Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
48. Rumit


__ADS_3

Cahaya senja berubah semakin gelap. Maru dan Sora tiba di depan ruang UGD menghampiri sepasang suami istri paruh baya.


...PLLAAAAKKK... Ibu Maria tanpa memberi kesempatan Sora untuk bernafas langsung menapar dan menunjuk wajahnya.


“Kamu. Dasar iblis. Kenapa kamu sampai melakukan hal semacam itu hah? Apa salah anak saya?” Makian yang dilontarkannya mengundang berbagai mata dan telinga.


“Semuanya tidak seperti apa yang Anda pikirkan. Bukan saya yang melakukannya.” Membela diri.


Namun Ibu Maria masih tetap memaki dan mencengkram kedua lengan Sora dengan sangat kuat. Sora Meringis kesakitan.


“Kalau bukan kamu, siapa lagi? Untuk apa orang lain melakukan hal itu kepada anak saya? Saya tidak terima..” Lalu wanita paruh baya itu mengeluarkan ponselnya dan memanggil polisi.


“Tante jangan begini. Ayo kita dengarkan dulu apa kata Sora... Sora ayo jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?” Maru memegang pundak Sora.


Laki-laki ini memintaku untuk menjelaskan semuanya kepada orang lain. Tapi, dirinya sendiri tidak memintaku untuk menjelaskan semuanya. Yang ada dia bersasumsi akulah yang pasti salah. Kurang ajar.


Sungguh tempat yang strategis, polisi tiba dengan cepat di tempat, karena kantor polisi berada tidak jauh dari rumah sakit. Beberapa diantara mereka membawa Sora ke kantor polisi untuk di mintai keterangan. Maru mengikuti langkah istrinya dengan khawatir.


~


Sora dan Maru duduk didepan pria gagah yang mengenakan jaket kulit. Penyidik terus memberikan pertanyaan bertubi-tubi kepada Sora. Sora menjawab dengan seadanya.


“Ini akan sulit karena tidak ada saksi lain disana, selain kalian berdua sendiri. Jadi, kita tunggu sampai korban sadarkan diri.”


“Kalau korban tidak sadarkan diri untuk selamanya?” Sora meracau.


“Sora kamu ngomongapa sih? Jangan ngaco.” Maru menenangkan Sora, yang sebenarnya harus ditenangkan adalah Maru. Karena Sora tetap menjawab dengan santai.


Orang-orang yang ada disana menatap curiga kepada Sora. Ponsel Sora berdering, ia melihat nama Zaenal dilayar ponselnya. Ia meminta izin untuk menerima panggilan itu, dan mereka mengizinkannya menerima panggilan dengan harus tetap berada disana.


“Sora... kamu dimana? Apa yang terjadi?” Suara Zaenal memenuhi ruangan.


“Maksud kamu apa?”


“Aku liat video di internet. Itu bukan kamu, kan? Kamu sekarang dimana?” Terdengar semakin khawatir.


“Waaahh... ternyata aku udah terkenal. Aku di kantor polisi.” Tertawa pilu.


“Kantor polisi? Tunggu aku disana. Jangan kemana-mana.” Pintanya.


Polisi menjelaskan kembali jawaban dari pertanyaan Sora.


“Kalau seperti itu, anda bisa dijadikan sebagai tersangka. Tapi kalau anda memiliki bukti yang kuat yang menunjukkan anda bukan pelakunya, anda bisa bebas. Sekarang anda masih sebagai saksi, jadi anda bisa pulang.”


Sora mengangguka kepalanya.


“Yang tadi berbicara di telpon siapa?” Tanya pria itu kembali.


“Dia teman saya. Dia tidak ada hubungannya dengan kejadian ini.” Sora antisipasi


Zaenal tiba secepat kilat, karena memang kebetulan dia tengah berada disekitar sana.

__ADS_1


“Sora...” ia terus mencari sosok wanita itu


Sora tersenyum melihat Zaenal.


“Apa yang terjadi?” memeluk Sora.


Maru yang melihat itu hanya bisa terdiam. Dia tidak fokus saat ini.


“Bagaimana hasilnya?”


Pria tadi menjelaskan kembali kepada Zaenal.


“Saya yakin pasti bukan dia pelakunya, pak. Bahkan dia aja takut pegang cutter, apalagi nusuk orang pake cutter. Gak mungkin.” Memberi pembelaan kepada Sora.


“Udah... kita tunggu aja hasil akhirnya.”


Ketiganya pamit keluar dari kantor polisi. Maru membuka pintu untuk Sora.


“Aku pulang sama Zaenal aja. Sekarang mending kamu ke rumah sakit, kamu pastiin keadaan Maria.” Matanya terlihat sangat lelah.


Sora masuk ke mobil Zaenal tanpa memandang wajah Maru. Maru membiarkan istrinya pulang bersama Zaenal dan memilih kembali ke rumah sakit menunggu Maria tersadar.


☆☆


Sora tiba di rumahnya yang segera disambut oleh Risa. Risa langsung memeluk Sora dan mengusap-ngusap air mata yang terus menyebrangi pipinya.


“Ngapain kamu disini?” Tanya Sora


“Pasti kamu udah liat video yang tersebar itu, ya? Aku gak pernah kepikiran bakal ngalamin hal semacam ini.” Memaksakan senyuman.


“Tenang aja. Ada aku, ada kita kok yang percaya sama kamu. Sekarang kamu istirahat aja. Jangan mikir yang aneh-aneh. Kalau butuh sesuatu bilang aja. Aku bakalan nginep di sini.” Risa memberi Sora segelas air putih.


