Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Jika aku ingin bagai mana?


__ADS_3

Putri pak Toha mengalami pendarahan yang di sengaja, gadis itu berusaha memotong urat nadinya sendiri.


Alexa dapat melihat warna urat nadi yang tersembul di antara sayatan pergelangan tangan anaknya pak Toha. Warna hijau urat nadi yang sempat Alexa idam idamkan sewaktu hamil dulu, kini berubah menjadi sangat mengerikan saat melihat langsung bentukannya.


Alexa bahkan merasa pusing saat melihat bayak darah yang tercecer dari sebuah kamar hingga sampai ke ruangan itu. Sehingga Alexa menyimpulkan jika Putri Pak Toha berusaha mengakhiri hidup di dalam kamar dan Pak Toha memergokinya dan membawa putrinya keluar.


Mendadak Alexa merasa Zayn pergi terlalu lama. Padahal jarak rumah pak Toha ke halaman rumah Mang Opik sangatlah dekat, mobilnya kan terparkir di sana, ujar Alexa dalam hati. Tapi kan kunci mobilnya di rumah.


"Pak lebih baik lukanya di balut dulu." Alexa menyarankan. Dan Pak Toha segera berlari mencari kain untuk membalut luka putrinya.


Menggunakan kain tapih Pak Toha membalut luka putrinya. Alexa dapat melihat dengan jelas kepanikan di wajah tua Pak Toha, seketika ia mengingat Papa Azam yang bahkan rela mengantarkannya ke sini hanya agar putinya baik baik saja.


Zayn tiba di sana, dengan Mang Opik juga. Rasanya mulut mang Opik sangat gatal ingin ingin mengatakan jika Pak Toha sebaiknya tidak usah meminta tolong kepada orang lain. Bukankah selama ini Pak Toha selalu mengatakan jika dia tidak membutuhkan siapapun.


"Ale, pulang saja. Aku mau bawa anak pak Toha ke rumah sakit dengan mang Opik." Ujar Zayn lembut.


"Aku ga mau kak. Aku mau ikut kak Zayn." Alexa memegangi lengan Zayn.


"Hanya sebentar. Nanti aku akan kembali pulang." Zayn berujar lembut, bahkan bibi Aliyah juga sudah berada di sana untuk mengajak Alexa pulang.


Zayn mengendarai mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Sedangkan Alexa di bawa bibi Aliyah untuk pulang.


Bibi Aliyah tak henti hentinya menggerutu, ia kesal akan ke angkuhan Pak Toha selama ini. "Tau ga Lexa. Putri pak Toha itu sebenarnya harusnya sudah menikah, namun sayangnya Pak Toha tidak merestui cinta mereka, hingga calon suami putrinya itu mati karna bunuh diri, cinta mereka tak di restui." ujar Bibi Aliyah .


Alexa hanya diam mendengarkan.


.


Sepanjang perjalanan Pak Toha menangis dan meraung, ia takut jika putrinya benar benar meninggalkannya. Ia sadar betul apa yang terjadi karna ulahnya, hingga calon suami dari putrinya mati gantung diri juga karna ketajaman lidahnya.


Putrinya jiga kini tengah mengandung, jadi sudah di pastikan setertekan apa putrinya sehingga ia memilih jlan pintas seperti itu. Pak Toha menyesal seandainya saja ia membiarkan putrinya menikah dengan kekasihnya mubgkin hal ini tidak akan terjadi.


Beruntung Zayn tepat waktu membawa putri Pak Toha ke rumah sakit. Namun sekalipun Pak Toha tidak mengucapkan terimakasih. Hal itu lah yang membuat Mang Opik geram. Sedangkan Zayn sendiri tampak santai, ia sudah banyak menjadapti seseorang dengan pribadi seperti Pak Toha.


Zayn dan Mang Opik pamit pulang kepada anak laki laki Pak Toha yabg baru datang.


"Terimakasih Aa sudah mengantar adik saya ke rumah sakit."


Zayn hanya mengangguk mengiyakan. "Tidak masalah Mas, tapi maaf saya harus pulang. Istri saya pasti sudah menunggu." Zayn permisi pulang di saat hari nyaris gelap, bahkan senjapun sudah menyapa.

__ADS_1


Karna tidak terburu shalat di mesjid akhirnya Zayn shalat di kamarnya, setelah sebelumnya membersih diri di kamar mandi yang sudah di benarkan entah oleh siapa. Zayn mandi dan berganti pakaian karna pakaian sebelumnya terdapat noda darah yang berasal dari putri Pak Toha.


"Kak Zayn." selesai mengucapkan salam Alexa mengecup pipi Zayn. Membuat pria itu mengulum senyumannya.


"Ada apa? Kau merindukan suamimu hmm ..." Zayn menangkup pipi Alexa dan mengecupinya berulang ulang.


Alexa menganguk. "Tentu saja. Aku takut suami tampanku tersesat dan tak ingat pulang."


