
Semarah apapun orang tua, dan seberapa kebencian mereka terhadap anak-anaknya mereka akan kembali memaafkan juga merasa bersalah. Itulah yang saat ini Azam alami. Amarahnya kemarin kini sudah berganti dengan rasa khawatir yang luar biasa.
Kemana putrinya pergi? Dalam keadaan hamil juga terluka. Yang terlebih menyakitkan Alexa tidak membawa barang maupun uang. Azam membayangkan jika hidup putranya akan terlunta-lunta setelah ia usir.
Azam meminta pertolongan kepada Kahfa untuk mencari putrinya.
"Ada apa ini?" Zayn yang baru datang sehabis mengajar di pondok, di buat terkejut akan kehadiran orang tua Alexa di rumahnya pagi-pagi sekali.
"Alexa menghilang." Hanna yang menjawab di antara kepanikannya.
"Mengapa bisa menghilang?"
"Dia penyebabnya!" Greendia menunjuk suaminya, dengan nada menyalahkan. "Dia mengusir Alexa, aku akan kehilangan putriku kembali." Greendia menutup majahnya menggunakan kedua tangannya. Ia sangat kecewa dengan perlakuan suaminya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Lexi memeluk tubuh adiknya yang masih bergetar karna tangis. Pertanyaan Lexi mewakili rasa penasaran semua orang.
__ADS_1
Greendia masih bungkam, ia juga bingung harus mengatakan apa, tak ingin aib putrinya di ketahui orang lain, sekalipun saudaranya sendiri. Greendia tak ingin orang lain menilai rendah putrinya.
Disaat Greendian menyembunyikan aib putrinya justru Azamlah yang tak tahan ia di kuasai rasa bersalah dan tidak bisa berpikir jernoh atas aib yang seharusnya ia tutupi.
"Alexa hamil." ujarnya lemah, Azam menunduk menyembunyikan kekecewaannya, bukan semata karna Alexa. Azam kecewa pada dirinya sendiri yang menghakimi putrinya dengan sangat kejam.
Degh.
Jantung Zayn berdebar dengan cepat. Kitab-kitab yang ia bawa tanpa ia sadari terlepas dari genggaman tangannya.
"Hamil?" Mama Lexi dan Hanna berujar bersamaan, Azam hanya mengangguk mengiyakan.
"Aku menghukum Alexa dengan sangat kejam. Aku hampir membunuhnya." Tubuh Azam melemas ia menyesal sudah bertindak demikian.
"Kau pria jahat!" Green menatap tajam kearah Azam. "Kak, dia menampar putriku beberapa kali. Dia menghantukan kening putriku ke dinding hingga mengeluarkan darah. Dia mencekik putriku sehingga Alexa hampir tiada. Azam juga menyumpahi putriku untuk mati Kak. Dia menghina dan menyeret putriku dari rumah dan mengusirnya dengan kalimat yang tidak pantas keluar dari mulut seorang ayah. Hanya karna rasa malu." Greendia mengadu terhadap Lexi setiap hal yang di lakukan Azam pada Alexa.
__ADS_1
Zayn yang mendengar kalimat tantenya berkeringat dingin. Karna ulahnya, Alexa mendapatkan ketidak adilan dari papanya sendiri.
"Maaf aku emosi." Azam terlihat sangat menyesal.
"Apa dengan maaf putriku kembali? Bagai mana keadaannya di luar sana, ia tengah hamil juga terluka, tidak membawa uang seperpun." Green semakin histeris.
Kahfa menatap Azam yang meluruh dilantai. "Tidak seharusnya kau berlalu demikian Azam. Kau bisa mendatangi pria itu dan memintai pertanggung jawaban dari pria yang menghamili Alexa, bukan malah merusak fisik dan mental putrimu." Kahfa menyayangkan tindakan Azam, meskipun ia mengerti kekecewaan seorang ayah bagaimana.
"Justru itu Kahfa, Alexa tidak mengatakan siapa ayah dari bayi itu. Saat aku mengira jika Adam adalah pelakunya. Alexa malah menyangkalnya dan mengatakan jika itu bukan anaknya Adam. Di sanalah aku gelap mata Kahfa aku melukai putriku sendiri." suara Azam bergetar di ujung bibirnya.
"Aku sudah menganggap Alexa seperti putriku sendiri. Kita harus mencari dan menyeret pria berengsek itu untuk bertanggung jawab." Suara Lexi terdengar parau, hatinya sakit karna Alexa menerima ketidak adilan sendiri karna dosa yang ia lakukan bersama orang lain.
Inilah saatnya, semua harus terbongkar hari ini. Zayn tidak lagj perduli akan pandangan semua orang terhadap dirinya. Zayn tidak tahan atas ketidak adilan yang di lalu oleh Alexa.
"Aku lah pria berengsek itu Ma. Aku akan bertanggung jawab."
__ADS_1
"Zayn ..."