya, Kak Sora mau beli apa? Aneh banget kita kerja di mall mana, belanja ke mall mana.” Keduanya terbahak-bahak.


Teman Sora mendapat telepon yang entah dari siapa.


“Kak Sora. Aku minta maaf. Kayaknya aku harus pulang duluan. Ada sesuatu yang mendesak.” Memelas


“Ya udah sana pergi.” Menyuruhnya pergi


“Kak Sora gimana dong sendiri, aku gak bisa anter kak Sora dulu, dikejar waktu aku. Mana Kak Sora lagi hamil gini lagi.” Merasa bersalah.


“Gak apa-apa. Udah katanya gak ada waktu. Cepetan pergi. Ayo aku anterin ke parkiran. Ini barangnya banyak banget. Aku bantuin bawa barang yang ringan aja.”

__ADS_1


Keduanyapun berlalu.


☆☆☆


Maria menunggu Maru ditempat pusat permainan di sebuah mall.


“Kenapa harus disini sih.” Tanya Maru


“Inikan paling deket sama tempat kamu janjian sama client kamu.” Maria memberi alasan.


“Ada apa? Kamu mau pergi kemana?” Maru langsung ke intinya.


“Kamu to the point banget sih... gak pake basa-basi.” Tertawa getir.


“Kamu udah gak cinta aku?” melihat ke lantai.


“Maafin aku. Tapi, bukan berarti juga aku benci kamu. Apa mau kamu sebenarnya?” Maru terburu-buru.


“Aku masih cinta sama kamu.” Menatap Maru.


“Maria... kamu..”


“Aku tahu.. kamu gak mau terima aku lagi. Aku menyerah. Makannya aku mau mengakhiri semuanya. Makasih selama ini udah hadir di hidup aku.” Mengajak Maru berjabat tangan.


“Aku juga terima kasih.” Kembali menjabat tangan Maria.


Keduanya berjalan menyusuri orang yang berlalu lalang hingga sampai ke parkiran atap teratas kedua.


“Kamu hati-hati di jalan.” Ketika Maru hendak menuju mobilnya, tangan Maria meraih lengan bajunya.


“Bisa gak kamu cium aku?” Memohon. Maru diam saja, wajahnya memerah.


“Seenggaknya kita melakukan goodbye kiss. Aku janji, setelah ini aku bakalan hilang dari hidup kamu.” Maria menatap Maru dengan mata yang berkaca-kaca.


Maru meraih wajah Maria. Ia mengecup bibir itu dan di balas oleh lawannya, yang kini keduanya saling mencumbu cukup bergairah.


Ttiiiddd....


Suara kelakson mobil mengagetkan keduanya, Maru mendorong Maria ke balik tembok penyangga gedung.


Bukan hanya kedua insan itu yang kaget. Sora yang sedari tadi melihat adegan itupun terkejut, ia membungkuk ke arah mobil yang berbunyi, pantas saja ternyata dia berdiri bukan ditempat pejalan kaki, dia berdiri menghalangi jalan mobil.


Pria yang baru turun dari parkiran atap paling ataspun ikut terkejut. Ia mencari sumber suara. Dan mendapati wanita yang dia kenal tengah membungkuk kearah mobil.


“Sora...” Teriak Zaenal


Sora menoleh, terlihat Zaenal berlari kecil melewati mobil yang baru saja lewat.


“Kamu ngapain disini?” Tanya Zaenal.


“Aku udah ketemu sama temen aku. Kamu sendiri ngapain disini?” Keduanya menyeimbangkan langkahnya.

__ADS_1


“Aahhh... aku juga sama mau ketemu sama temen aku. Temen kamunya mana? Kok sendiri?” celingak-celinguk.


“Dia ada urusan mendadak, jadi pulang duluan.”


Melihat sepatutnya, yang kini talinya terlepas.


Zaenal membungkukkan badannya mengikat tali sepatu Sora. Maru yang tengah bersembunyi dibalik tembok, melangkah ingin menghampiri keduanya. Namun langkahnya ditahan oleh Maria.


“Harusnya kamu jangan pergi sendiri dong. Hamil gede gini. Kemana emang Maru? Mana satu lagi, biar aku iket lebih kencang.” Zaenal mengikat sepasang tali sepatu Sora.


“Makasih... Maru lagi ada janji sama clientnya. Jadi dia gak bisa gabung sama kita.” Tapi yang barusan dia lihat adalah Maru yang tengah bercumbu dengan Maria.


“Ya udah ayo kita masuk kedalam..” Zaenal memapah Sora.


Maru melepaskan tangan Maria yang masih melingakar di lengannya. Dan bergegas kembali masuk kedalam mall mengikuti keduanya meninggalkan Maria sendiri begitu saja.


Untuk ku hanya 10 menit aja susah. Sibuk. Ada Sora langsung tidak sibuk.


Dia marah membuka pintu mobil dan menutupnya dengan keras.


Maru membuntuti keduanya secara diam-diam. Terlihat olehnya Zaenal yang tengah menunggu di depan toilet.


Maru brengsek. Udah gue peringatin jangan sakiti dia lagi. Sekarang malah bercumbu ria sama wanita itu. Apa Sora melihatnya? Tapi dia biasa aja keliatannya.


Zaenal mengeluarkan ponselnya menelpon temannya, dan membatalkan janjinya.


Di dalam bilik toilet wanita, Maria duduk dengan air mata yang sudah membasahi semua pipinya. Dia tidak percaya dengan apa yang barusan dia lihat. Kenapa? Lagi-lagi...


Ia segera menghapus air matanya, dan membenarkan sedikit make up nya.


Ia keluar dari toilet dengan ceria.


“Sorry sorry.. kamu nunggu lama. Biasa ibu hamil beser terus.” Candaannya


Zaenal menggelengkan kepala menatap mata Sora yang jelas dia kenali.


Menangis. Lihat. Dia melihatnya.


“Mana temen kamunya, kok gak ada?” Mencari orang yang bahkan sama sekali tidak ia kenal.


“Dia ngebatalin janjinya. Mumpung udah di sini. Mau keliling dulu gak?” tawarnya


“Aku tadi udah keliling sam temen aku, capek. Tapi masih pengen maen.” Cemberut


“Ya udah kita ke game area aja. Paling cuman melangkah dikit doang.”


“Good idea.. ayo...” keduanya berjalan santai menuju game area


“Lagian kamu ngapain jauh-jauh ke mall sini.” Zaenal penasaran kenapa keempat orang ini selalu terhubung.


“Kita berdua mikir gini, kerja di mall itu. Masa belanja di mall itu juga. Biar sekalian cari suasana baru.” Tertawa

__ADS_1


Maru terus mengikuti keduanya terlihat wajah Sora sangat ceria. Bermain game, yang sebenarnya Zaenal yang memainkan dia yang mendapat hadiah. Mengambil foto berdua dengan background yang lucu. Sampai lupa waktu, ternyata sudah sore dan hadiah ditangan Sora sudah tidak bisa dia pegang. Zaenal dan Sora pulang mengendarai mobil Zaenal. Maru berdiam diri sejenak di dalam mobil. Akhirnya memilih pulang.


__ADS_2