
Matahari pagi telah menampakkan sinarnya. Sora dan Risa bersiap untuk pergi ke pantai. Mobil Maru telah terparkir dihalaman depan rumah menunggu keduanya.
Risa masuk terlebih dahulu menempati kursi belakang serta menempatkan anaknya disebelahnya. Risa memberi isyarat agar Sora duduk di depan. Tak ada kata yang terucap dari mulut kedua orang yang ada didepannya, Risa merasa frustasi dan memecah keheningan.
“Sora, nanti aku pengen beli aksesoris ya, bagus-bagus kayaknya.” Ajak Risa.
“Okay, nanti aku anterin. Emang bagus-bagus kok.” Sora memuji keterampilan orang-orang yang menghasilkan seni aksesoris yang ada disana.
“Kalung kamu bagus banget. Kamu belinya dimana? Aku juga pengen yang kayak gitu.” Merengek.
“Aahh.. ini? Aku dikasih langit. Dia yang buat sendiri.” Sora tersenyum sembari memegang kalungnya.
“Langit? Cowok yang kemarin bonceng kamu? Dia bikin sendiri?” Tanyanya heran.
“Iya dia bikin sendiri. Orang dia pengrajin aksesoris.” Pujinya.
“Oooo.. kalung spesial toh.. limited edition ceritanya. Ngomong-ngomong, kok dia gak gabung sama kita? Kenapa gak diajak?”
“Dia masih ada kerjaan katanya. Nanti dia bakal nyusul kita-kita. Sekalian aku kenalin sama kalian.”
“Kenalin? Teman? Pacar?” Risa menggoda.
“Apaan sih kamu...” Sora hanya tertawa ringan.
Mereka telah berkumpul dipenginapan, kebetulan hari ini Sora memang jadwalnya libur. Sungguh kebetulan, apa memang sudah direncanakan? Sora mengenakan celana yang cukup pendek diatas paha beberapa senti, dipadukan dengan kaos yang tentu oversize menelan tubuh Sora yang mungil. Tak lupa ia mengenakan topi yang sedikit lebar, menambah penampilannya semakin menawan.
“Apa gak terlalu pendek celananya?” Maru menegur Sora, dengan sedikit membentak.
“Apaan? Ya terserah aku lah. Emang aku niat pake yang ini juga, cuman bawa ini doang.” Bibir Sora maju kedepan.
“Kan tadi kamu masih pake celana panjang. Pake aja yang itu.” Keluhnya lagi.
“Itu kan jeans, kalau lari-lari mana enak pake celana gitu.” Sarkasnya.
“Kaki kamu, paha kamu kelihatan.” Masih ngotot.
“Ya ini kan emang style kalau ke pantai gini. Ribet banget sih. Kamu juga kenapa gak pake celana panjang aja. Pake baju yang bener..” Menunjuk celana Maru yang memang pendek. Dan kemeja yang tidak dikancing, sehingga memamerkan dada bidangnya yang tidak ditutupi kaos dalam.
__ADS_1
“Celana aku masih dibawah lutut...”
Teman-temannya yang menyaksikan keduanya saling menatap dan memberi tanda jangan ikut campur. Mereka melangkah mundur pelan-pelan. Rendi menarik Zaenal. Hingga suara Langit menghentikan perdebatan keduanya. Dan juga pergerakan Risa dan kawannya dalam rangka untuk mundur meninggalkan keduanya yang tengah berdebat.
“Permisi....” Langit berdiri di depan jendela full kaca. Sora meliriknya, ia melambaikan tangannya dan mengajak Langit untuk masuk.
Sora mengenalkan teman-temannya kepada langit dan juga sebaliknya.
“Ini..” Langit menyodorkan sebotol sunscreen.
“Makasih.. aku tadi lupa bawa.” Ia mengusap ke seluruh tubuhnya. Tangan, kaki, leher, dan pundaknya.
Maru terlihat kesal dan memilih pergi keluar terlebih dahulu, menendang sandal Sora.
Sora melihatnya dari jendela kaca, masih merasa kesal.
“Oooo... apaan maksudnya coba tu orang. Ngapain nendang sandal aku. Aneh tu orang.” Sora menggerutu, wajahnya terlihat kesal.
