Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Tugas yang adil


__ADS_3

"Assalamualaikum ..."


Hanna memasuki rumah kakek dan neneknya seorang diri, setelah mengucapkan salam sebelumnya.


"Waa'aikumsalam ..."


"Hanna dimana Alexa?" Zayn yang menanyakan keberadaan istrinya, bukankah tadi papanya sudah mengatakan jika Hanna harus kembali dengan istrinya lalu kemana istrinya jika Hanna datang seorang diri.


"Alexa? Loh bukankah tadi dia sudah ke sini?"


"Jika Alexa ada di sini aku tak mungkin menanyakannya padamu. Kau juga pasti melihatnya di sini." Zayn berpikir jika Hanna mengada-ada.


"Tapi benar kak, tadi Alexa bareng ke sini sama Anna. Aku tadi di panggil tante Kayla jadi aku menyuruh Alexa untuk masuk lebih dulu." Hanna juga heran saat tak mendapati Alexa di rumah kakeknya.


"Kemana perginya Alexa?" Zayn bahkan berkacak pinggang mencari keberadaan istrinya, doyan sekali Alexa menghilang.


"Zayn jangan-jangan Alexa mendengar omongan kita." Mama Lexi tiba-tiba mengingat jika tadi mereka membahas tentang anak diluar nikah. Ada kemungkinan jika Alexa mendengar omongan mereka tersinggung.


"Astaghfirullah. Aku pulang dulu. Assalamualaikum ..." Zayn pamit pada semua orang. Yang Zayn takutkan hanya satu yaitu Alexa melarikan diri atau melakukan hal-hal yang akan membahayangan dirinya serta bayi mereka.

__ADS_1


Zayn berlari dari rumah kakeknya yang berjarak lumayan cukup jauh jika berjalan kaki. Pikirannya sudah tak menentu ia sangat-sangat ketakutan jika Alexa melakukan sesutu.


Saat tiba dirumahnya Zayn langsung mendatangi kamarnya dan mendapati Alexa tengah tersungkur bersujud di atas sejadah dengan mukena putih yang ia kenakan.


Zayn mematung di ambang pintu, lidahnya terasa kelu juga dengan tubuh yang kini sekaku batu. Zayn mendengar raungan tangis Alexa dengan beberapa kalimat yang tidak terdengar jelas, Zayn menyimpulkan jika istrinya telah mendengar percakapan keluarganya.


Kaki Zayn melemas ia jatuh melutut dengan tayapan nanar, Zayn juga menggusur lututnya mendekati Alexa. Kemudian Zayn duduk bersimpuh di hadapan Alexa, tangan Zayn terulur mengusap punggung Alexa yang bergetar. Tangisan Alexa benar-benar terdengar memililukan juga menyayat hati.


"Alexa ..."


"Kak." Alexa merubah posisinya dari posisinya bersujud, secara perlahan Alexa mendudukan tubuhnya.


"Kak Zayn. Selamanya anakku akan menjadi anak haram. Dia, dia tidak akan memiliki nasab ayahnya, selamanya anakku akan menjadi anak haram. Aku berdosa kak, aku benar benar berdosa. Hiks ... Hiks ..." Alexa mengatakan apa yang ia rasa. Rasanya tak rela jika anaknya akan menyandang setatus anak haram.


Zayn mengepal, emosi serta matanya yang berkaca-kaca tak dapat Zayn sembunyikan, penyesalan kini merajai dirinya ia turut menjadi penyebab putranya hadir dengan cara yang salah.


Zayn membawa tubuh Alexa kedalam dekapannya.


"Shuuuutttt. Jangan berkata seperti itu! Anakmu memiliki ayah, aku ayah Alexa." Zayn turut meloloskan air matanya di antara kedua matanya, Zayn merasa egois seandainya saja ia mengeluarkan benihnya di luar tubuh Alexa mungkin hal ini tidak akan terjadi. Dan lagi kemarin ia juga berharap bahkan berdo'a supaya Alexa hamil anaknya, dan di saat semua itu terkabul Zayn malah merasa tak berguna.

__ADS_1


"Maafkan aku kak. Seandainya saja aku langsung mau saat kau hendak menikahiku mungkin ini semua tak akan terjadi. Aku malah memperumit ke adaan sungguh aku menyesal." Zayn mengusap pipi serta sudut matanya sebelum mengurai pelukan, ia tak ingin Alexa mengetahui jika dirinya turut menangis karna terbawa suasana.


Zayn mengurai pelukannya, tangan lebarnya membingkai wajah Alexa yang sembab, sepertinya Alexa memang menangis dengan waktu yang tidak sebentar.


"Aku juga bersalah Alexa, aku pelaku utama dari hadirnya bayi kita." Zayn mendongak tak ingin air matanya tergelincir kembali apa lagi di hadapan Alexa.


"Bayiku yang malang, selamanya dia tidak memimiliki hak untuk menuntut apapun darimu. Kau juga tak berkewajiban untuk memberikan apa-apa pada bayiku. Di saat hukup sudah menentukan setatusnya yang hina, lantas hal apa yang akan membuatnya beruntung? Aku adalah ibu yang paling buruk di dunia ini. Anakku belum lahir tapi aku sudah membuatnya terhina." Alexa menunduk dengan air mata yang tak hentinya mengalir, dan kini air mata itu mendarat di telapak tangan Zayn, membasahi tangan itu hingga menyisakan sedikit genangan antara tangan Zayn dan dagu Alexa.


"Aku yang akan membuatnya merasa beruntung Alexa, aku menginginkannya hadir di dunia ini. Tidak ada bayi yang hina Alexa, Demi Allah aku tidak menolak kehadirannya. Aku akan menyayanginya dengan sepenuh hati. Dia anakku! Selamanya setatus itu tidak akan berubah, meskipun hukum menentangku aku tidak perduli, aku akan tetap memperlakukannya dengan baik, dia anak pertamaku. Dia istimewa Alexa, aku berjanji tak akan membeda-bedakannya dengan anakku yang lain, kelak jika aku masih di percaya memiliki anak. Jangan khawatirkan apapun. Aku akan menjamin haknya sebagai anakku, ahli warisku, penerusku juga. Jangan lagi mempermasalahkan omongan orang Alexa." Meski Zayn sudah sekuat hati menahan air matanya, nyatanya air mata itu tetap lolos dengan sendirinya.


"Kau benar-benar menginginkannya menjadi anakmu,? kau tak akan menyesal saat dia lahir nanti?"


"Ya aku menginginkannya, dia darah dagingku bagaimanapun caranya terbentuk, tak akan merubah faktanya jika dia anakku. Dan satu lagi, satu-satunya yang aku sesali adalah kesalahanku yang lemah imam. Aku tak akan menyesal saat dirinya di nyatakan hidup."


Alexa meredakan tangisnya meskipun menyisakan cegukan kecil.


"Jangan memikirkan apapun. Tugasmu untuk memastikannya tetap happy di dalam sini." Zayn mengusap dan menggasak perut Akexa.


"Lalu tugasmu apa? Kau juga berkewajiban untuk menjaga kami." Suara Alexa terdengar parau.

__ADS_1


"Tugasku menengok dedek bayi, memastikan dia nyaman dalam rahimmu. Tugas yang adil bukan?" Zayn menyeringai, semoga saja Alexa terhibur.


__ADS_2