“Gak usah, pulang aja. Kasihan suami sama anak kamu. Pulang aja.” Menolak Risa.


“Mana bisa aku ninggalin kamu dalam kondisi begini. Tenang aja, mereka ngerti kok.” Risa menatap Sora.


“Iya, sebaiknya malam ini kamu ditemani Risa dulu. Aku gak bisa temenin kalian. Aku harus langsung pergi. Kalian butuh sesuatu gak?” Zaenal memastikan agar kedua temannya bisa nyaman.


“Aku gak butuh. Cuman aku mau minta tolong. Tolong jangan bilang Ibu dulu. Aku gak mau Ibu khawatir.” Menyebutkan nama Ibu, tangis Sora pecah. Ia menangis sangat keras memeluk Risa.


Zaenal dan Risa menenangkan Sora.


☆☆


Maria membuka matanya. Ia tersadar setelah beberapa jam tidak sadarkan diri. Dia menelaah sekeliling, kedua orangtuanya setia menunggu. Ada dua orang yang tidak dia kenali dan ada juga laki-laki yang sangat dia sayangi diruangan itu.


Setelah beberapa saat menenangkan dan menyadarkan ingatannya, kedua pria yang tidak ia kenali mulai meminta keterangan tentang kejadian yang dia alami tadi siang. Mata Maria memerah, ia menatap wajah Maru yang kasut.


“Dia menusuk saya.” Tiga kata itu keluar dari mulut Maria.


“Gak mungkin...” Maru berusaha membela Sora dan di cegah oleh petugas.

__ADS_1


“Siapapun dilarang bicara, kecuali saudari Maria. Harap tenang.”


Maru mengusap wajahnya dengan kasar.


“Apakah Anda tahu, apa motifnya, sehingga dia menusuk anda?”


“Saya kurang yakin. Mungkin karena cemburu. Kami bertemu di mall sana. Saya menyapa mereka berdua, dan karena menurut saya fine fine saja, saya memegang tangan Maru. Lalu kita pergi ke toilet. Dan dia mulai marah-marah sama saya, dan mengancam saya.” Semua perkataan yang diucapkan hanyalah dusta.


“Maksud kamu apa, Maria? Mana mungkin Sora seperti itu?” Maru marah namun kembali ditegur oleh petugas.


“Ancaman seperti apa yang dia berikan?”


“Dia bilang, salah satu diantara kita harus ada yang mati agar bisa memiliki Maru.”


“Siapa yang membawa cutter?”


“Saya. Cutter punya saya.”


“Kenapa ada membawa cutter?”


“Untuk memotong. Karena saya kerja dikantoran, sekali-kali saya membutuhkannya untuk kertas, atau yang lainnya. Jadi saya beli di mall tadi.”


Petugas mulai bingung, keterangan dari keduanya berbeda. Akhirnya, petugas menyelidiki lebih lanjut lagi.


Setelah petugas pergi, Maru menghampirinya.


“Kamu bohong, kan?” Tanya Maru.


“Aku ngerti kamu cinta banget sama dia. Tapi, gak gini juga. Kalau salah ya salah. Dia manis depan kamu doang. Disini aku yang korban. Aku terluka karena dia rebut kamu dari aku. Aku hanya mencoba mengambil lagi apa yang seharusnya punya aku.” Mulai menangis histeris. Dia melemparkan semua barang-barang yang ada di dekatnya, kedua orangtuanya sudah mencoba menenangkan anaknya. Namun Maria masih tetap histeris, Maru akhirnya memeluknya dan Maria menjadi lebih tenang menangis dipelukan Maru.


☆☆


Zaenal datang ke mall tempat perkara. Dia ingin menanyai beberapa orang yang mungkin bisa menjadi saksi. Namun, karena sudah larut. Hanya ada segelintir orang yang berlalu lalang dan juga tidak tahu menahu tentang kejadian tadi.


Ia memutuskan untuk ke rumah sakit. Ingin menanyai kebenaran kepada Maria.


Didepan pintu ruangan Maria, Zaenal menatapi Maru yang tengah memeluk Maria dari pintu yang terpasang kaca tembus pandang. Ia sangat geram. Ingin sekali memukulnya. Ia kembali tersadar agar bisa lebih tenang dan tidak memperkeruh keadaan.


Zaenal maksuk tanpa permisi menerobos pintu. Ia menanyai Maria tentang kejadian tadi, jawaban Maria sama seperti jawaban yang dia berikan kepada petugas.


“Lo pikir gue percaya?” Zaenal menunjuk wajah Maria dengan geram.


“Gue bakal cari bukti. Tunggu aja.”


Orangtua Maria yang menyaksikan tidak terima melihat anaknya dibentak dan ditunjuk oleh orang lain, tidak terima. Keduanya kembali membentak Zaenal dan terus membela anaknya, akhirnya Zaenal diusir dari ruangan.


Maru mengikuti Zaenal dan menanyakan tentang Sora.


“Ngapain lo nanya Sora ke gue.” Mendorong tubuh Maru ke tembok.


“Tadi lo kan anterin dia. Dia gak angkat telpon gue juga. Gue khawatir.” Maru hanya pasrah tubuhnya terpojokkan.

__ADS_1


“Lo khawatir tapi disini lo peluk cewek sialan itu. Setelah kejadian ini beres. Lo tinggalin Sora. Brengsek.” Mendorong Maru lebih kuat.


__ADS_2