Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
2. Kembali


__ADS_3

Empat tahun menghabiskan waktu dikota lain. Wanita berperawakan mungil dengan kulit yang kuning langsat tersebut kembali ke rumahnya, dan tinggal bersama sang Ibu. Dikarenakan kontrak kerja yang sudah berakhir, dia memutuskan untuk tidak memperpanjangnya dan kembali.


Karena termasuk orang yang selalu bekerja keras, meskipun baru dua minggu di rumah wanita ini sudah sibuk cari kerja sana-sini. Dan hasilnya, dia mendapat pekerjaan di mall.


Tepatnya disebuah toko yang menjajakan pakaian-pakaian kaum elite. Kenapa untuk kaum elite, karena pakaian yang ditawarkan memiliki harga yang fantastic untuk dirinya. Bahkan seragam karyawan tokopun terlihat elite dimatanya.


“Kamu kapan bawa pacar kerumah?”


Sang Ibu memulai pembicaraan di tengah aktivitas masak memasak untuk makan malam mereka .


“Ibu.. mulai lagi. Santai aja, Bu Rani. Tenang.” Bukan alasan yang diutarakan melainkan menenangkan.


“Kamu... kamu tuh usia udah berapa tahun coba. Kamu tuh udah cukup umur untuk rumah tangga.”


“Ibu, aku kan masih sibuk kerja. Gak ada waktu buat begituan.” Mengutarakan sedikit alasan.


“Kalau kerja terus tapi gak ada usaha buat nyari pacar, gak bakal dateng sendiri.” Terus mendesak.


“Lagian ni bu ya, kalau ada yang nanya umur aku, bilang aja masih 17 tahun. Pasti percaya kok. Iya nggak?” menggoda sang Ibu.


Ibunya yang tadi sedikit mengerutkan kening, kini tersenyum. Tersenyum karena perkataannya ada benarnya. Dengan paras wajah putrinya yang sebegitu menariknya, orang akan percaya. Tapi, dengan paras begitu mana mungkin dia tidak punya pacar.


“Apa Jangan-jangan dia sudah punya pacar tapi masih dirahasiakan?” Mencoba menghibur diri didalam hati.


“Tetep aja kalau KTP diliatin, bakal ketahuan tuanya.” Seraya tertawa yang dibalas tawa pula oleh putri satu-satunya itu.


Sora melakukan aktivitas barunya di kota asalnya ini dengan biasa. Jam kerja shift pagi dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, untuk shift siang jam kerja dimulai jam 1 siang sampai jam 8 malam.


Jam kerja selesai pada jam 4 sore, diperjalanan ia mengunjungi restoran milik Zaenal. Tampak Zaenal, Bu Tika, Ibu dari temannya itu dan juga adiknya, Zaki tersenyum kearahnya.


“Ya ampuuuunn... siapa ini. Kemana aja? Kok baru ke sini?” Disambut hangat oleh Ibu Zaenal.


“Maaf bu, baru sempet. Kemarin-kemarin masih sibuk soalnya. Ibu sehat?” seraya menyalami dan memeluknya.


“Alhamdulillaah sehat, kamu sehat kan? Gimana rasanya? Baru satu bulan balik lagi ke sini? Enakan di sini, kan?”


“Iya bu, lebih tenang juga karena bisa tahu keadaan Ibu langsung.”


“Padahal nih ya, kmu udah kerja di sini aja. Temenin Ibu. Udah kamu keluar aja kerja dari sana, toh baru tiga minggu kan kerja di sana?” merayu-rayu


“Aduh bu, stop. Dia kesini mau ke aku. Ibu udah maen cerocos aja.” Goda Zaenal


“Apaan, dia ke sini jelas-jelas mau ketemu Ibu. Toh kalian udah sering ketemu di mall, kan? Jadi dia kesini buat ketemu Ibu.” Sedikit merajuk, dibalas dengan senyuman ringan dari Sora.


“Kamu harus sering dateng kesini ya, selama kamu kerja diluar kota Ibu kesepian banget. Gaka ada anak perempuan yang main kesini. Kamu tuh ya, udah Ibu anggap anak sendiri. Jadi gak usah sungkan buat kesini. Tiap hari juga Ibu bakal seneng banget.” Cerocosnya kembali


“Terima kasih bu. Iya nanti aku pasti sering dateng kesini kok. Tapi gak janji tiap hari ya.” Balasnya ramah.