Risa tertawa kecil.
“Hhiii... biarin aja. Lagi PMS kali. Sini aku minta dah. Usapin dong, aku gak nyampe nih.” Sora mengusap ke punggung atas Risa.
Rombongan yang berjumlah 8 orang itu kini menuju pantai. Mereka menikmati indahnya pantai. Bermain bola, voly pantai, bermain pasir. Merasa lelah sebagian dari mereka memilih untuk beristirahat, tapi tidak dengan Sora dan Risa yang masih main kejar-kejaran dengan anak Risa.
“Baru kali ini saya lihat Sora sebahagia itu. Tertawa lepas.” Suara Langit memecah keheningan, yang membuat Rendi melirik Langit. Namun pandangan Rendi tak sampai situ, laki-laki yang duduk berbaris disebelahnya ikut dia amati.
Ketiga pasang mata pria-pria yang ada disebelahnya semua menuju sosok Sora yang tengah berlarian dipasir pantai.
“Nambah lagi satu.” Gerutu Rendi sendiri, ia menggelengkan kepalanya.
“Laper makan yuk.” Ajak Rendi. Namun, tidak ada respon.
Rendi berdiri, ia berlari kearah Maria dan Sora yang masih asyik bermain dengan anaknya. Rendi menggendong Sora layaknya karung beras berpura-pura menculik Sora. Ia mulai berlari diikuti oleh Risa dan anaknya yang mengejarnya.
Melihat pemandangan itu, Maru melesat berdiri dengan wajahnya yang terlihat semakin kesal.
“oo.. sss..” Maru menggerutu.
__ADS_1
Rendi tiba ditempat berkumpul. Ia menurunkan Sora yang masih tertawa bersama Risa dan juga anaknya. Maru menatapnya dengan tajam.
“Apaan lo? Kok berdiri? Gue ajak makan aja, pada kagak respon lu pada.” Kesal Rendi.
Maru mengangkat tangannya dan mengusap kepala bagian belakangnya.
“Ayo kita makan..” Ajak Maru sambil berlalu meninggalkan mereka, menuju tempat suami Risa yang ternyata sudah duluan menyantap makanan siangnya.
Kini rombonga tengah makan siang di warung Mbak Santi. Mereka ngobrol sana sini.
“Langit. Boleh kan panggil Langit doang. Kita kan seumuran.” Izin Risa.
“oohh.. boleh. Dengan senang hati.” Langit merasa terhormat karena teman-teman Sora begitu ramah.
“Kalung yang dipake Sora buatan kamu katanya? Bagus banget. Kalu dijual bisa dengan harga tinggi loh.” Saran Risa kepada Langit.
“Makasih. Tapi, saya cuman bikin itu buat Sora doang. Kalau yang dijual saya masih punya design yang lainnya.” Jawabnya dengan senyuman menyungging.
Semua mata tertuju pada kalung yang menghiasi leher Sora.
“Ada artinya gak? Awan, bulan, bintang, matahari.” Risa menggodanya.
“Apa ya? Awan, bulan, bintang, matahari, mereka menghiasi langit. Langit jadi lebih indah kan?” jawabnya
“Ooooooooooo....” Rendi dan Risa sekali lagi menggodanya.
“Jadi maksud kamu Sora menghiasi langit, kamu. Jadi hidup kamu lebih indah. Begitu?”
Risa tersenyum geli begitu juga dengan Rendi. Tidak dengan Zaenal dan Maru, sangat masam. Apalagi Maru yang sedari tadi melihat senyum Sora yang malu-malu karena ucapan Langit. Sedangkan Suami Risa? Kemana lagi, kalau bukan karena anaknya yang ingin masih bermain.
“Bisa dibilang bergitu juga...” Langit mengangguk ringan.
“Aaaaaaahhhh...” Lagi-lagi Rendi dan Risa histeris tidak karuan.
“Sebenarnya karena nama kita juga sama kan. Langit, Sora.” Jelasnya
Mereka terlihat bingung.
__ADS_1
“Aku Langit. Dia Sora. Dalam bahasa Jepang, Sora artinya Langit.” Langit tersenyum kearah Sora yang duduk disebelah Zaeanal.
“oooowwhhh... begitu...”