
Bangun dipagi hari seperti biasa. Namun hari Maru merasa ada yang aneh, kenapa masih sepi?
Ternyata Sora masih terlelap, ia kesiangan dan belum membuat sarapan. Maru membangunkan istrinya dengan lembut. Bertanya apa dia libur kerja hari ini.
Sora terperanjat kaget, bodoh dia kenapa biasa kesiangan. Dia mencuci wajah dan mulai menyiapkan sarapan, namun perutnya kembali meronta-ronta seolah ada makhluk yang ingin keluar.
Dia kembali ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya, makanan yang dimakannya semalam tak ada gunanya. Maru kembali menepuk-nepuk pundak dan punggungnya.
“Lo beneran gak apa-apa?”
Menarik nafas dalam “ hhm.. gak apa-apa, tinggal minum teh madu aja kayaknya baikan deh.” Jawabnya, karena udah telat banget dia tidak meneruskan membuat sarapan. Meminta maaf dan langsung pergi kerja. Begitupun Maru.
Maru terus sesekali memperhatikan wajah Sora yang begitu pucat. Dia sangat khawatir, ingin rasanya membawanya ke rumah sakit tapi istrinya bersikeras langsung ketempat kerja karena sedang sibuk-sibuknya.
Setiba ditempat kerja wajah Sora menjadi pusat perhatian pegawai. Karena begitu pucat pasi, setelah mereka mendengar penjelasan Sora mereka semakin khawatir.
“Coba di tes, siapa tahu positif?” Saran pemilik toko
Sora heran dengan mengerutkan dahinya
“Siapa tahu kamu hamil..” dengan sumringah
Sora hanya tertawa, tawa yang dipaksakan.
Dia tetap beranggapan kalau dia masuk angin, karena akhir-akhir ini cuaca tidak menentu.
Jam makan siang, Sora meminta Zaenal untuk meluangkan waktu. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan, dan memutuskan untuk berbicara di restorannya setelah pulang kerja. Ternyata restoran itu tutup lebih awal, karena makanan disana semuanya sold out. Sekitar jam 8 Sora menuju restorannya.
“Oohh... kamu masih pake baju kerja?” tanya Zaenal menelaah pakaian yang dikenakan Sora.
“mmm.. toko sibuk banget akhir-akhir ini, jadi lembur deh. Lumayan lah, ada tambahan. Makannya tadi abis tutup langsung kesini gak ganti baju dulu. Udah abis semuanya (makanan)?” mata berbinar plus kecewa.
“Yya.. begitulah... kamu pucat banget sih. Periksa aja gih.” Tidak terdengar seperti saran, lebih ke perintah.
“Gak apa-apa. yaahh.. makanannya abis di sini.” Cemberut.
“Mau makan apa? Beli diluar aja.” Memakai jaketnya bersiap keluar.
“Pengen martabak.. tuh yang disebrang.” Sambil menunjuk
__ADS_1
“okay, kamu tunggu sini ya...” bergegas.
Sora menunggunya dengan sedikit gugup. Dia berulang kali menutup matanya. Hingga tiba Zaenal dengan martabaknya. Tanpa pikir panjang ia langsung menyantapnya begitu lahap. Zaenal hanya tersenyum, meras lucu. Bagaimana bisa martabak itu bisa masuk semua ke perutnya.
“Jadi kamu mau ngomong apa?” Zaenal memulai.
Sora Menelan martabaknya dan minum sedikit air.
“Bisa gak kita lupain kejadian itu?” menarik nafas “Kita anggap aja itu gak pernah terjadi... kita..”
“Gak bisa.” Wajah Zaenal sedikit kesal
“Aku gak mau pertemanan kita kayak gini, saling menjauh..” Sora merajuk.
“Aku gak pernah menjauh dari kamu, mungkin kamu yang terus menghindar dari aku. Iya kan?” sedikit melembutkan nada bicaranya.
Sora terdiam sejenak.
“Kamu dateng ke mall tiap hari?” tanyanya,
Anggukan Zaenal membuat Sora menghentikan sejenak pembicaraan mereka.
Senyum getir..” Apa hebatnya suami kamu? Dia bener-bener bisa mematahkan prinsip kamu yang tidak mau menikah, sampai kamu menikah. Dan sekarang kamu mulai mencintai dia.” Terus memandang wajah Sora.
“Aku...gak tahu.” Sora mwnundukan wajahnya dengan rasa bersalah
“Kamu tahu gak, Maru.. Maria...” dia tidak sanggup mengatakan kenyataan yang hanya akan membuat Sora kecewa.
“Tahu, aku tahu semuanya. Ternyata kamu juga tahu. Aku bodoh kan?” senyuman sendu tampak dari wajah Sora.
