Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
100. Harus Bagaimana


__ADS_3

Sora mencurahkan semua isi hatinya, semua unek-unek yang selama ini dia sedikit pendam dari siapapun, termasuk dari suaminya Maru.


Maru sebenarnya sedikit mengerti dengan perasaan Sora, tapi tidak sepenuhnya. Karena Sora yang selalu bilang baik-baik saja, selain dia yang tidak baik-baik saja tentang dirinya yang sangat menginginkan buah hati dalam kehidupan rumah tangga mereka.


Mendengar semu perkataan yang keluar dari mulut Sora, membuat hati Maru serasa dicabik, tidak sampai pikiran Maru dengan apa yang Sora rasakan.


Maru kembali mengutuk dirinya sendiri, mengutuk karena kembali menyakiti dua wanita yang sama dengan masa lalu, terutama Sora yang pasti lebih tersakiti. Meskipun tahu, Maria juga dari dulu memang sama-sama tersakiti.


Setelah Maru pikirakan, selama ini keegoisan dirinya yang menyebabkan semua terjadi. Tapi, harus bagaiman? Maru benar-benar sudah mematri nama Sora dalam hatinya, dalam pikirannya, dalam hidupnya. Maru tidak ingin kembali kehilangan wanita yang kini istrinya itu.


Maru menangis dalam sunyi. Hatinya sangat hancur mendengar istrinya yang lebih hancur daripada dirinya. Bahkan saat ini, Maru tidak bisa marah meskipun melihat Sora dipeluk, dan dibelai oleh lelaki lain, apalagi laki-laki itu adalah seorang Zaenal. Maru ingin Sora melepaskan semua benan pikirannya meskipun hanya untuk sementara.


Sora yang merasa sedikit lebih tenang, melepaskan pelukannya dari Zaenal.


"Maafin aku... baju kamu jadi kotor.. ingus aku..." Sora kembali melontarkan candaannya meskipun air matanya belun berhenti.


"Tenang aja, ada kamu ini yang bakal cuciin kan." Zaenal menanggapi candaan Sora.


"Makasih... kamu emang paling pengertian sama aku, dari dulu.. gak pernah berubah." Sora berterima kasih dengan tulus.


"Jangan sungkan. Kita kan udah kenal dari dulu. Aku tahu kamu orangnya kayak apa." Zaenal merasa bangga, karena memang dia sangat mengenal Sora.


"Ngomong-ngomong, kok kamu bisa tahu aku lagi ada masalah? Apalagi masalahnya ada kaitannya dengan Maria.?" Sora baru menyadari tebtang itu.


"Jelas tahu lah... Kan, suami kamu dateng ke restoran aku. Dia nangis.. dia ngelantur... terus tanpa sadar dia ceritain semuanya.." Zaenal berbohong, yang membuat Maru terperanjat. Kapan dia menangis didepan Zaenal.

__ADS_1


"Maru nangis? Depan kamu? gara-gara masalah ini? Gak percaya aku.." Sora tidak percaya dengan perkataan Zaenal. Zaenal yang setuju dengan perkataan Sora, menganggukan kepalanya seorang diri.


"Emang dia gak boleh nangis gitu? Dia juga manusia." Zaenal terus memancing candaannya.


"Iya, boleh lah.. maksudnya.. dia kan sok jual amahal banget... aku aja jarang liat dia nangis. Yang ada dia marah, kesel mulu.." Sora mengingat kapan Maru menangis di depannya.


"Yakin? Aku pernah liat dia nangis selain Kemarin-kemarin. Coba kamu inget lagi, kapan Maru nangis deoan kamu?" Zaenal meguji Sora.


"Mmm... pertama kali aku liat dia nangis..." Sora mengingat dirinya yang melihat Maru tengah mabuk dan menangis karena kehilangan Maria yang harus menikah denga suaminya dulu.


"... Waktu tahu aku hamil.. dulu... terus.. pas kita ketemu lagi setelah kita pisah..." Sora hnya mengingat bagian yang inti saja.


"Kan.. ternyata dia cengeng banget. Apalagi tentang kamu. Aku pernah liat dia nangis pas kamu lahirin anak kamu. Dia nangis, aku pukul sampe kepental juga dia gak gubris, aku liat dia nangis pas kamu pergi ninggalin dia, aku liat nangis pas kalian ketemu lagi, aku liat dia nangis setiap hari disaat hari-harinya tanpa ada kamu. Dan yang paling terbaru, aku liat dia nangis kemarin. Dia merasa berasalah karena keadaan kamu. Kalian berdua sama-sama saling merasa bersalah.. makannya kalian juga pasti akan merasa saling menyakiti, dan juga tersakiti. Coba kalian lebih kompak lagi. Temukan jalan keluarnya, jangan saling egois." Ujung-ujungnya Zaenal kembali menasehati Sora.


Sora mendengarkan Zaenal dengan sangat seksama. Di terus menganggukan kepalanya. Begitu juga dengan Maru yang mendengarkan.


Maru langsung duduk disebelah Sora, sehingga Sora berada di tengah antara kedua pria yang sangat dia kenali.


"Kalian ngomongin apa? Aku?" Maru pura-pura bodoh.


"Kamu sendiri yang mancing buat diomingin." Sora menyeringit.


"Maksud kamu?" Maru dan Zaenal sama-sama tidak mengerti.


"Lagian, ngapain ada masalah dikita, pake cerita ke dia? Kan jadinya aku di ceramahin sama dia." Mata Sora beralih pada Zaenal.

__ADS_1


"Masih untung aku ceritanya sama orang yang emang kamu percaya, orang yang ngerti kamu. Kalau aku cerita sama orangtua aku? Gimana coba? Bisa berabe kan." Maru memanasi Sora.


"Jadi, kamu belum cerita sama mereka?" Sora mengira kalau Maru telah menceritakan semuanya pada orangtuanya, mengingat dirinya tidak pulang dan memilih tidur di rumah orangtuanya.


"Aku belum cerita apa-apa sama mereka. Karena kita belum nemu jalan keluarnya. Keputusan kamu belum sepenuhnya sah kan." Maru menggenggam tangan Sora.


"Maafin aku. Kita bicarakan lagi nanti.." Sora membalas genggaman Maru.


"Yaa... malah jadi nyamuk.." Zaenal merasa dirinya sudah tidak dianggap oleh keduanya.


Sora dan Maru tertawa dan berterimakasih pada Zaenal.


Ketika ketiganya melanjutkan obrolan. Handphone Sora berdering, terpampang nomor yang tidak Sora kenal. Sora menjawab panggilannya dan langsung mengaktifkan pengeras suara.


"Halo.. selamat siang. Apa benar ini denag saudari Sora?" Suara laki-laki yang sepertinya berusia 40 tahunan mendominasi.


"Iya betul, ini dengan siapa?" Sora bertanya dengan hati-hati, mengingat banyak sekali penipuan lewat panggilan telpon.


"Saya dari rumah sakit. Kami mendapatkan pasien seorang wanita yang tidak sadarkan diri. Lalu, kami mencoba menghubungi keluarganya, namun tidak ada nama orangtuanya. Tapi, nomor anda dia simpan dalam list panggilan darurat. Apa anda mengenal saudari Maria?" Suara laki-laki tersebut membuat ketiganya panik bukan main.


Setelah dokter menginformasikan keberadaan Maria sekarang, ketiganya terdiam sesaat.


"Giamana?" Sora menanyakan hal yang tidak Maru mengerti.


"Maksud kamu apa?" Maru tidak mengerti.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana? Kamu harus bagaiman? Kita harus bagaimana?" Sora bertanya dengan tegas.


__ADS_2