
Maru segera keluar rumah dan melajukan mobilnya, ia menepikan mobilnya di parkiran restoran yang sering dia datangi.
Zaenal yang melihat Maru datang malam-malam sendirian ke tempatnya sedikit mengerti. Mungkin ada hal yang ingin dia bicarakan. Tanpa bertanya, Zaenal langsung menyuguhhkan minuman hangat dimeja dan mengajaknya duduk dengan posisi berhadapan.
Tanpa basa-basi, Maru berbicara to the point.
“Hubungan lo sama Sora sebenarnya gimana sih?” Matanya begitu tajam menghujam mata Zaenal.
“Maksud lo apaan? Lo berdua berantem lagi?” Yang kini ikut menajamkan pandangannya.
“Bukan urusan lo. Tinggal jawab aja.” Dengan sangat ketus.
“Kenapa? Lo merasa terganggu sama gue? Tenang aja...” Menyilangkan tangannya di dadanya yang bidang.
Maru memundurkan tubuhnya, dan bersandar ke kursi yang ia duduk.
“Gue harap lo kasih kepastian hubungan lo sama Sora...” pembicaraannya terpotong oleh Zaenal yang langsung berbicara dengan nada lebih tinggi.
“Harusnya lo yang kasih keputusan, kepastian. Sebenarnya lo anggap Sora apa? Lo gak kasian, bikin anak orang bingung terus. Dia lagi hamil, lo jangan bikin dia terus tertekan.” Mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Lo udah tahu Sora lagi hamil? Dari kapan?” Pernyataan Zaenal membuat buruk sangka.
“Dari dua minggu yang lalu. Itu juga karena dia pingsan didepan gua.” Menjelaskan, dia membaca wajah Maru yang sedikit mengerutkan dahinya.
“Jangan bilang lo baru tahu?” Tertawa begitu melihat wajah Maru yang terlihat jelas bahwa dirinya memang baru mengetahui tentang kehamilan Sora.
__ADS_1
“Terus kenapa lo gak bilang ke gua?” Maru bertanya, tepatnya ingin memastikan fakta tentang kehamilannya.
“Gue istri lo? Bukan. Lagian Sora yang nyuruh gue buat gak bilang ke siapapun, termasuk lo. Gua kira Sora langsung ngasih tahu lo.” Entah kenapa kali ini Zaenal merasa menang selangkah daripada Maru.
“Terus karena itu juga lo suruh Sora buat cerai ama gua?” Rasa penasaran, tidak rasa amarahnya semakin menjadi.
“Sora pengen cerai dari lo? Kenapa?” Tawanya hilang diganti dengan khawatir sekaligus penasaran.
“Lo bener gak tahu, apa pura-pura gak tahu?” kembali menajamkan pandangannya.
“Ngapain gue suruh dia cerai ama lo. Lo pikir hubungan seperti apa yang kita jalani? Maru, please stop. Jangan buat Sora menderita lagi. Dia lagi hamil. Dia hamil anak lo. Lo nyiksa Sora, berarti lo menyiksa anak lo juga.” Tandasnya panjang lebar.
Maru mulai terdiam, ternyata dia salah. Sora lagi hamil anaknya sendiri. Tubuhnya mulai melemah.
“Kalau lo sama Sora terus begini, gua gak jadi menyerah. Gue bakal mulai lagi buat dapetin dia.” Sebuah peringatan dilayangkan ke Maru.
Diperjalanan Maru melamun. Dia memikirkan apa yang baru saja dia katakan pada Zaenal.
Sebaiknya lo diem aja, gak usah ikut campur. Dan lo gak mungkin bisa dapetin Sora.
Apa maksudnya dia mulai mengakui bahwa dia mencintai Sora. Dan tidak ingin Sora meninggalkannya. Ditambah kini ia sedang mengandung anaknya.
Kembali kerumah, didapatinya Sora yang tengah melipat pakaian yang bersih. Maru mendekatinya, dia duduk di sebelahnya.
“Berapa bulan usia kandungannya.?” Tanyanya dengan gugup.
__ADS_1
“7 minggu.” Sora menjawab dengan tetap masih sibuk dengan aktivitasnya.
Maru menganggukan kepalanya, tiba-tiba dia merasa dadanya sesak. Ada rasa hangat didalam hatinya, dengan tiba-tiba Maru menjadi sangat emosional. Matanya perih dan tidak bisa menahan air matanya. Sora yang menyadarinya langsung menghentikan kegiatannya. Dia memandangi Maru yang berurai air mata.
“Kenapa kamu nangis?” Tanya Sora yang heran.
Maru memeluk Sora dengan lembut.
“Maafin gue. Tapi, gue bener-bener seneng banget sekarang. Lo hamil, hamil anak gue.” Berbicara dengan terus terisak.
“Aahh... makasih. Tapi aku mohon, kamu jangan bilang kesiapapun, termasuk keluarga kita.” Pintanya, seraya melepaskan pelukan Maru. Dia ingin segera menepis perasaan ingin kembali memiliki laki-laki ini, hanya karena diperlakukan sedikit lebih lembut.
“Kenapa?” Tubuh Maru menjauh wanita karena dorongan kecilnya.
“Ya.. kita kasih tahu nanti aja, setelah perceraian kita selesai. Makannya kamu cepet-cepet ajukan surat permohonannya.” Kembali melakukan kegiatannya.
“Lo masih tetep pengen cerai dari gua?” Sedikit kecewa.
Hanya anggukan yang diberikan Sora, ia beranjak menuju kamarnya membawa pakain yang telah rapi.
Mendengar itu, Maru dadanya terasa lebih sesak. Dia sakit hati. Baru kali ini, hatinya benar-benar sakit karena wanita ini. Sakitnya hampir sebanding dengan sakit yang ia rasakan ketika ditinggal menikah oleh Maria.
Ia langsung menangis dalam sunyi. Namun, tangisnya terdengar oleh Sora yang sudah berada dibalik pintu kamarnya.
Dia menangis? Dia bilang seneng aku hamil anak dia? Cih... dasar. Gak tahu malu.
__ADS_1
Ingat Sora.. kamu jangan terpengaruh oleh sikap Maru yang begitu lagi, kamu jangan mudah jatuh kepelukannya lagi. Kamu harus tahu diri.