
Rasanya Lula tak rela jika pria yang selalu di kagumi olehnya sejak belasan tahun silam menaruh perhatian lebih terhadap wanita lain.
Zayn menepuk tangan Alexa yang terlalu banyak menyendok bumbu rujak dengan rasa yang lumayan pedas. "Alexaaaa ... " panggil Zayn dengan suara mendayu. " Jangan terlalu banyak." Alexapun kembali menaruh bumbu itu dan lebih memilih memakan kue yang di bawa oleh Lula.
Fix, ini mah ada yang aneh. biasanya Alexa akan membangkang atau berdebat dengan Zayn. Tapi kali ini Alexa menuruti apa yang Zayn katakan.
Lula yang kesal akhirnya pamit pulang meninggalkan semua orang.
.
Zayn, Alexa dan Hanna kini dalam perjalanan pulang selepas mengantar orangtua mereka ke bandara.
Sepanjang perjalanan Alexa bernyanyi di dalam mobilnya, Zayn yang tak ingin merusak suasana ibu hamil itu membiarkan Alexa bernyanyi sesukanya.
"Tak mau kehilangan, tapi kulelah berjuang." Alexa menikmati lantunan lagu yang ia nyanyikan.
Namun tiba-tiba Alexa menghentikan senandungnya dan menghadap kearah Zayn. "Kak Zayn bisa gak nafasnya biasa aja? Gak usah berisik! nyampe kedengeran di kuping aku. Ganggu tau." Alexa berujar ketus, sedangkan Zayn menatap tak percaya ke arah Alexa, padahal sedari tadi dia bernafas biasa saja masa kedengeran sampe ke telinga Alexa jarak mereka lumayan jauh padahal.
"Sabar kak Zayn." Hanna menyaut dari kursi penumpang, ia juga sekuat tenaga menahan tawanya. Sumpah Alexa sangat lucu sejak hamil.
"Ya Allah padahal aku hanya bernafas tapi salah juga." Zayn menghembuskan nafas kasar.
Alexa terlihat kesal ia melipat tangan di perutnya dan membuang pandangan ke arah lain, setelahnya hanya ada keheningan.
Namun yang sangat membuat Alexa semakin kesal adalah Zayn mengangkat panggilan dari Lula dan mengatakan jika dirinya akan kerumah Lula nanti malam untuk melihat sekripsi yang di buat Lula, Lula, Hanna, dan Alexa memang akan lulus beberapa minggu lagi.
Alexa masih tetap mendiamkan Zayn hingga setelah makan malam. Zayn pamit pada Alexa karna akan mengajar di kelasnya di pondok pesantren.
Karna kesal akhirnya Alexa lebih memilih tidur di kamar Hanna. Sudah menjadi kebiasaan jika dirinya tengah kesal terhadap Zayn ia akan tidur di kamar Hanna dari pada tidur di kamarnya. Meskipun Zayn tetap akan memindahkannya nanti.
Zayn pulang sekitar pukul sebelas malam, saat ia mendatangi kamarnya Zayn hanya menghela nafas dalam saat tak mendapati istrinya di atas ranjang. Ia sudah menduga jika Alexa akan tidur di kamar Hanna.
__ADS_1
Zayn mendatangi kamar Hanna dan mengetuk pintunya beruntung Hanna belum tidur adiknya itu baru selesai mengerjakan shalat malam.
"Kak Zayn." Hanna membuka pintunya lebar-lebar mempersilahkan kakaknya untuk masuk ke kamarnya.
Zayn menatap tubuh Alexa yang meringkuk di atas ranjang dengan memeluk gulingnya.
"Kak, Alexa mengalami mual muntah lagi tadi. Kasian banget kak." Hanna melaporkan apa yang terjadi pada Alexa.
"Dua hari lagi jadwal periksa kakak akan coba nanya lagi sama dokter Aida." Zayn menatap lekat wajah Alexa sebelum membawa dan memindahkannya kekamar miliknya.
Alexa masih terlelap meskipun tubuhnya di bopong oleh suaminya. Zayn secara perlahan meletakan tubuh Alexa di atas ranjang milkinya. Wanita hamil itu menggeliat mungkin mersa terusik juga memegangi tangan Zayn agar tidak pergi dari siainya.
"Jangan pergi!" rajuk Alexa manja.
"Aku tak akan pergi. Mau makan lagi? Biar aku ambilkan Zayn mengusap anak rambut yang mengganggu pandangannya."
"Tidak." Alexa menggeleng pelan, seraya manik yang masih terpejam. "Tadi aku muntah lagi kak. Sekarang aku hanya ingin di peluk saja." Alexa membuka tangannya, berharap Zayn segera membenamkan tubuhnya dalam pelukannya.
Tanpa berganti pakaian terlebih dulu Zayn menempatkan dirinya di sebelah Alexa. Membawa tubuh wanitanya dalam kenyamanan. Hanya sekedar peluk karna Zayn cukup tau diri dengan tidak bertindak macam-macam. Zayn hanya tak ingin Alexa menganggap jika dirinya hanya memperlakukan Alexa sebagai pemuas nafsunya saja. Keduanya sama-sama terlelap dengan hati yang tenang.
Alexa mengguncang pelan tubuh suaminya, adahal jam menunjukan baru pukul tiga pagi, meskipun di mesjid sudah ada beberapa santri yang melantunkan shalawat.
