
Maru bingung dengan pertanyaan Sora. Dia bingung apa yang harus dia katakan.
"Kenapa kamu nanya aku?" Maru gelagapan ditanya oleh Sora.
"Kan kita udah setuju, kalau ada apa-apa harus kuta omongin dulu berdua. Sekarang aku tanya dulu sama kamu. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Sora berusaha untuk berkomunikasi dengan Maru, Sora berusaha menghormati keputusan Maru juga. Tidak hanya mengikuti kemauan dirinya sendiri. Egois.
"Kita Jemput." Maru mengeluarkan kata-katanya dengan alis yang terlihat garang.
Kedua manusia yang berada di sampingnya terkejut. Terutama Sora. Sora menatap suaminya itu dengan sangat dalam. Ia tidak menyangka kalau Maru akan menolong Maria.
"Kenapa kalian ngeliatnya kayak gitu?" Maru merasa terpojokkan karena kini kedua manusia itu terus menatapnya.
"Gak.. aku cuman gak nyangka aja.. kirain kamu bakal nolak mentah-mentah lagi." Sora sudah berpikiran yang tidak-tidak.
"Aku cuman berperilaku layaknya manusia aja." Maru tidak ingin ada kesalah pahaman diantara keduanya.
Sora tersenyum, ia berdiri dan mengajak kedua lelaki itu untuk segera bergegas menuju Maria berada.
Didalam mobil, tiba-tiba suasana menjadi hening. Maru sibuk berkonsentrasi pada jalanan, namun pikirannya tidak bisa berhenti merutuki apa yang baru saja ia katakan, apa yang menjadi keputusannya.
Begitu juga dengan Sora. Ia duduk disamping Maru. Ia sangat bahagia bahwa suaminya mau menolong Maria. Meskipun dia bilang Maru melakukannya hanya sekedar kemanusiaan, tidak bisa Sora pungkiri, secara tiba-tiba hatinya yang paling dasar merasa sangat sakit.
Kenapa aku kayak gini?
Harusnya aku seneng Maru mau menolong Maria. Karena itu memang keinginan aku juga.
Tapi, kenapa terasa sakit.
__ADS_1
Kenapa aku jadi plin plan begini sih?
Kamu jangan selalu berpikiran negatif Sora...
Sora terus berbicara dalam hatinya.
Di kursi belakang. Tak kalah diam, Zaenal duduk dalam sunyi. Ia memperhatikan kedua insan yang duduk di depannya.
Yang satu tergerak hatinya.. yang satu mulai terganggu... gak bakal berhenti-berhenti kalau gini caranya.
Benar-benar hanya Zaenal yang mengerti Sora.
Setibanya di rumah sakit. Ketiganya langsung ke ruangan tempat Maria berbaring. Dokter yang telah mengetahui kedatangan yang katanya keluarga Maria langsung menghampiri ketiganya.
Dokter menjelaskan dengan seksama, menjelaskan keadaan Maria yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.
Karena hidupnya sekarang, ia jadi sering mengalami stress. Stress yang menyebabkan kandungannya pun sedikit bermasalah.
Mata Maria terbuka perlahan. Ia menelaah situasi di dalam ruangan. Di tatapnya satu-satu orang yang berada di ruangan. Ketika matanya mendapati Maru, Ia langsung memeluk Maru dengan sangat erat. Matanya mengeluarkan ari mata yang tak henti, mulutnya mengeluarkan kata-kata yang ngelantur.
"Maru... aku takut banget... Aku mau pulang..." Maria masih memeluk erat pinggang Maru.
"Maria.. kamu apa-apaan.. lepasin aku dulu." maru sedikit panik dengan sikap Maria yang tiba-tiba memeluknya.
Sora dan Zaenal hanya menatap nanar pada Maria yang kini masih memeluk pinggang Maru dengan sangat erat.
Sora meminta agar dokter memeriksa Maria dengan lebih detail lagi. Dokter melakukan pemeriksaan lebih pada Maria. Ketiganya menunggu di ruang tunggu dengan harap cemas.
__ADS_1
Hampir dua jam menunggu, dokter memanggil ketiganya. Dokter menjelaskan keadaan Maria, dan juga kandungannya.
"Kandungannya cukup kuat, meskipun mental ibunya yang hancur." Dokter tersebut menjelaskan dengan hati-hati.
"Maksud dokter apa ya?" Dada Sora begejolak.
"Iya.. kondidi mentalnya sedikit terganggu. Dalam sesi pemeriksaan tadi, kita menyimpulkan bahwa mentalnya sedikit terganggu. Ia terus plin plan dalam menjawab pertanyaan, entah itu pertanyaan tentang dirinya di masa sekarang ataupun masa lalu." Dokter terus berusaha agar ketiganya mengerti.
"Maksud dokter, dia benar-benar stress... bukan stress yang biasa kita semua alami?" Zaenal masih tak percaya.
"Ya.. karena stress 'biasa' yang anda bilang tadi sudah menumpuk dalam pikirannya. Kini saudari Maria sedikit kehilangan kepingan ingatannya. Itu adalah usaha dia untuk menyembuhkan dirinya sendiri dari luka yang dia alami. Terkadang dia merasa dirinya tidak mengalami hal yang sebenarnya sudah dia lewati. Atau terkadang dia merasa dirinya mengalami hal yang tidak dia alami sama sekali, hal yang ia buat sendiri, imajinasi dia sendiri." Dokter panjang lebar menjelaskan.
"Lalu, kita harus bagaimana Dokter?" Mata Sora berkaca-kaca. Sora sangat tertekan.
"Dia harus menjalani perawatan untuk psikologis dia. Dan tentu saja orang-orang terdekatnya harus menemaninya, memberikan dukungan untuknya. Agar dia bisa pulih. Apa diantara kalian ada yang bernama Maru?"
"Saya Maru, kenapa Dok?" Maru merasa heran.
"Saudari Maria paling banyak menyebutkan nama Anda. Entah itu tentang dirinya di masa lalu, atau di masa sekarang, nama Anda selalu ada. Nama-nama yang selalu ia sebutkan selain Anda, dia juga banyak menyebutkan kedua orangtuanya dan juga nama Sora." Bak di sambar petir. Sora benar-benar lemas, ia merasa telah menjadi penjahat paling kejam di dunia.
"Untuk perawatan psikologisnya, apa yang harus kita lakukan Dok?" Maru ingin segera mendapatkan jalan keluarnya.
"Untuk sementara, saya sarankan untuk merawatnya dengan perlahan. Keputusan ada pada Anda. Entah itu mau langsung dirawat dengan para ahli atau bisa anda elrawat di rumah dengan perlahan, agar dia bisa menyadari siapa dirinya, apa yang terjadi, agar ingatannya kembali normal." Untuk sementara dokter menyarankan hal itu.
"Kita akan merawatnya di rumah dulu,..." Sora bergumam, suaranya tidak Dokter dengar, namun terdengar jelas oleh Maru yang memang duduk di sebelahnya.
"Kita bawa pulang dulu dok, kita jemput dia." Maru mengatakannya dengan matanya yang terus menatap Sora, Sora menengandah menatap Maru.
__ADS_1