“Ya udah, kamu nikah aja sama Zaenal. Biar tiap hari di sini. Kan jadinya anak-anak Ibu pada ngumpul.” Mulai ngelantur.


Zaenal langsung mendorong lembut Ibunya untuk mengemas barangnya dan menyuruhnya untuk segera pulang. Karena terlihat waktu sudah menunjukkan hampir jam lima sore.

__ADS_1


“Udah Ibu, cepet pulang. Udah sore. Jangan ngomong macem-macem lagi. Okay.”


Akhirnya Bu Tika melangkahkan kakinya untuk pulang ke kediamannya yang berjarak tidak begitu jauh dari restoran, hanya memerlukan 10 menit dengan berjalan kaki.


“Maafin ya, heboh banget Ibu tadi.” Zaenal membawakan jus kesukaan Sora seraya duduk di hadapannya.


“Aayyy... gak apa-apa. Wajar lah... Kan baru ketemu lagi. Ibu aku juga heboh banget di rumah. Mana pacarnya.. ini itu lah..” menghempaskan nafas panjang


“Lagian kamu, kamu beneran belum mau nikah?”


“Ya aku tetep kayak dulu, enakan gini. Kamu juga kenapa coba, malah putus ama Zani. Harusnya kamu prtahanin dong, jadi kan Ibu kamu gak kesepian.” Mengejek


“Aku sama Zani udah berakhir, gak usah di omongin lagi. Lagian, aku jarang bawa Zani kerumah kok. Dia juga kan sibuk kuliah, apalagi sekarang katanya dia udah mulai kerja juga.”


Sora hanya geleng-geleng kepala mendengar penjelasan Zaenal itu.


“Kamu besok gak lupa kan, acara reuni kelas kita?” Zaenal memastikan kembali


“Iya, aku inget. Dari jam 9 pagi kan? Tenang aja, aku inget kok.” Timbalnya.


Tiba-tib Risa dateng dan memesan makanan untuk dibungkus dan dibawa kerumahnya.


“Masak dong bu,” goda Sora


“Wwaahh... capek banget sumpah. Hajatan rumah mertua sendiri, tapi udah kayak jadi babu.” Menggurutu menghampiri kedua temannya


“Mulai dah ni orang, loe kalau udah kesel ngedumel mulu Ris. Gua bilangin juga dah ke suami loe.” Zaenal sedikit menggelengkan kepalanya.


“Lha.. kok jadi aku yang ditanya. Perasaan yang bikin kamu kesel disini, noh...” sambil menunjuk Zaenal dengan matanya.


“Ah, dia? Gak peduli aku. Aku Cuma peduli kamu. Aku harap kamu mematahkan pendapat kamu tentang pernikahan. Pernikahan tidak selamanya buruk, ada kalanya kita bahagia. Kamu harus mengingat yang bahagianya tentang pernikahan, okay?”


Sora dan Zaenal keduanya menyipitkan mata menatap Risa yang tadi niatnya memberi nasihat kepada Sora.


“Perasaan lu tadi ngedumel tentang rumah tangga lu deh.” Zaenal memberikan tatapan genit.


Risa langsung menutup mulutnya, dan juga menutup telinga Sora. Karena pesanan sudah siap, ia beranjak pergi untuk pulang.


“Aku pulang sekarang. Ayo Sora!” Ajaknya


“Okay, ayo. Aku pulang dulu ya. Bye...” Sorapun ikut beranjak dan pulang bersama Risa.


“Oy Zaenal, jangan lupa loe besok reuni. Jangan main game mulu lu!” Teriaknya sambil berjalan.


Zaenal hanya tertawa melihat kedua temannya itu.


Esok hari tiba, dengan mengenakan pakaian yang sederhana berwarna hitam namun membuat wanita ini terlihat sangat cocok dengan perawakannya yang mungil dan juga menjadikannya terlihat mencolok karena memberikan nuansa lebih terang pada kulitnya.


