Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
27. Kehamilan I


__ADS_3

Sora terbangun dengan mata yang masih sembab. Segera ia membersihkan dirinya dengan air pagi hari yang membuatnya sedikit merasa segar bugar.


Sora merasa akhir-akhir ini badannya selalu teras lelah dan lesu, dia membuat teh lemon. Menenggak minumannya dengan nikmat. Namun, perutnya menolak dan mulai memuntahkan isi perutnya kembali.


Hhuueekkk... dia mengeluarkan semua isi perutnya sampai air matanya keluar tanpa dia sadari.


Maru mendengarnya, bergegas kekamar mandi. Menepuk-nepuk punggungnya...


“Mending kita ke rumah sakit yu?” ajaknya.


Hanya gelengan kepala, jawaban yang didapat.


Huueekkk.... wanita itu terus memuntahkan isi perutnya. Dengan sabar Maru tetap menemaninya. Dia sedikit bersalah, apa mungkin karena kejadian tadi malam, perasaan sakitnya semakin menjadi.


Setelah merasa baikan, wanita itu langsung menepis tangan Maru. Segera berdiri. Seraya berkata


“Maaf, kayaknya aku gak bisa bikin sarapan.” Berjalan kembali ke kamarnya, melewati Maru yang masih dalam posisi jongkok.


Dia membaringkan tubuhnya sendiri diranjangnya, lalu ia meminta izin libur sakit dengan menelpon atasannya, tubunhya tidak kuat.


Maru membawakannya air hangat. Membujuknya untuk periksa ke rumah sakit. Lagi-lagi ditolak, malah dia diusir keluar dari kamar oleh istrinya.


“Lu kesel banget ama gue apa? Kenapa lo jadi cuek banget. Gue cuman khawatir doang.” sedikit kecewa.


“Kamu juga kesel kan sama aku? kenapa coba kamu kesel sama aku?” tak mau kalah menjawab dengan sekuat tenaga agar terlihat tegar.

__ADS_1


“Kalo lo kecewa sama apa yang gue lakuin tadi malam, gue bisa jelasin. Lo istri gue kan..” tegasnya.


“Toh kita mau cerai ini. Kenapa kamu ikut campur urusan aku.” Timpalnya dengan nada benar-benar tidak bersahabat.


Sejenak Maru terdiam, benar juga apa katanya. Kenapa aku harus kesal. Tapi entah kenapa, melihat kejadian itu benar-benar membuatku marah dan kecewa.


“ Pokoknya lo harus inget ya, kita belum cerai, lu masih...”


“Aku pengen tidur lagi, tolong keluar. Aku gak mau denger apa-apa lagi!” menyanggah ucapan Maru, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Tanpa menyelesaikan kata-kata, dia keluar dengan sedikit kesal.


Bersiap untuk berangkat kerja, tak lupa dia membuat sarapan seadanya, untuksarapan dirinya sendiri dan juga untuk istrinya. Dia membuat roti dan telur dan juga sedikit lalapan. Sandwich seadanya, itu yang dia siapkan.


“Lo makan ini dulu aja ya..gue simpen disini. Nanti siang gue pulang lagi bawa makan siang. Lo mau makan apa?” Sambil menyimpan sandwich ala kadarnya di meja yang berada disamping ranjang tempat istrinya berbaring.


Maru hanya menarik nafas, dan bergegas meninggalkannya.


Setelah terpejam dengan singkatnya, tubuhnya sedikit terasa lebih baik, Sora membuka laci dan mengeluarkan lembar kertas. Ya, surat percerain. Dia membaca surat cerainya, dan menandatangani diatas materai. Dia menyetujui perceraian secara baik-baik dari kedua belah pihak ini, dia menandatangani tanpa ada ekpresi.


Diletakkan kembali kedalam laci, matanya tertuju pada bungkusan biru, stok pembalutnya masih penuh. Beralih ke kalender, menghitung dengan jarinya yang kurus nan indah.


“10 hari, telat 10 hari. Gak mungkin, .. telat udah biasa.. tapi...” menggigit bibir bawahnya. Perkataan bosnya terngiang-ngiang. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia beranjak mengambil kunci motor dan mengendarainya ke apotek.


Di toilet, dia menunggu dengan mata tertutup. Hatinya berdebar. Dia terus memainkan kukunya...

__ADS_1


Dengan berani dia membuka matanya, terlihat dua garis. Dia membaca kembali petunjuk cara penggunaannya.


Sedikit tidak percaya, berdiam diri sejenak. Kemudian dia bergegas kembali ke apotek..... Mungkin karena murah, batinnya. Ia kembali membeli empat testpack, dengan berbagai macam merek, mulai dari yang termurah sampai yang paling mahal. Apoteker disana hanya melayani dengan tatapan heran.


Kembali kerumah, dia menggunakan semua testpack itu bersamaan. Kembali menutup mata, setia menunggu. Perlahan matanya terbuka, terlihat hasil dari testpack yang menjajar. POSITIF. Semua testpack menunjukkan hasil bahwa dirinya tengah hamil.


Tubunhya bergetar, jantungnya berdebar dengan kencang, semua badannya terasa sangat lemas. Air matanya mulai keluar... dia menangis cukup lama memandangi kelima testpack itu.


"Menangis ... sudah sewajarnya. Tapi aku tak tahu alasan aku menangis. Tangisan ini entah tangisan bahagia atau justru tangisan kecewa.


Bahagia, pastinya. Hatiku terasa damai, ingin rasanya mengumumkan kepada dunia kalau aku hamil. Aku akan menjadi seorang Ibu.


Tapi aku juga merasa takut, kenapa sekarang. Apa aku siap jadi seorang Ibu? Dengan kondisiku yang sekarang? Sebentar lagi aku akan cerai. Bisakah aku bertahan? Apa yang harus aku katakan pada Maru? " Hatinya begitu gundah gulana.


Dia kembali melamun dengan kondisi duduk dibawah kloset, bersandar ke dinding.


"Bisa, aku pasti bisa. Sendiripun aku pasti bisa. Semuanya harus segera diselesaikan. Agar hidupku lebih damai." bermonolog sendiri.


Dia mengelus perutnya yang masih rata itu. Dan membulatkan tekadnya. Dia telah memutuskan apa yang harus dilakukannya.


Malam hari, Sora menyerahkan surat cerai yang telah ditandatanganinya. Dan memintanya untuk segera diselesaikan. Maru yang menerima surat itu hanya menatap istrinya.


“Gimana? Udah baikan?” Tanyanya khawatir.


“Mm.. lumayan. Tenang aja.” Jawabnya dengan lembut.

__ADS_1


Maru merasa dengan nada bicaranya yang seperti biasa telah kembali, mungkin dirinya sudah merasa lebih baik. Syukurlah.


__ADS_2