
Maria yang mendengar dan menyaksikan sendiri pertengkaran kecil antara Sora dan Maru dipagi hari dari balik pintu, hanya bisa menghempaskan nafasnya dengan kasar. Maria pun mengerti, memang seharusnya Maru bersikap seperti itu dan berpikir untuk menolak kembali semua tawaran Sora. Tapi, entah kenapa, Maria ingin sekali melakukan apa yang hatinya inginkan.
Sora memandangi mobil suaminya yang sudah berlalu meninggalkan pekarangan. Sora berulang kali menghubunginya dengan melakukan panggilan telpon, namun Maru tidak menjawabnya sama sekali. Kali ini, Maru benar-benar sudah kehabisan kesabaran. Maru sendiripun tidak tahu tempat tujuan yang ingin ia tuju, dia hanya menjalankan kendaraannya tanpa arah.
Maru mengerti dengan keinginan Sora yang sangat mendambakan kehadiran buah hati dalam hidupnya dan dalam rumah tangga yang bersama dirinya. Namun, sikap Sora yang sangat egois benar-benar membuatnya emosi. Kenapa lagi-lagi harus Maria. Maru merasa seperti keadaan yang berputar balik. Memang kali ini hanya ada Sora yang ada dalam hatinya, hanya saja, Maru ingin bersikap hati-hati untuk kedua wanita yang kembali menghantui hari-harinya.
Tanpa Maru sadari, dirinya telah sampai dikota yang ia tinggalkan. Lebih tepatnya, dia sampai di halaman rumah orangtuanya. Karena emosi dan lamunan yang melandanya, dia tidak sadar telah berkendara selama kurang lebih hampir empat jam. Maru turun dari mobilnya, dia masuk kedalam rumahnya. Dan tentu Mama Maya menyambutnya dengan senyum yang sangat sumringah.
“Anak Mama pulang... mana menantu Mama?” Mama Maya memeluk anak bungsunya itu.
“Gak ikut, aku doang Ma..” Maru membalas pelukan Mamanya.
“Lho.. kok gak ikut. Kenapa? Terus, kamu kesini mau ngapain? Sendiri?” Mama Maya heran, karena biasanya anaknya itu selalu menempel pada istrinya.
“Gak boleh apa aku kesini? Aku anak Mama kan? Sora mulu yang ditanyain..” Maru sedikit lesal.
Mama Maya menyadari dari ekspresi wajah anaknya dan juga cara bicaranya yang tidak bersahabat.
__ADS_1
“Sayang... kalau ada masalah... jangan pergi gitu aja. Diomingin bener-bener sama istri kamu. Kasihan kan, kalau kamu tinggalin dia sendiri.” Mama Maya langsung menasehati anaknya itu.
“Kita berdua butuh sendiri dulu Ma... lagian, dia juga gak sendiri.” Maru berlalu menuju kamarnya yang memang Mama Maya tidak rubah sedikitpun.
Maru mengecek handphonenya yang sedari tadi dia matikan. Banyak panggilan dari Sora dan juga pesan. Pesan yabg menanyakan keberadaan dirinya, dan bujukan Sora untuk berbicara baik-baik. Maru membuang nafasnya dengan enggan. Dia mengabaikan semua pesan yang Sora kirimkan untuknya.
Maru kembali meninggalkan rumah, dan berpamitan kepada Mama Maya.
“Mau kemana lagi kamu? Baru juga sampe?” Mama Maya bertanya seraya memasak untuk makan siang.
“Aku mau ketemu teman aku dulu Ma..” Suara Maru semakin hilang karena dia berbicara sambil keluar.
Maru memasuki restoran dan langsung disambut oleh sang pemilik restoran tersebut.
“Tumben... ngapain kesini? Mana Sora?” Tanya Zaenal sambil matanya mencari sosok sahabatnya itu.
“Nyebelin banget. Semuanya yang ditanya Sora mulu.” Tanpa dipersilakan, Maru duduk di kursi kosong.
__ADS_1
“Kenapa lo berdua? Berantem?” Zaenal heran, untuk pertama kalinya mendengar Maru kesal tentang istrinya itu.
“Gue mau minta tolong sama lo. Gue kira cuman lo yang bisa bujuk dia.” Maru menatap Zaenal dengan sangat intens.
“Jangan liatin gue kayak gitu. Jijik gue.” Zaenal sedikit mencairkan suasana.
Marupun menceritakan semuanya. Menceritakan semua keinginan, lebih tepatnya keputusan egois Sora tentang Maria. Zaenal yang mendengarpun ikut terperangah, dan tidak mengerti maksud dari apa yang Sora lakukan.
“Lo tanya bener-bener, jangan pake emosi. Jangan tinggalin dia sendiri. Gak kasian apa lo?” Zaenal tetap bersikap tenang.
“Gue udah sesek banget sama Sora kali ini, selama ini gue selalu turutin apa yang dia pengen. Tapi, kali ini gue bener-bener gak mau dan gak setuju.” Maru dengan tegas membeberkan unek-uneknya pada mantan rivalnya(?) itu.
Di rumah sana, Sora masih menunggu suaminya. Menunggu balasan dari suaminyapun tidak dia dapatkan. Sora tahu, semua tindakannya akan mendapat respon yang seperti ini. Tapi, entah kenapa Sora tetap ingin melanjutkannya.
Sampai sore hingga malampun, masih tidak tampak batang hidung suaminya itu. Untuk pertama kalinya dalam rumah tangganya yang keduanya bumbui dengan cinta, Maru tidak pulang.
Sora dengan sadar meneteskan air matanya. Ia merasa sakit, ia juga merasa bersalah kepada Maru dan juga Maria. Sora menahan nafasnya, tiba-tiba terdengar suara bel yang menggema. Dia segera membuka pintu berharap suaminya yang datang. Harapannya sirna, Maria yang mendatanginya.
__ADS_1
"Aku pikir, aku lebih baik gak tinggal di sini deh. Aku pergi aja. Tapi, aku janji kok. Kalau aku bayi aku udah lahir, pasti akan jadi anak kalian berdua." Maria berpamitan dengan tas dan koper yang berada di belakang tubuhnya.
"Jangan sekarang Maria. Ini udah malem, besok aja." Sora kembali menahan Maria yang memang hari sudah sangat gelap.