Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
91. Hamil


__ADS_3

Hari berikutnya, masih seperti biasa. Maru pergi ke kantor sederhanya untuk mengurus pekerjaannya bersama beberapa karyawannya. Sedangkan Sora, hari ini ia pergi berkunjung ke rumah Ibunya untuk melepas rindu pada keluarganya, terutama melepas rindu kepada sang keponakan yang kini telah berusia hampir empat tahun. Dan juga untuk menenangkan hati dan pikiran Sora yang akhir-akhir ini terus bergelut dengan ketidak nyamanan dan juga kekhawatiran perihal Sora yang sulit untuk mengandung.


Sora menghabiskan waktu seharian disana. Sampai siang hari berganti dengan senja, Maru datang menjemput sang istri yang tengah berada di rumah mertuanya itu. Sebelum pamit untuk pulang keduanya menyempatkan untuk makan malam bersama keluarga Sora.


Senyum dan tawa bahagia Sora kembali terpancar setelah seharian penuh dia menghabiskan waktunya bersama keponakan kecilnya itu.


Setelah melakukan ritual sebelum tidur, yaitu membersihkan tubuh keduanya dengan air segar Keduanya berabring di atas tempat tidur. Sora yang merasa rindu akan sahabat-sahabatnya yang berada di Kota, ia melakukan panggilan video. Sora berbicara bersama dengan Risa, Rendi, dan juga Zaenal, keempatnya menghiasi layar handphonenya.


Risa, Rendi, yang tidak tahu menahu tentang keberadaan Maria, membicarakan tentang kehidupan Maria. Dari mulai Maria yang tiba-tiba menghilang, sampai kabar Kepulangan orangtuanya yang baru mereka dengar juga. Sora yang sudah mengetahui semua fakta itu hanya memasang wajah bodohnya, ia pura-pura tidak tahu dan tidak perduli.


Namun, pada kenyataannya ia sangat merasa kasihan pada Maria yang kini hanya hidup sebatang kara.


Maru yang ikut mendengarkan semua celotehan teman-temannya itu hanya bisa diam dan meminta untuk tidak membicarakan tentang Maria lagi.


"Iya juga ya... ngapain kita masih ngomongin tu cewek." Risa menyadari kalau dirinya sudah terlalu banyak bicara, terutama pembicaraan tentang Maria.


"Lha... lu yang mancing.. kita cuman ngelanjutin doang." Rendi tidak mau kena semprot oleh siapapun langsung mempojokkan Risa.


"Dasar lu, bisanya nyalahin aja. Padahal sendirinya juga paling semangat ngomongin dia." Risa kembali menimpali.


Sora dan Maru yang tadinya sedikit tidak nyaman dengan pembicaraan teman-temannya sedikit lega, karena topik pembicaraan mereka telah berubah.


Setelah menutup panggilan video tersebut, Sora teringat Maria yang seharian penuh ini tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.


"Sayang, kok kita gak liat Maria sama sekali hari ini ya." Sora bertanya kepada Maru.

__ADS_1


"Mau ketemu gimana? Aku di kantor, kamu di rumah Ibu." Maru merasa heran dengan istrinya yang tiba-tiba sangat ramah kepada Maria.


"Ya kan biasanya kalau pagi dia suka keluar, cuman buat nyapa kamu pergi ke kantor." Sora memaksakan senyumannya.


"Kok kamu bisa tahu sih.. merhatiin terus ya.. cemburu


ya..." Maru menggoda Sora yang membelakkan matanya.


"Siapa yang cemburu, aku cuman khawatir sama dia. Kamu tahu sendiri, kemarin dia keliatannya pucat banget." Sora kembali mengingatnya.


"Ya.. palingan juga dia istirahat kali." Maru bersikap acuh tak acuh.


"Kamu kok jutek banget sih ngomongnya. Gimanapun dia temen kita Maru." Sora sedikit cemberut.


