
Tak ada yang tahu kisah Cinta Maru yang menyakitkan itu. Selain Sora, ya memang Sora pun tidak tahu sepenuhnya. Maru yang sudah selesai bekerja lebih awal mampir ke pusat perbelanjaan menunggu Sora. Dengan senyumnya menghampiri gadis itu,
“Udah beres kan, gue tunggu di parkiran okay..!“ melempar senyum kearahnya. Udah sembuh dia galaunya, batin Sora.
“Mau kemana kita? “ tanya Sora
“Traktir lu, kan lu udah anterin gue pulang. Dan Cuma lu yang tahu waktu itu gua mabok” semakin mengecilkan suaranya.
Sorapun hanya tersenyum dan memakai helm yang dia berikan Maru. Seperti biasa, dia mentraktir di restoran Zaenal. Terlihat Ibu Tika yang masih ada di restoran, langsung menghampiri. Mau makan apa, tanyanya dengan senyuman. Sora memutuskan pesan roti bakar dan jus melon.
Terlihat Zaenal yang sedang melakukan tugasnya, dia pemilik restoran tapi selalu berbaur dengan karyawan disana. Setelah selesai dengan pelayanannya dia langsung menghampiri keduanya dengan melempar senyuman.
“Akhir-akhir ini kalian deket banget ya,, “ celetuk Zaenal, karena memang dia sering melihat keduanya bersama belakangan.
“ Karena kita satu arah. “ jawab Maru
“Lagian ni anak kalo pulang naik angkutan umum, naik ojeg gak mau. “ terusnya
“Kamu masih takut terus ketemu orang asing ya, gimana kalau aku.. Maksudnya kita gak bisa bantuin kamu biar bisa sampe rumah? “ tanya Zaenal dengan matanya sedikit khawatir.
“Iya, dulu kan ada kakak. Sekarang dia udah gak tinggal bareng lagi. “dengan wajah sedihnya.
“Tenang, kan kita agak deket, selama gua bisa pasti bakal anterin kok. “ Maru dengan santainya.
Terlihat Zaenal yang agak kurang suka dengan perkataan Maru itu.
“Iya, kalo ada apa-apa atau mau kemana atau pulang telat, panggil aja aku. Jangan sendiri. Okay?” Zaenal dengan berusaha tidak memperlihatkan ketidaksukaannya itu.
“Kamu emang keren, dari dulu sampe sekarang gak berubah. Paling ngertiin... “ goda Sora.
__ADS_1
Senyuman tersirat tidak tertahankan dari bibir Zaenal, begitu senangnya dia mendengar perkataan langsung dari mulut Sora.
Pikiran Zaenal terus berkecamuk. Kenapa mereka berdua terus, batinnya terus menggerutu. Suara sang Ibu meluruskan kekusutan pikirannya.
“Mamah suka sama Sora. Dari zaman kalian sekolah dulu sampe sekarang tetep, cantik sopan. Terus Cuma dia cewek yang pernah kamu ajak kerumah. Apalagi ke restoran ini paling sering” Zaenal hanya tersenyum,
“Bahkan pacar kamu yang namanya Zani aja baru ke sini sekali doang, eh mantan maksudnya Ibu” Zaenal semakin tertawa kecil dengan sindiran wanita itu.
Sesampainya dia dikamar, dia teringat kembali ucapan Ibunya. Terus cuma dia cewek yang pernah kamu ajak kerumah. Memang iya, batinnya. Sambil membuka laci kedua yang terkunci, dia melihat album foto waktu sekolah, terlihat Sora dengan senyuman manisnya selalu berada di sebelah Zaenal. Ya, hampir semua foto. Dilanjutkan membuka buku tulis yang dibuka dari halaman paling belakang, terdapat banyak coretan tangan Sora entah itu namanya, atau gambar-gambar yang sangat jelek namun berkesan menurutnya, dan itu hampir semua bukunya. Makannya ia enggan membuang buku pelajaran bekasnya itu. Diapun memasang foto yang terlihat sosok Sora tersenyum di sebelahnya, menggantikan foto dirinya dengan Zani.
“Oke, sekarang gue harus berani. Gue ingin dunia tahu. Gue Cinta Sora” batinnya berteriak.
Sebenarnya Zaenal ini dari dulu mencintai Sora, bukan Zani. Kenapa,? Karena dirinya tahu kalau sahabat wanitanya ini tidak ingin memulai sebuah hubungan asmara. Maka dari itu dia pura-pura meminta bantuannya untuk mendekati Zani. Jahat! Memang jahat. Tapi, dengan cara itu dia bisa terus melihatnya ngoceh didepannya, ketawa, dan marah karena menganggap dia lamban deketin cewek yang disukai, Zani. Sebenarnya pria inipun merasa bersalah pada Zani, tapi dia juga tidak sepenuhnya salah.
