Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
19. Selalu Tertinggal Selangkah


__ADS_3

Perasaanku sangat tidak enak. Kenapa Sora tidak membalas pesanku. Apa mereka bertengkar?


Pasti mereka bertengkar,, apalagi tadi siang Maru sedikit menyebalkan. Akan ku pastikan kalau Sora baik-baik saja.


Zaenal gundah gulana yang tiba-tiba mengkhawatirkan Sora.


Ia memutuskan putuskan menekan tombol panggil, Zaenal meneleponnya untuk memastikan apa dia baik-baik saja.


Beberapa saat nada sambung masih terdengar, dan akhirnya dia mengangkat panggilan telponnya.


Zaenal terus memanggil namanya tapi tidak ada respon, namun terdengar sayup-sayup suara wanita itu. Dia merintih.


Apa mereka berdua bertengkar besar, atau laki-laki itu bermain fisik kepada wanitaku.?


Dia jadi panik, dan mulai meraih kunci mobil.


Karena sangat khawatir, ia memantapkan untuk akan datang mendatangi mereka. Dengan menaiki mobilnya masih dengan telpon ditelinganya. Padahal keadaannyapun sedang tidak baik-baik saja.


“Aaahh.. sakit.. sakit banget.”


Terdengar suara wanita menjerit kesakitan dengan keras, terdengar nafas pria yang begitu berat. Dan kembali terdengar rintihan wanita.


Zaenal mencerna apa yang sedang terjadi, karena wanita ini masih tetap tidak merespon meskipun namanya dipanggil.

__ADS_1


Dan ketika akan menyalakan mesin mobil, kembali terdengar suara berat laki-laki


“Sorry, gue gak tahu ini yang pertama kalinya buat lo.”


Percakapan itu terdengar dengan suara yang begitu terengah-engah. Zaenal mulai sadar. Mulai sadar apa yang sedang terjadi dengan mereka.


Amarah keluar berapi-api, kenapa? Kenapa?


Amarah pria ini semakin memuncak ketika dia mendengar suara ******* wanita yang sangat dicintainya itu.


Zaenal langsung mematikan panggilannya. Dan tanpa sadar dia langsung menajab gas menuju arah rumah suami istri itu.


Dengan masih bercucuran air mata, dia sampai didepan rumahnya. Terlihat olehnya lampu kamar yang tidak begitu terang dimatikan.


Dia kembali melajukan mobilnya, kini dia menuju restoran yang sudah berhari-hari tutup. Dan mulai melempar barang-barang yang ada di sekitarnya. Serpihan dari pecahan barang yang dilemparnya berserakan. Dia menggenggam serpihan pecahan itu. Darah mulai bercucuran dari tangannya. Air matanya tidak berhenti mengalir.


Keesokan harinya. Keduanya, Maru dan Sora terbangun karena suara alarm dari handphone Sora. Mereka bangun dalam keadaan masih berpelukan. Sora langsung terbangun duduk masih diatas kasur. Betapa kagetnya karena selimutnya melorot, dan ternyata dia masih dalam keadaan tanpa busana.


Suaminya juga ternyata melihatnya, dan mulai menelan ludah. Terlihat tanda merah di berbagai lekukan tubunhya. Dengan kulitnya yang putih warna merah itu semakin terlihat dengan jelas.


Marupun ikut beranjak duduk. Dan keduanya mulai mencari pakaian mereka. Setidaknya untuk menutupi apa yang tidak ingin mereka perlihatkan.


Sora paling duluan menemukan baju Maru dan langsung memakainya. Dia keluar dari selimut dan berdiri, terlihat kaos suaminya yang menjadi pakainnya saat ini terlihat seperti daster diatas lutut karena tubuh mungilnya. Dan langsung berlalu menuju pintu keluar.

__ADS_1


Maru yang melihat kulit wanita itu penuh dengan tanda merah bekas ciuman ganasnya hanya bisa menelan ludah kembali. Istrinya itu berlalu keluar dengan langkah yang sedikit mengangkang.


Maru sedikit merasa bersalah. Akhirnya dia mulai mencari sesuatu yang bisa ia kenakan dengan mengibas-ngibas selimutnya. Terlihat noda darah di seprainya, dan tampak juga pakaian dalam istrinya yang berserakan dibawah ranjang. Dia mulai mengacak-acak rambutnya. Dia bingung harus bertingkah seperti apa.


Maru mulai berpikir, dia mencerna ucapan Sora kemarin. Benar, kenapa dia mulai mencampuri urusannya. Terlebih tentang hubungannya dengan Zaenal. Tidak tahu apa alasannya, kedekatan Sora dan Zaenal yang memang dari dulu seperti itu, mulai mengganggu pikirannya. Apa dia mulai menyukainya? Gak mungkin, wanita yang ada dihatinya hanya Maria seorang.


Kemudian Maru melangkah menuju dapur dengan hanya mengenakan pakaian bagian bawahnya dengan masih bertelanjang dada, untuk meminum segelas air. Dia mulai merasa gelisah, bagaimana harus menghadapi Sora. Dia melihat dapur masih dalam keadaan sama seperti kemarin sore. Matanya tertuju ke bungkusan obat herbalnya. Matanya terbelak dan segera membuka kulkas. “Mamah...” gumamnya.


Ternyata dia salah menenggak obat. Buka obat herbal yang biasa dia minum, melainkan obat kuat dengan sedikit perangsang yang dia minum. Pantes aja kemaren tubuhnya begitu bersemangat.


Wwaahh.... luar biasa


Dengan masih memegang bungkusan yang katanya obat herbal itu.


💙


Permisi...


Mohon dukungannya.


Saya baru dalam dunia menulis.


🙏🙏💙

__ADS_1


__ADS_2