“Kamu tahu? Dari kapan? Terus kenapa kamu terus bertahan?” semakin menggebu-gebu.
“Kamu tahu dia begitupun, kamu tetep pilih dia?”
“Aku gak pernah bilang kalau aku pilih dia. Aku cuma pengen kita kembali seperti dulu lagi, gak usah ngomongin perasaan cinta... kita...”
“Kamu memandang Maru sebagai laki-laki, dan hanya memandangku sebagi keluarga, bahkan hanya teman?” menatap tajam Sora...
Beranjak dari kursinya, menghampiri Sora yang berada didepannya. Zaenal memeluk Sora, mengangkatnya menjadi posisi berdiri dan menciumi bibirnya dengan paksa.
__ADS_1
Wanita tidak punya keseimbangan sehingga tubuhnya dengan mudah Ia angkat melangkah menuju tempat peristirahatan para karyawan... Sora mendorong Zaeanal... matanya terbelak seakan keluar bola mata cokelatnya itu. Tanpa sadar, plakkk... dia menampar Zaenal... dan langsung menutup mulutnya. Zaenal langsung melangkah mundur menjauhi Sora, dia berdiri sekolah menunggu sesuatu.
~
Maru kembali menggerutu karena istrinya sudah pulang tanpa memberi kabar. Di perjalanan sekitar restoran Zaenal ia melihat laki-laki itu membeli martabak dengan terus tersenyum dan melihat kearah restorannya. Merasa tidak enak ia langsung menepikan mobilnya.
Terlihat oelhnya wanita tengah duduk di bawah lampu yang tidak begitu terang. Ya.. tidak terang karena sudah tutup, lampu utama sudah dimatikan. Perawakan wanita yang tidak begitu asing, Maru langsung tahu itu siapa.
“Baru ngasih surat cerai kemaren, udah langsung berani terang-terangan...” berburuk sangka.
Sekitar hampir satu jam melihat mereka berdua, jalanan semakin menjadi sepi. Kenapa masih belum selesai, ngomongin apa sih?
Dengan mata membelak, terlihat olehnya Zaenal yang beranjak dari kursinya menghampiri istrinya. Laki-laki itu mencium bibir istrinya, mengangkatnya dan membuatnya melangkah ke sebuah ruangan.
Sialan... apa-apaan mereka... brengs*k...
Berlari sekuat tenaga, membuka pintu restoran dengan kasar. Matanya langsung tertuju ke ruangan yang dimana kini keduanya berada. Mendorong pintu yang sedikit terbuka,..
BRAAKKK...
Matanya tertuju kearah istrinya, yang sedang menutup mulutnya. Beralih kearah Zaenal yang berada didepan istrinya dengan jarak yang cukup jauh, tatapan yang tajam mengisyaratkan amarahnya.
Tak pikir lama, dia melayangkan tinju sehingga Zaenal terpental cukup jauh.
Sora berteriak, dia menangis. Terkejut dengan apa yang sedang terjadi didepannya.
Masih dalam keadaan menangis Sora ditarik paksa keluar oleh suaminya. Ditariknya sampai menyuruhnya masuk ke dalam mobil, menutup pintu dengan sangat keras. Yang membuat Sora sedikit ketakutan.
Dia berlari kecil menuju kursi supir. Hanya ada keheningan didalam mobil itu, dengan wanita yang terus menerawang gelapnya malam melalui jendela, air matanya terus turun deras bagaikan hujan.
Tiba dirumah Sora langsung turun dari mobil, berjalan dengan langkah kaki yang cepat. Membuka pintu utama, tanpa lirik kanan kiri dia langsung menuju kamarnya. Ditahan pintunya oleh suaminya agar tidak tertutup. Berniat untuk membicarakan hal yang terjadi, namun Sora langsung mendorong dengan tangannya, menutup pintu dengan sangat keras, menguncinya dari dalam.
Maru hanya berdiri didepan pintu, matanya sedikit memerah. Amarah telah menguasainya.
Tanpa membersihkan dirinya, Sora langsung melemparkan diri keatas ranjang. Menangis segukkan. Sampai terdengar oleh suaminya yang masih ada di depan pintu kamarnya. Kenapa suaminya ini bersikap seperti itu lagi. Apa dia cemburu? Kenapa harus cemburu? Toh mereka akan bercerai.
Sikap Maru yang terus berubah terus membuatnya bimbang. Ada kalanya dia ingin melepasnya, namun terkadang ia serakah, karena ingin memilikinya. Dia terus Menangis sampai tertidur.
Sebegitu kecewanya dia? Mengapa kecewa? Kecewa tidak jadi melakukannya? Atau kecewa karena aku memukulnya? Itu kan seharusnya, dia masih istriku. Wajar aku marah. Karena dia istriku. Wajar... wajar... apa aku cemburu?
__ADS_1