
Zayn di buat kerap kali ngelus dada oleh tingkah dan tindakan Alexa, bahkan siang ini di saat jam istirahat tiba Alexa memasuki ruangan Zayn bukan sebagai istri atau sebagai mahasiswi, Alexa memasuki ruangan Zayn karna dirinya gerah dan butuh mandi.
"Alexa, nanti saja mandinya di rumah. Di sini tidak ada sabun." Zayn menurunkan suhu pendingin ruangan agar Alexa tidak kegerahan. Tapi sepertinya tidak membantu sama sekali Alexa tetap mengibaskan kedua tangannya di hadapan wajahnya sendiri yang memerah.
"Tidak mau kak, aku ingin tetap mandi. Ga pake sabunpun ga jadi masalah." Wanita cantik itu mulai melepas hijabnya. Namun saat Alexa hendak melepas kancing pakaiannya Zayn segera menghentikan niatnya, bisa-bisa Zayn kelepasan dan meminta haknya di ruangan itu.
"Buka bajunya di dalam saja ya." Zayn mendorong tubuh Alexa hingga masuk kedalam kamar mandi.
Zayn segera meneguk sebotol air, tubuhnya sudah bereaksi hanya karna Alexa melepas hijabnya, setipis itu imannya.
Hanya membutuhkan waktu lima menit Alexa benar-benar hanya membasuh tubuhnya yang kegerahan tanpa ada ritual sabun atau hal lainnya seperti biasa saat mandi pada umumnya.
"Kak, buah nangka di samping mushola kampus sepertinya matang, tadi aku mencium wanginya saat shalat dhuhur, dan aku iseng menepuk buah nangka itu menggunakan sebilah bambu dan memang sepertinya sudah matang." Alexa duduk di dekat Zayn sembari merapihkan rambutnya, meski tak memakai sabun aroma tubuh Alexa sangat khas mrmbuat Zayn memejamkan matanya untuk menikmati aroma tubuh itu.
"Lalu kenapa jika matang?" Zayn menyipitkan matanya, ia sudah curiga jika Alexa memiliki udang di balik batu dengan informasi nangka matang itu.
"Sabi kali kak minta buahnya. Aku lagi kepengin makan nangka, sepertinya bayinya juga pengen kak." Alexa cengengesan tak jelas saat mengatakan keinginannya.
"Jangan bawa-bawa nama bayiku ya, tidak baik mengambing hitamkan seseorang dalam hidup kita. Jika dirimu ingin katakan saja."
"Baiklah, baiklah. Aku memang ingin makan nangka kak, rasanya sudah lama sekali aku tak makan buah itu." Alexa menggoncang pelan tangan Zayn.
"Biar ku belikan nanti, sebaiknya kau masuk kelas sebentar lagi jam pelajaran di mulai. Lagi pula kau sudah terlalu lama di ruanganku. Kau ingin membuat orang lain curiga?"
"Aku tidak mau beli! Aku hanya ingin buah nangka yang pohonnya tumbuh di dekat mushola kampus ini."
__ADS_1
Alexa mengenakan hijabnya dengan wajah yang masih di tekuk kesal, "Hanya ingin nangka saja di persulit." Gerutu Alexa.
"Masalahnya keinginanmu yang mempersulitnya Alexa. Kau tau? Kau itu sangat aneh!"
"Ya dasarnya saja kak Zayn ga mau repot. Wajar jika aku terlihat aneh, ini semua juga karna anak kak Zayn." Astaghfirullah anak yang nadih dalam kandungan di bawa-bawa emaknya sebagai senjata.
"Terus saja salahkan anakku. Kau pikir aku tak tau kau itu mengada-ada. Jika memang iya kau mengidam ingin buah nangka kau bisa memakan nangka manapun yang penting buah nangka. Bukan malah kukuh, aku tau kau hanya ingin mengerjaiku saja." Sesabar-sabarnya Zayn yang setipis selembar kertas HVS tetap akan luntur di kala Alexa selalu bertingkah kekanakan.
"Terserah, yang jelas aku ingin buah nangka yang di samping mushola itu. Aku sedang hamil dan semua inginku harus terpenuhi." Alexa tak mau tau, Zayn harus mengabulkan ke inginannya yang sederhana. Lagi pula keinginannya tidak menyulitkan Zayn. Alexa tidak meminta seribu candi, tapi Zayn tidak mau mengabulkannya.
"Orang-orang juga tidak sedikit yang hamil tapi tidak seribet dirimu Alexa. Mereka biasa-biasa saja menjalani kehamilannya, tidak semanja dirimu yang apa-apa keinginanmu harus terpenuhi." Zayn mulai terlihat kesal, suaranya bahkan naik satu oktaf membuat Alexa berkaca-kaca karna Zayn secara tidak langsung membandingkan dirinya dengan orang lain.
