
Setelah satu bulan lebih aku dan Maria kembali menjalani hubungan sebagai pasangan kekasih. Semua berjalan dengan lancar. Sampai hari inipun, hubungan kita terbilang baik-baik saja. Bahkan sore ini, Maria mengajak untuk bertemu di restoran yang cukup terkenal yang terletak di sebelah bangunan megah mall tempat temanku Sora bekerja, bahkan Maria juga memesan tempat yang sedikit tertutup.
Aku tiba lebih awal, terlihat sosok kekasihku telah tiba. Raut wajahnya sangat jelas menunjukkan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
“Kamu, kenapa?” Mencoba untuk sedikit menenangkan.
“Aku mau kita putus!” Tanpa basa-basi, dia kembali mengulang kata-kata itu. Kembali terulang.
“Coba kamu cerita dulu apa yang terjadi, mmm.. tenangin dulu. Kamu kesel kenapa?” Karena airmata yang tiba-tiba jatuh membuatku menahan amarah.
“Intinya kita harus putus. Kali ini beneran berakhir. Jangan tanya kenapa! Jangan kejar aku, sekarang langsung pulang.”
Meskipun dia melarang aku untuk mengejarnya, mana mungkin aku untuk tidak mengejarnya. Baru tiba langsung mengeluarkan kata putus, tanpa memberikan sebuah alasan. Apa dia kecewa sama aku? Itu yang ada di benak. Tapi, apa salahku?
__ADS_1
Mengejar dan terus memanggil namanya, menahannya untuk tidak pergi bahkan meminta maaf tanpa tahu kesalahan apa yang sudah aku lakukan. Namun tidak digubrisnya, dia terus berjalan menuju taksi yang sedang berhenti di luar restoran. Kebetulan yang sangat menyebalkan.
Tanpa disadari. Tepat di belakang ada Sora yang sedang menunggu angkutan umum. Wanita itu sedari tadi memperhatikan kita.
“Berantem lagi... kejar sana. Ampe nangis gitu.” Sambil mendorong tubuhku.
Tanpa harus di beri saranpun aku langsung menyusul Maria. Menyusul ke tempat kediamannya. Pada saat itu, tampak rumah itu sangat ramai. Ada tamu. Mana mungkin aku mengganggu mereka. Siapa tahu saudaranya dari luar kota.
Ku terus berusaha mencoba menghubunginya, namun tak juga di angkat. Pesan singkatpun tak ada yang direspon.
Namun apa yang di dapat. Bukan sambutan hangat yang didapat. Orangtua nya malah meminta maaf, minta maaf agar aku segera menjauhi putrinya. Karena mereka sudah memilih lelaki yang akan menjadi suaminya. Bahkan laki-laki itu sudah mereka panggil dengan calon menantu. Laki-laki yang tadi keluar dari rumah ini bersama rombongan tamu lainnya. Yang katanya, latar belakang keluarganya lebih dariku. Yang pendidikannya jauh lebih tinggi. Yang pekerjaannya lebih dariku. Persetan dengan semua itu.
Omongan Sora salah. Ternyata cinta yang aku hadapi saat ini memandang status. Daripada dibilang status, mungkin mereka menyebutnya realistis.
__ADS_1
Kenapa? Selama ini keluarga Maria baik-baik saja. Dan juga terlihat menerimaku sebagai kekasih anaknya. Tapi sekarang kenapa? Apa semuanya hanya pura-pura? Pura-pura menerima.
Atau mereka hanya menerimaku sebagai kekasih anaknya, tapi tidak menerimaku sebagai menantunya. Ironis.
Sakit... sakit yang kurasa. Namun, aku harus bisa menghadapinya dengan kepala dingin. Harus tenang apalagi yang menyampaikan ini semua langsung orangtuanya.
Maria keluar kamar dan membawaku keluar. Dia meminta agar bisa berbicara empat mata.
“Aku Cinta sama kamu...” suara seraknya memecah keheningan sejenak.
“Tapi akau juga cinta orangtua aku.” Air matanya terlihat sudah tidak terbendung.
Dia menjelaskan semuanya dengan detail.
__ADS_1
Ternyata ini, alasan kenapa dari dulu kita putus nyambung. Dia sengaja membesarkan masalah kecil agar kita bertengkar hebat yang akan mengarah ke kata ‘putus'. Tapi, pada akhirnya kita selalu kembai bersama karena kekuatan cinta kita. Dia terus meminta maaf dan memintaku untuk meninggalkannya.
Namun, karena wanita ini adalah wanita yang sangat ku cintai setelah Mamahku, aku akan tetap menunggunya. Aku akan menunggunya agar bisa kembali ke pelukanku. Sampai kapanpun.