Zayn membuka matanya secara perlahan, ia juga bukan seseorang yang sulit untuk di bangunkan. "Ada apa? Apa mual lagi?" Zayn mendudukan tubuhnya di samping Alexa yang masih terbaring terlentang.
"Kak, perut bagian bawahku terasa kencang juga jika di tekan seperti ada yang keras mungkin sebesar kepalan anak-anak." Alexa membawa tangan suaminya ke perut bagian bawahnya. Dan benar Zayn juga merasakannya.
Zayn segera membuka ponselnya untuk mencari tau apa yang terjadi, dan dugaannya benar mungkin sesuatu yang ada di perut Alexa adalah bayi mereka yang sedang bertumbuh.
"Ini mungkin dedek bayinya. Jika kau masih penasaran kita akan ke dokter untuk memastikan." Zayn mengusap pelan perut Alexa. "Anak Papa mulai eksis ya, ingin ngasih tau mama sama Papa jika kau tumbuh. Anak pintar." Zayn mencium permukaan perut Alexa, Alexa bahkan tertawa karna merasa geli oleh tingkah Zayn.
"Mari membersihkan diri dan shalat bersama." Zayn mengajak Alexa untuk menghadap sang pencipta untuk memohon ampun juga meminta kebaikan dalam hidup mereka.
__ADS_1
.
Karna Zayn sudah baik padanya dengan menyiapkan sarapan untuknya dan Hanna. Alexa menghadiahkan satu kecupan singkat di bibir Zayn di saat pria itu hendak berlalu ke kamarnya. Jika saja Zayn tak ingat dengan hukuman yang di berikan Alexa mungkin ia akan menarik tubuh istrinya dan meleburkan diri.
Lula yang datang tanpa sengaja sekilas melihat perbuatan Alexa. Dan ia sangat marah sehingga saat Zayn pergi ke kamarnya sebelum mengantar Alexa dan Hanna ke kampusnya. Lula mendatangi Alexa dan memarahi Alexa.
"Lula jangan samakan caramu menggoda pria lain dengan menggoda Gus Zayn. Dia bukan pria murahan yang sepadan denganmu."
Alexa sampai tersentak, ia bukan terkejut karna Lula menyudutkannya melainkan takut jika hubungan merekka di ketahui orang lain sebelum kelulusannya sebagai sarjana. Alexa hanya tak ingin semua orang menganggapnya menyerahkan diri pada seorang dosen demi sebuah nnilai.
Lula mengatakan banyak hal pada Alexa dengan kalimat yang kurang baik. Seakan-akan Alexa adalah seorang perebut kekasih orang lain.
"Jangan terlalu percaya diri Alexa. Gus Zayn membiarkanmu tinggal di sini karna orang tuamu. Gus Zayn bahkan pernah bilang padaku jika dirinya muak saat melihatmu terus menginap di sini." Lula mengarang cerita. Berniat menyadarkan Alexa agar gadis itu pergi dari rumah pria idamannya.
"Benarkah.?"
"Iya, bahkan Gus Zayn mengatakan jika dirinya kesal dan jijik saat kau menyentuh dirinya." Lula terlihat meyakinkan saat mengatakan itu. Tapi Alexa tidak percaya begitu saja mengingat Zayn selalu menyentuhnya semau pria itu.
Bahkan semalam Zayn melindungi kelembutannya dengan menangkup kelembutan Alexa menggunakan jemarinya. Tak mungkin jika Zayn jijik padanya. Sebelum membersihkan diripun tadi pagi Zayn mencium bibirnya padahal Alexa menolaknya karna tidak pede baru bangun tidur. Mustahil Zayn jijik padanya.
Alexa hanya menyunggingkan senyuman tipis. Ia mengerti di balik sikap lemah lembutnya Lula menyimpan perasaan lebih terhadap suaminya.
"Kau menyukai kak Zayn?" Tebak Alexa tepat sasaran.
Lula tak ingin memenendam perasaannya lagi ia akan mengakuinya semua perasaanya, dan berharap Alexa akan mundur dan sadar diri.
"Ya aku menyukai Gus Zayn, dan aku akan menjadi istrinya. Ku harap kau sadar diri dan mundur teratur dari sisi calon suamiku. Kau tak akan mampu bersaing denganku."
Alexa melipat bibir untuk menahan tawanya. Meski Lula cantik tapi Alexa cukup percaya diri karna Zayn sudah menjadi suaminya. Bahkan Zayn selalu memujinya di kala mereka memadu kasih. Ya hanya di saat mereka bercinta saja Zayn akan berlaku manis karna setelah itu Zayn akan kembali ke pengaturan awal menjadi pria kaku sekaku kanebo kering. Alexa mulai mengerti Zayn berlaku seperti itu bukan karna Zayn tidak menginginkannya sebagai istrinya, melainkan kepribadian Zayn memang seperti itu.
Mencintai sepupu rupanya.
__ADS_1
"Ku rasa kau yang tak akan mampu bersaing denganku Lula." Alexa berujar tenang dengan penuh maksud. Tak lupa senyuman sinis juga ia sunggingkan.
"Mari bersaing denganku Alexa." Lula bahkan menyenggol bahu Alexa sebelum ke kamar Hanna.