"Aku tuh takut, aku khawatir. Kamu kenapa sih tiba-tiba jadi lengket gitu sama Maria?" Maru tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya lagi.


"Sayang.. Sora... apa kamu gak ingat. Dulu kita terpisah karena ada dia diantara kita?" Kini Maru berani berkata dengan jujur.


"Bukan dia yang ada diantara kita. Tapi aku yang ada diantara kalian." Sora meruncingkan tatapannya.


Maru terdiam sejenak, menatap mata Sora dalam, begitupun dengan Sora.


"Intinya akau khawatir, kalau kamu terlalu dekat sama Maria. Aku takut akan ada hal buruk yang akan datang." Maru terus mengungkapkan semua kekhawatirannya.


"Kok kamu ngomongnya gitu sih, sayang. Kamu gak boleh kayak gitu, ucapan kamu tuh bisa jadi do'a tahu." Sora mengingatkan suaminya.

__ADS_1


"Bukan gitu maksudnya..." Maru sudah enggan membicarakan hal-hal tidak penting lagi, memutuskan untuk tidur. Sora yang melihat suaminya sedikit menghindari topik pembicaraan mengerti dan ikut terlelap, menutup matanya dengan memeluk Maru dari belakang.


Masih dengan aktivitasnya yang sama, Maru pergi ke kantor dengan Sora yang tetap berada di rumah. Kini Maru melarang Sora untuk bekerja, barang sedikitpun Maru benar-benar melarangnya. Mengingat kondisi Sora yang tempo hari sampai pingsan.


Sora yang merasa bosan berada di rumahnya hanya sendirian tanpa beraktivitas apapun, mencoba untuk sekedar mengajak Maria yang masih menginap mengobrol. Namun, setelah berulang kali ia menekan bel, tidak ada tanda Maria membuka pintu untuknya.


Sora berpikir Maria tengah pergi keluar, akhirnya dia kembali kerumahnya. Sampai diambang pintu hendak membuka pintu, langkahnya terhenti karena ada seorang kurir yang mengirim paket ke pekarangannya.


Sora menerima paket tersebut. Terlihat nama Maria yang tertulis pada paket tersebut.


Sora kembali menekan belnya, namun tetap tidak ada jawaban. Ia memutuskan untuk membawa paket yang Maria pesan.


Sora meletakkan sembarangan paket tersebut, Seolah-olah ia tidak peduli. Namun, rasa penasarannya mengalahkan sikap acuh tak acuhnya.


Sora membaca pesanan Maria. Tertulis nama barang yang sangat asing dan sulit di baca. Sora mencoba mencari tahu tentang nama tersebut dengan berselancar di internet.


Setelah hasilnya keluar, betapa terkejutnya Sora. Ia berualang kali menyamakan semua tulisan yang tertera.


Sora segera bangkit dari duduknya dan mencari kunci cadangan untuk bangunan yang Maria sewa. Sora membuka kunci tanpa permisi. Ia mencari Maria ke setiap sudut ruangan. Hasilnya tetap nihil.


Matanya tertuju pada benda yang sangat dia kenal. Sora mendekati dan mengamatinya.


Sora menutup mulutnya tanda dia kaget. Di tengah keterkejutannya, Sora lebih dibuat terkejut dengan kehadiran Maria yang sudah berada di belakangnya memanggil namanya.


"Sora.. kamu ngapain di sini?" Maria merasa tidak nyaman dengan kehadiran Sora yang tanpa permisi, meskipun rumah tersebut milik Sora.

__ADS_1


"Maria.. kamu dari mana? Ini..." Sora masih terkejut dengan terus memegang testpack yang bergaris dua, tanda si pengguna testpack tersebut tengah mengandung.


Maria dan Sora saling menatap, tatapan yang sangat sulit diartikan. Sora masih dengan keterkejutannya dan Maria dengan wajahnya yang masih datar.


__ADS_2