
Setelah satu infus yang terpasang dilengan Sora habis, Sora diizinkan untuk pulang. Tentu dengan berbagai macam obat yang telah di resepkan oleh Dokter.
Maru membersihkan tubuhnya terlebih dahulu dan juga mempersiapkan untuk Sora yang ingin membersihkan tubuhnya juga.
Sembari menunggu Sora membersihkan tubuhnya, Maru menyiapkan makan malam untuk ia santap bersama Sora. Maru menata masakannya diatas meja makan. Disela-sela kegiatannya itu, mata Maru sekilas melihat Maria yang berada di meja makan bangunan sebrang. Dia kembali mengingat ucapan dan cara memperlakukan Maria tadi siang, dia sedikit merasa bersalah.
Sora tiba di meja makan. Matanya berbinar melihat masakan yang telah suaminya siapkan itu.
"Wwahh.. Makasih ya sayang... Gak nyangka aku, sekarang kamu benar-benar bisa masak. Lemari kita juga gak acak-acakan lagi." Sora tersenyum tulus menatap suaminya yang ikut duduk.
"Iya dong, anggap aja aku di training selama dua tahun sama kamu. Aku di training hidup sendiri tanpa kamu selama dua tahun." Maru ikut tersenyum sembari menyiapkan makanannya kedalam piring untuk istrinya itu.
"Makasih... ada untungnya juga ternyata." Sora tertawa dengan candaan suaminya itu.
Setelah selesai menyantap hidangan yang disiapkan oleh Maru, keduanya menyempatkan diri untuk membicarakan perihal keadaan Sora yang tiba-tiba ambruk.
"Sayang, kamu jujur sama aku. Kamu tuh kenapa? Tiba-tiba kamu pingsan gitu." Maru masih penasaran dengan Sora.
"Maafin aku, udah bikin kamu khawatir. Aku gak apa-apa kok. Benar apa kata Dokter, aku cuman kelelahan doang. Percaya deh sama aku." Sora meyakinkan suaminya dengan menggenggam tangan Maru.
"Kamu kelelahan, okay. Terus kamu stress kenapa? Kamu mikirin apa sih sayang?" Maru menatap tenang mata Sora.
__ADS_1
Sora hanya bisa menghela nafasnya dengan sedikit kasar.
"Maafin aku..." Tiba-tiba Sora menitikkan air matanya.
Maru yang melihat mata istrinya berdiri, langsung berpindah tempat duduk. Ia kini duduk di sebelah istrinya, menggenggam tangan Sora dan membawa Sora kedalam pelukannya, Sora bersandar di dada bidang Maru.
"Aku bener-bener gak bisa berhenti mikirin bagaimana caranya supaya aku bisa hamil. Aku pengen banget punya anak. Aku emang gak sabaran. Maafin aku sayang." Sora menatap mata Maru dengan khawatir, Sora khawatir Maru akan marah atau Maru akan merasa bersalah kepada dirinya lagi.
"Aku ngerti perasaan kamu, Sayang. Tapi kamu juga harus sayang sama tubuh kamu sendiri. Kalau kamu terus begini, tubuh kamu terus down, sama aja dong. Kamu harus sehat dulu." Maru menciumi puncak kepala Sora yang masih berada dipelukannya.
"Menjadi seorang Ibu, bukan berarti kamu harus selalu mengandung selama sembilan bulan, melahirkan, menyusui. Kita urus anak orang lainpun, selama kita menyayangi dia sebagai anak kita sendiri, kita urus dia, kuta beri dia kasih sayang, dia panggil kamu Mama, panggil aku Papa, kita udah jadi orang tua, sayang. Kamu ngerti kan maksud aku." Maru terus mencoba menenangkan Istrinya itu.
"Makannya, kita harus berusaha bersama. Kamu harus sehat. Jangan terlalu dipikirin. Kita serahkan aja semuanya kepada yang maha kuasa. Okay?"
Sora yang mendengarkan hanya menganggukan kepalanya dengan senyuman. Hati dan pikirannya sedikit melemah karena tindakan Maru.
Mata Sora menangkap sosok Maria yang tengah duduk di bangunan sebrang.
"Sayang, kamu belum minta maaf sama Maria." Sora mengingatkan Maru tentang janjinya siang tadi untuk meminta maaf kepada Maria.
"Iya, nanti aja besok. Sekarang ayo kita siap-siap untuk tidur aja. Kamu harus istirahat." Maru beranjak membereskan meja makan.
__ADS_1
"Gak sayang, harus sekarang. Jangan di nanti-nanti, biar gak ada kesalah pahaman." Sora beranjak menuju pendingin, ia mengambil buah segar dan menuntun tangan Maru, keduanya pergi menuju Maria yang tengah berada di meja makan.
Maria yang mendengar bel rumah berbunyi, segera membuka pintu utama. Maria mendapat tamu yang membawa buqh segar, pemilik guest house tempat ia menginap, yaitu Sora dan Maru. Maria mempersilakan keduanya masuk.
"Kamu gak apa-apa kan? Aku kaget banget tadi." Maria menanyakan keadaan Sora.
"Aku gak apa-apa. Aku minta maaf karena udah bikin kamu khawatir. Terima kasih juga, katanya kamu yang bawa aku ke Rumah Sakit." Sora berterima kasih dengan tulus.
Sejenak tidak ada pembicaraan diantara ketiganya. Sora menyenggol lengan Maru, memberi tanda agar suaminya itu untuk segera meminta maaf.
"Maria, maafin aku tadi. Bukan maksud aku nuduh kamu, aku hanya khawatir sama keadaan Sora." Maru dengan gentle meminta maaf.
"Gak apa-apa, aku ngerti kok. Kalau aku jadi kamu juga, aku pasti ngelakuin hal yang sama." Maria tersenyum.
"Kamu gak apa-apa kan, Maria? Kok kayaknya sekarang kamu yang keliatan lagi sakit?" Sora menyadari raut wajah Maria yang sedikit berbeda, wajah Maria sedikit lebih pucat dibandingkan dengan tadi siang ketika keduanya berjalan-jalan di pinggiran pantai.
"Gak apa-apa kok, cuman pusing aja. Tadi sih, kayaknya supir taksinya belum mahir nyetir, kayak dia ajak balapan tadi. Ampe mual sama pusing pas turun." Maria menyalahkan supir taksi yang hanya ia temui sekali itu.
"Ya udah, kamu istirahat aja. Kita juga harus pamit sekarang." Sora mengajak Maru untuk meninggalkan Maria agar ia bisa istirahat.
"Makasih, kamu juga harus istirahat Sora. Jangan berpikiran yang aneh-aneh." Maria mengantar keduanya sampai ambang pintu, Maria berdiri menatap kedua punggung yang berdekatan sampai keduanya hilang dari pandangannya.
__ADS_1