Perasaan senang terlihat begitu jelas dari wajahnya. Bagaimana tidak, selama bekerja di luar kota ia jarang sekali bertemu teman-temanya, hanya Zaenal dan Risa yang sering ia temui ketika pulang kerumah.


Waktu menunjukkan jam 9, tepat itu juga peserta reuni datang satu per satu. Para wanita melepas rindu dengan pelukan, cipika-cipiki sana sini. Para lelaki yang sedari tadi juga sudah tiba hanya bisa melihat dengan tatapan aneh dan iri.

__ADS_1


“Ya... cewek. Cium sana-sini, panggil beb pelukan. Biasa aja ya. Lha.. coba kita, pasti di bilang gay.” Keluh Rendi yang sedari tadi geleng-geleng kepala. Zaenal yang berada di sampingnyapun ikut mengiyakan.


“Ya udah, ayo kita juga.” Zaenal membentangkan tangannya ke Rendi seolah akan memeluk temannya itu.


“Idih, ogah ah... sana ah..” Rendi langsung menghindar menuju kerumunan yang memang lebih banyak cowok.


Acara reuni diakhiri dengan makan siang bersama di sebuah warung makan yang memang cukup luas. Sora hendak melanjutkan aktivitasnya yaitu menuju mall, karena memang dia sedang shift siang.


“Kamu naik angkutan umum?” tanya Risa yang terus berada disampingnya. Sora membalasa dengan anggukan seraya mata terus melihat kearah tempat lalu lalang kendaraan, namun tak tampak satupun yang akan menjadi kendaraannya itu. Dia kembali melihat jam tangan yang melingkar di tangannya yang kurus.


“Udah ayo aku anterin aja, daripada nanti kamu telat.” Zaenal menawarkan diri untuk mengantarnya.


“Iya bener, mending udah sama Zaenal aja.” Suruh Risa sembari mendorong Sora


“Tapi kan gak searah, nanti kamu jadi bolak balik. Kasihan.” Sora merasa tidak enak


Belum sempat menjawabnya, Rendi terlihat sudah duduk di jok belakangan sepeda motor Zaenal.


“Kalau kamu gak mau ikut, aku yang ikut nih.” Godanya


Tiba-tiba suara lelaki dengan deep voicenya memanggil dan menawarkan agar lebih baik menaiki sepeda motornya.


“Udah ayo naik punya gue aja. Toh, kita juga satu arah.” Ajak Maru


“Emang gak apa-apa?” Sora sedikit ragu


“Ya elah, gak apa-apa kali. Gue juga emang lagi gak sibuk. Terus yang ada helm dua juga gue, nih..” menyodorkan helmnya untuk dipakai.


“Searah? Ya udah deh aku ikut Maru aja yang searah.” Sembari tersenyum dan melambaikan tangan.


“Hati-hati ya.” Risapun ikut melambaikan tangannya.


Diperjalanan mereka terus mengobrol sana-sini, dengan suara keras karena memang mereka berada diatas kendaraan bermotor yang sedang melaju.


“Nanti kalau ada yang liat, terus ngomong aneh-aneh ke Maria gimana? Nanti dia salah paham.” Celetuk Sora yang merasa harus berhati-hati


“Gak bakalan, tenang aja. Udah putus ini kok.” Dengan santainya


“Waht? Kenapa? Kapan? Kok bisa?” Sora meghujaninya dengan pertanyaan yang tidak satu.


“Ya ampun, santai kali. Baru putusnya, intinya sekarang kita cuma temen doang.” Sedikit menjelaskan.


“Sayang banget. Kalian udah pacaran lama banget. Tapi kenapa? “ masih penasaran


“Ya... gak tahu juga sih. Lagian juga, gue jadi minder. Keluarga dia kan semuanya terpandang.” Ngeles


“Kamu? Gak masuk akal banget dah. Cinta tidak memandang status dong. Roman-romannya kalian bakal jadian lagi deh kalau kayak gini.” Sedikit menepuk punggung kekarnya,


“Kamu sama Zaenal sama aja, dulu dikejar-kejar. Udah dapet dilepasin. Aneh dasar.” Ujarnya


Tanpa sadar mereka sudah sampai di tempat tujuan. Tak lupa Sora berterimakasih.

__ADS_1


__ADS_2