Karena selama menjalin hubungan dengan yang namanya Zani, tetap memperlakukan dia sebagaimana pasangan lainnya, bahkan dia berusaha untuk mencintainya. Tapi, usaha itu tidak berhasil. Sampai Sora memutuskan untuk kerja ke luar kotapun dia tetap mencintainya, Sora. Dan kini dia kembali, dia tidak ingin melepaskannya lagi.
Sora kini dilanda gundah, kerena Ibunya telah menentukan waktu pertemuan dengan pria pilihannya. Jika Sora masih enggan membawa pria calon menantu pilihan dia sendiri, maka akan sekalian membicarakan pernikahan dengan pria yang bahkan tidak dikenalinya sama sekali. Dia tidak ingin pulang rasanya. Dan yang lebih parahnya lagi, semua terasa mendadak sekali. Dia sengaja meminta lembur kepada atasannya. Padahal sudah tidak ada yang harus dikerjakan.
Zaenal berlari menuju arah lantai atas, langkahnya terhenti saat matanya melihat sesosok wanita yang belum beranjak dari mall padahal pekerjaannya sudah beres. Tak pikir panjang langsung menarik wanita itu menuju lantai atas.
“Kaget tahu..! Kirain siapa! “ bentaknya sambil memukul tangan yang memegang tangannya itu dan merekapun masuk kedalam lift.
“Lagian, jam pulang masih disini, mikirin apa siih?” dengan terengah karena berlari,
“Kamu sendiri ngapain, malem-malem gini.? “ malah balik tanya
“Mau balikin buku sama CD, kurang ajar emang si Rendi, udah waktunya dibalikin masih dipake aja. Sayang kan, kalau harus bayar denda, “ dengan alis mengangkat dan senyuman genitnya itu. Masih aja pelit ni orang, batin Sora. Sora terus melamun, seakan dia berjalan seorang diri.
Zaenal pun mulai risih, dan mengajaknya pulang. Tapi, sepertinya Sora langsung menghentikan langkahnya. Tumben, pikir Zaenal. Biasanya dia harus pulang tepat waktu. Ya udah, kita ke restoran aja ajaknya, dan langsung memasangkan helm ke kepala gadis itu.
__ADS_1
Untungnya, di restoran tidak ada Ibu Tika, jadi Sora tidak terlalu kaku untuk menceritakan keadaan sekarang yang dihadapinya.
“Aku mau dijodohin tahu, “ ungkap Sora setelah makanan pesanannya tiba. Sontak membuat mata Zaenal membesar,
“Sama siapa ? Udah ketemu sama cowoknya? “ sambil terbatuk-batuk karena tersedak.
“Belum, dan mereka cuman bilang bakalan ada pertemuan dengan cowok itu, kalau aku masih belum cowok aku sendiri, bakal langsung omongin tentang pernikahan. Kalau memang ada. Tapi kan kenyataan gak ada... aku jomblo” Rengeknya terlihat sangat frustasi.
“Yaudah, kamu bilang aja minta waktu. Kamu sambil pikiran jalan keluarnya. “ nasihatnya.
Diapun meminta agar merahasiakan ini dari siapapun, bahkan dari Risa. Zaenal mengiyakan, entah kenapa dia merasa bangga wanita pujaannya ini mempercayainya dengan rahasianya itu. Tidak bisa dipungkiri, diapun berharap kalau dialah lelaki yang bakalan Sora kenalkan pada orangtuanya.
Tiba-tiba pintu terbuka, dan terlihat Maru. Sedikit berantakan, tanpa basa-basi dengan sekali melirik dia langsung menuju meja yang ditempati mereka berdua dan duduk dikursi. Zaenal dan Sora terheran-heran melihat Maru yang seperti itu. Sora langsung mencondongkan wajahnya ke wajah Maru sedikit. Apa dia mabuk lagi pikirnya. Tapi tak tercium bau alkohol.
“Haus,,, minum minum... Itu jus jus... Jus apa aja” pintanya memegang tenggorokan keringnya.
Tak menunggu lama pelayan memberinya jus jeruk. Dia langsung menenggak minumannya. Apaan sih, keduanya masih heran.
“Gue gak bisa cerita, jadi jangan tanya. “ pintanya.
Keduanya langsung saling menatap dan Sora membuat gerakan tangan yang artinya ”gila”.
Zaenal melihat kedapur karena ada kegaduhan disana. Tepat saat itu, lelaki yang katanya calon suaminya mengirim pesan.
Hai, nama saya Hengki. Salam kenal.
Saya harap kita bisa saling menyapa sebelum pertemuan keluarga kita dilaksanakan.
Maru tanpa sengaja melihat isi pesan itu dan langsung terbelak kearah gadis yang cemberut itu. Gadis itu langsung pamit pulang.
__ADS_1