
Dengan malasnya Maru harus melakukan perjalanan jauh untuk urusan kerjanya ke luar kota. Dia telah menyelesaikan pekerjaanya. Ia pulang melewati beberapa kota termasuk kota yang Sora tinggali. Tubuh dan hatinya sangat menginginkan menginjak kembali kota itu dan menemui Sora. Namun, teringat kembali ucapan Sora. Maru hanya bisa mengurungkan niatnya. Dia ingin menghargai keputusan Sora. Tidak ingin egois sendiri. Kalu memang jodoh, pasti bertemu.
Karena melewati kota yang Sora tinggali, sudah pasti melewati kota dimana taman bermain yang pernah ia datangi bersama Sora berada. Dengan tanpa rencana ia memasuki area itu. Mungkin dengan sedikit refreshing disini, dan mengunjungi tempat yang ia datangi bersama Sora terakhir kali akan sedikit menghilangkan rasa rindu yang terus menyelimuti Sora.
Karena merasa sudah cukup untuk mengelilingi tempat bermain itu, Maru mengakhiri destinasinya menuju tempat tinggi yang harus melewati tangga dan jembatan yang dihiasi dengan gembok warna warni. Dengan menguyah cokelat yang ia bawa, ia berjalan santai sampai matanya menangkap sosok wanita yang menjadi wanita idaman idamannya. Maru langsung menelan cokelat dan salivanya dengan susah payah.
Sosok yang ia pandangi kini tengah berdiri tanpa kata sedikit membelakanginya, namun Maru masih bisa melihat sisi depannya dari samping. Kini wanita itu mengeluarkan spidol dari dalam tasnya dan menuliskan sesuatu pada gembok yang dahulu ia pasang. Wanita itu menarik nafasnya dengan berat dan mengeluarkannya dengan kasar.
Dengan percaya diri Maru mendekati wanita itu dan mengikuti cara bernafasnya, dan tentu saja mengajaknya berkenalan agar semakin dekat.
“Boleh kenalan? Nama saya Maru.” Dengan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan., sembari tersenyum dengan gayanya yang hangat.
__ADS_1
Wanita itu membalas senyumannya dengan mata yang berbinar, dan menerima uluran tangannya, menjabatnya.
“Sora. Nama saya Sora.” Suaranya sangat menenangkan telinga Maru.
Maru menatap Sora dengan tatapan yang begitu dalam, pandangannya beralih ke leher Sora yang bertengger kalung dengan liontin infinite. Senyum Maru semakin merekah. Tanpa pikir panjang, Maru berlutut dihadapan Sora mengeluarkan bungkusan cokelat kecil berbentuk hati.
“Saya pikir, saya suka sama kamu. Would you marry me?” Dengan menyodorkan cokelat kecil itu layaknya cincin berlian.
“Malah ketawa, aku serius. Would you marry me?” Maru sekali lagi melamarnya.
Orang-orang yang ada disekitar terus memperhatikan mereka dengan gemasnya.
__ADS_1
Sora menganggukan kepalanya, “ I do...” dengan senyuman manisnya mengambil cokelat sebagai lambang lamaran itu.
Maru langsung berdiri dari posisinya. Ia berteriak kegirangan.
“ Hoo.. akhirnya... “ Maru langsung mencium bibir Sora masih dengan kegembiraannya.
Orang-orang yang menyaksikan langsung bertepuk tangan dan memberikan ucapan selamat.
“Kenapa kamu tiap ngelamar aku gak pernah bener. Dulu, dipojokan warung tutup yang gelap gulita. Sekarang, pake cokelat?” Dengan nada yang terdengar kesal tapi senyuman tidak bisa hilang dari wajah Sora.
“Takdir. Aku gak tahu kalau hari ini bakal ketemu wanita idaman aku. Kalau aku tahu pasti aku siapin buat melamar, mau cincin ke, apa ke. Aku adanya cokelat ini doang. Soalnya gula darah aku lagi rendah, harus makan makanan yang manis. Masih ada satu lagi, ni..” Menyodorkan kembali cokelat yang tinggal tersisa satu lagi itu.
__ADS_1
Sora menerima kembali cokelat itu, dan tertawa. Maru kembali mencium bibir, dan kening Sora dan memeluknya dengan lembut.