
Keenam orang yang ada disana kini makan hidangannya dan berbincang ria. Namun, keceriaan diwajah mereka sedikit hilang. Terutama keceriaan Sora yang benar-benar sirna. Bagaimana tidak, kini berdiri tegak seorang wanita yang begitu dia benci di hadapan mereka. Maria.
Tanpa ada rasa malu, Maria langsung mengambil kursi dan mendudukinya tepat disebelah Maru yang kini duduk di depan Langit. Seketika suasana menjadi hening dan canggung. Sora melirik jam yang menghiasi dinding. Ia memulai menghilangkan keheningan yang ada.
“Udah hampir malem. Aku pulang aja deh. Ayo Langit, kita pulang.” Ajak Sora.
“Kenapa gak nginep disini aja si Sora. Udah mau malem juga.” Saran Risa.
“Iya bener. Kamu nginep aja dulu. Biar besok aku anterin pulang.” Maru meyakinkan Sora.
“Gak usah. Aku pulang sama Langit aja. Lagian kamu capek bolak-balik terus.” Sora tersenyum hangat.
“Tapi aku kan udah janji. Aku yang bakal anterin kamu pulang.” Nada bicara Maru menjadi sedikit tidak bersahabat.
“Gak apa-apa. Biar Sora bareng sama saya aja. Toh kita tetangga ini.” Ujar Langit.
Suasana sedikit menjadi canggung karena Maru yang kini terlihat sedikit uring-uringan. Namun semua yang ada disana tetap mencoba untuk mencairkan suasana. Baru beberapa saat suasana menjadi hangat, kehadiran wanita yang tidak diharapkan untuk hadir merubah suasana menjadi canggung kembali. Bahkan bisa dibilang suasana menjadi tegang.
Maria. Wanita ini tiba-tiba datang ke restoran Zaenal. Tanpa permisi dan juga tanpa ada rasa malu dia mengambil kursi kosong dari meja lain dan mendudukinya tepat disebelah Maru yang duduk berhadapan dengan Langit.
“Lo ngapain kesini?” Tanya Risa lugas.
“Tenang, aku kesini cuman mau ketemu sama Sora.” Maria menjawab dengan tenang menatap mata Sora.
__ADS_1
“Tahu dari mana lo Sora disini?” Rendi tak kalah lugas.
Maria menunjukkan laman sosial media Risa dimana ada foto Sora dan yang lainnya tersenyum kearah kamera.
“Ups... sorry... sorry!” Risa menunduk sembari menyeringit. “Lagian lo kenapa masih bisa liat sosial media gue sih. Perasaan udah gue block semua yang berkaitan ama lo.” Lanjut Risa dengan jengkel.
“Aku bikin akun lagi.” Maria mengangkat bahunya.
“Apa kabar Sora?” Lanjut Maria sembari tetap menatap jauh mata Sora.
Kini mata keduanya bertemu.
“Baik. Gimana kabar kamu? Baik?”
Sora mengumpulkan keberaniannya untuk menatap balik mata yang sedari tadi menyorotinya. Dia berusaha untuk tidak runtuh, berusaha untuk tidak menangis berusaha untuk tidak marah. Senyuman hangat yang dia pancarkan. Hanya Sora yang tersenyum, orang-orang selain dirinya tidak ada yang tersenyum. Terutama Maru yang terlihat begitu tegang, gelisah.
Sora tidak memberikan jawaban apapun, ia hanya tersenyum. Senyum yang dipaksakan.
“Selama kamu pergi, aku yang harus membantu Maru untuk menghadapi kekacauan hidup dia.” Dengan lantang suaranya masuk ke setiap pasang telinga.
“Harusnya kamu gak usah pergi. Harusnya kamu hadapi semua ini bersama-sama, bukan malah melarikan diri.”
Risa yang mendengar dibuat gerah oleh gelagat wanita yang dia bilang wanita sialan itu.
__ADS_1
“Lo pikir siapa yang udah bikin semua kekacauan ini... gak tahu malu banget anjir.” Risa mewakili Sora yang hanya terdiam mendengarkan ocehannya.
Namun Maria tetap tidak tertarik kepada Risa. Ia tetap fokus pada Sora.
“Kamu pikir kamu doang disini yang terluka. Kamu pikir kamu doang yang merasa jadi korban...”
Kata-kata Maria terhenti karena Maru menarik tangan Maria dengan paksa.
“Kamu apa-apaan siih. Stop.. kamu jangan...” Maru mulai marah.
Namun Maria dengan berani menepis Maru dan beranjak kearah Sora.
Maru terus mencegah Maria agar tidak mendekati Sora, lagi-lagi Maria menepis tangan Maru. Tepisan kali ini lebih bringas, sehingga ia tidak sengaja menyenggol pelayan yang tengah membawa masakan berkuah yang masih panas. Alhasil kuah panas tumpah mengenai Sora, Langit, Maru dan juga dirinya sendiri.
Semua panik. Langit dan Maru segera membawa Sora ke westafel untuk mendinginkan tangannya.
Melihat itu, semakin membuat Maria merasa kesal.
“Bisa kita bicara empat mata? Disini agak tidak tenang.” Ajak Maria kepada Sora.
Untuk beberapa saat Sora terdiam. Pada akhirnya dia menganggukan kepalanya tanda setuju. Meskipun orang-orang disana mencoba melarang Sora untuk menerima ajakannya itu.
Bukan karena apa, mereka khawatir kalau wanita itu kembali nekat melakukan hal-hal yang tidak masuk akal seperti dua tahun silam yang menyebabkan Sora kehilangan bayinya.
__ADS_1
Maria beranjak keluar restoran diikuti oleh Sora. Tentunya Maru mengikuti keduanya, karena dia terus merasa tidak tenang. Bahkan Maru menarik tangan Sora agar tidak mengikuti Maria dan menyuruhnya untuk masuk kedalam mobil Maru.
Maria yang melihat itu, lantas ia memasuki mobil Maru. Ia duduk di kursi kemudi, berada tepat disebelah Sora yang duduk di kursi penumpang depan. Maru panik, ia mencoba untuk membuka pintu mobilnya dan menyuruh Maria keluar. Tapi pintu sudah dalam keadaan terkunci dari dalam. Maru terus menerus memanggil nama kedua wanita yang kini berada didalam mobilnya.