Perasaan Alexa yang sensitif membuat Alexa tak berkata lagi. Dari sini Alexa mengerti perbedaannya.
Alexa berpapasan dengan Lula yang menatap Alexa dengan pandangan menyelidik. Alexa tidak ingin ambil pusing dirinya membiarkan Lula dengan pemikirannya sendiri. Persetan Lula mau berpikir apa tentang dirinya. Alexa meninggalkan Lula yang berdiri di depan ruangan Zayn.
Zayn tetap memesan buah nangka kupas dengan kualitas terbaik di aplikasi yang tersedia di ponsel cerdasnya. Zayn tak mau repot-repot mengambil buah nangka yang tingginya lumayan, belum lagi harus mengupas buah dengan getah yang berlimpah. Juga jadwal Zayn yang harus mengajar menjadi alasan utama pria itu mengambil jalan pintas memesan buah itu.
Lagi pula buah nangka itu tidak terjamin rasanya, berbeda dengan buah yang ia pesan.
Alexa bukan kembali kekelasnya menuruti perintah Zayn, gadis itu kembali menghampiri pohon nangka yang lumayan besar. Ia meraih sebilah galah bambu yang kerap kali di pergunakan untuk mengambil beberapa buah yang berada di sekitaran kampus. Karna memang buah apa saja yang ada di sekitaran kampus di free kan untuk setiap orang yang menginginkannya, itu lah yang membuat Alexa semakin ingin.
Wangi buah nangka itu menggelitik indra penciumannya, membuat Alexa berulang kali menelan salivanya. Buah nangka itu tidak terlalu besar tapi tidak terlalu kecil pula, cukuplah untuk beberapa orang.
Alexa terus mencoba mengakali untuk mengambil buah nangka itu tapi tidak bisa. Hingga dahinya mengeluarkan keringat tetap tidak bisa Alexa ambil. Hingga bel berbunyi, Alexa terpaksa harus meninggalkan pohon itu dengan lesu.
__ADS_1
Tanpa Alexa sadari sepasang mata memperhatikannya sedari tadi.
Jam pelajaran Alexa telah usai, ia mendapat pesan singkat dari Zayn agar Alexa menemuinya di ruangan pria itu.
Alexa tampak bersemangat semoga saja Zayn sudah mengambil buah itu, Alexa bahkan sengaja melihat pohon nangka itu memastikan jika buah itu ada atau sudah di ambil oleh Zayn. Alexa melebarkan senyumannya saat melihat jika buah yang menurutnya matang sudah tidak ada di sana. Senandung kecil Alexa nyanyinyakan karna ia mengira Zayn mengambil buah itu untik dirinya. "Papamu memang terbaik." Alexa mengusap perutnya sebentar.
Alexa mengetuk pintu ruangan Zayn terlebih dahulu sebagai formalitasnya sebagai maha siswi.
Setelah Zayn mempersilahkan masuk barulah Alexa memasuki ruangan suaminya.
"Makanlah." Zayn menyodorkan sepiring buah nangka, tampak menggoda dengan warna kuning ke orange-orangean. Tapi tidak dengan raut wajah Alexa yang semula tersenyum kini terlihat muram.
Seleranya menguar seketika, perkara buah nangka membuatnya sakit hati, Zayn tidak benar-benar menuruti inginnya. Alexa tau nangka itu bukan nangka yang berasal dari dekat mushola kampus, nangka yang Alexa inginkan memiliki aroma memikat. Sedangkan nangka yang ini tidak memiliki bau sama sekali meskipun dengan penampilan yang menjanjikan.
"Ini bukan buah yang ku inginkan." Alexa berujar lirih. Tercetak jelas kekecewaan di wakahnya, tapi Zayn justru terlihat biasa-biasa saja.
"Tidak mau ya sudah. Aku akan memakannya sendiri." Zayn menggeser piring itu ke hadapannya dan segera melahapnya satu persatu.
"Ini sangat manis kau tak ingin mencobanya?"
"Tidak." Alexa memilih pergi dari ruangan Zayn. Ini salahnya karna terlalu berharap Zayn mengabulkan keinginannya.
"Alexa ... Alexaaa ..." Zayn memanggil Alexa beberapa kali, jangankan menoleh. Alexa bahkan tak berhenti atau menyauti panggilan Zayn.
Hanya soal buah nangka Alexa terlihat sangat kecewa. Gadis itu pergi dengan beberapa tetes air mata yang lolos di pipinya.
__ADS_1