"Mana ada seperti itu." Zayn terkekeh gemas. "Aku tak pulang yang ada para pemuda desa bersorak gembira menyambutnya." Zayn masih mengingat jika tadi ada beberapa pemuda yang mengapeli istri cantiknya. Beruntung Zayn dapat mengusir ketiganya.


"Menurut kaj Zayn Letia cantik tidak?" tanya Alexa tiba tiba.


"Letia? Siapa?" Zayn sungguh tidak tau nama yang di sebutkan istrinya.


Alexa menusuk nusuk dada kekar Zayn menggunakan jari telunjuknya. "Itu loh, anaknya Pak Toha yang tadi Kak Zayn tolongin."


"Biasa aja. Cantikan istri aku ke mana mana." Zayn menggendong tubuh istrinya dan membaringkannya di atas ranjang. Alexa merona, bahkan pipinya di hiasi semburat merah jambu.


"Awas saja jika Kak Zayn tergoda oleh gadis desa di sini!" Alexa mengerucutkan bibirnya.


"Sekalipun bidadari menawarkan diri aku akan menolaknya. Istriku sangat cantik juga pandai menyenangkanku." tak belajar pun Zayn mulai terbiasa mengungkapkan kalimat kalimat spontannya. Dulu saja ia mengaloki mulut manis Adam, tapi sekarang tanpa di komando mulutnya sama berbisanya dengan Adam, atau mungkin lebih.


"Ya ampun kak Zayn. Nakal banget si ..."


"Nakal sama istri sendiri tidak papa Ale. Ayo makan setelahnya aku akan memakanmu."


Zayn dan Alexa makan bersama Bibi Aliyah dan Mang Opik. Kali ini lauk mereka ikan ikan kecil serta belut yang Mang Opik tangkap.


Alexa hanya makan mengunakan sayur bening yang terbuat dari daun bayam, yang di bumbui dengan dau salam dan lengkuas. Bukan Alexa tak ingin atau tak doyan makan ikan belut. Hanya saja Alexa tak bisa memakan ikan ikan kecil itu, takut durinya tertelan.


Zayn pun tidak ambil pusing, ia pikir jika Alexa tak ingin memakan ikan, sehingga ia membiarkan Alexa makan hanya dengan sayur bayam saja.


Alexa sedikit paham jika suaminya bukan cenayang, dia juga bukan Adam yang akan bertanya apa yang ia inginkan. Baiklah dia yang harus agresif kepada Zayn.


"Kak aku ingin makan ikan. Tapi tidak bisa memakannya. Durinya terlalu banyak."


"Belut doyan tidak?" tanya Zayn, karna memang duri ikan belut lebih sedikit di banding duri ikan kecil di di sana.


"Doyan." Alexa mengangguk.

__ADS_1


Zayn memisahkan daging belit dan tulangnya, kemudian memberikannya kepada Alexa.


"Ini semua tidak gratis. Kau harus membayasnya nanti." Zayn berbisik di telinga Alexa, untung saja bibi dan Mamangnya tidak menyadari bisikan mesum Zayn.


"Asal kak Zayn tidak berisik aku akan melayani apa mau kak Zayn." bukan tanpa alasan Alexa berkata demikian. Zatn bukanlah orang yang tenang saat di puaskan. Pria itu akan sangat berisik untuk mengungkapkan kenikmatan yang tengah ia terima.


"Tidak berisik tidak Asyik Ale." sahut Zayn.


"Ingat kak, kamar di sini tidak kedap suara."


"Kalian bisik bisik apa?" bibi Aliyah bertanya penasaran.


"Hehehe, tidak Bi, kak Zayn bilang ada pasar malam di lapangan sana." dusta Alexa. Padahal Zayn tak mengatakan hal itu.


"Jika kalian ingin pergi, pergi saja. Ada motor mamang di bawah rumah." ujar mang Opik.


"Makasih Mang."


"Jika ingin liat pasar malam cepat makannya Alexa." tegur Zayn.


"Kak Zayn akan mengantarku?"


"Tentu saja. Asalkan kau selesai dengan tugasmu." Zayn mengucapkan kalimat terakhirnya dalam hati.


Keduanya beriringan menuju kamar.


"Alexa Ayo." Zayn sudah melucuti pakaiannya sendiri.


"Katanya mau ke pasar malam."


"Nanti setelah urusan yang ini selesai." Zayn sudah mengusap kebanggaan miliknya.


"Kak Zayn." Suara Alexa lenyap saat Zayn membungkam mulut Alexa menggunakan bibirnya.


"Aku tak akan berisik." ujar Zayn, tangannya cekatan membuka hijab serta pakaian Alexa dengan sangat cepat.


"Kak jika aku ingin bagai mana?"


"Aku akan memuaskanmu tapi tidak dengan penyatuan."

__ADS_1


__ADS_2