Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Bujuk suamimu


__ADS_3

"Ayo makan." Alexa menyimpan kotak P3K di laci kamarnya. Zayn mengikuti langkah Alexa yang berjalan mendahuluinya.


"Kapan kita pulang?" bukan Zayn tak betah tinggal di rumah mertuanya hanya saja Zayn memiliki banyak pekerjaan di rumahnya, di samping itu Zayn memiliki tanggung jawab untuk mengurus pesantren yang di pimpin kakeknya.


"Nanti setelah makan." Jawaban Alexa membuat Zayn lega.


Sesampai di meja makan Zayn ke heranan karna tidak ada Mama mertuanya padahal hari masih pagi.


"Mama Green kemana?"


"Keluar kota. Tadi Papa menelpon agar Mama ikut menyusul ke luar kota bersama rekan kerjanya yang lain." Alexa menjelaskan singkat tentang kepergian mamanya.


Alexa mengambilkan Zayn makanan juga menyuruh Zayn membuka mulut. Ya sepertinya Alexa hendak menyuapi Zayn.


"Aaa."


Alexa menyodorkan sesendok nasi goreng di hadapan mulut Zayn yang masih mengatup. Tangan kiri Zayn menahan pergelangan tangan Alexa.


"Alexa aku bisa makan sendiri." Zayn merasa malu seumur-umur dirinya belum pernah di suapi seseorang itu sebabnya dirinya merasa aneh serta tak nyaman.


"Tanganmu terluka Zayn." Ya ampun sopan sekali panggilan Alexa terhadapnya, padahal jarak usia mereka terpaut tujuh tahun.


"Aku masih memiliki tangan kiri."


"Ih, kata Papa Kahfa makan menggunakan tangan kiri itu ga boleh. Setan juga makan menggunakan tangan kiri." Alexa menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya. "Emm, enaknya."


Sebenarnya Zayn masih bisa menggunakan tangan kanannya tapi entahlah ia tak paham dengan hatinya sendiri, di sisi lain ia tak nyaman jika harus di suapi kesannya ia adalah pria lemah tapi sudut hatinya yang lain Zayn menginginkan di perdulikan oleh Alexa. Yang ia hanya ingin tau bagaimana tindakan Alexa selanjutnya.


"Buka mulutmu! Aaaaa." Meski Alexa berujar ketus tapi Alexa tetap memperlihatkan perhatiannya membuat bibir Zayn berkedut tipis.

__ADS_1


Zayn membuka mulutnya, jemari lentik Alexa menggenggam lembut sendoknya. "Apa enak?" Alexa bertanya pendapat tentang nasi goreng buatannya. Sebenarnya bukan nasi goreng sih, ini lebih mirip kepada sosis goreng di campur nasi sedikit, masakannya di dominasi oleh telur dan sosis yang di potong kecil-kecil.


"Enak." Zayn menilai, meskipun kurang asin tapi ini cukup layak untuk di makan. Zayn tak ingin berkomentar buruk ia tak ingin mencari pasal kembali dengan Alexa. Cukup seminggu miliknya akan menganggur, Zayn tak ingin menambah waktu lagi.


Zayn menghabiskan makanannya, begitu juga dengan Alexa.


Alexa menaruh piring kotor ke atas wastafel dan ia meraih jud buah mangga yang di buatkan asisten rumah tannganya. Alexa hendak meminum jusnya sambil berdiri. Namun tiba tiba sepasang tangan merenkuhnya dan menjaga keseimbangan gelas yang berisi jus mangga.


"Biasakan minum dalam kradaan duduk, itu sunahnya. Jangan berdiri itu tidak baik." Zayn membawa tubuh Alexa ke dalam pangkuannya.


"Minunlah." Zayn melepas tangannya dari pegangan gelas Alexa.


Astaghfirullah, apa yang terjadi? Alexa di buat tremor, tangannya bahkan sudah berkeringat dingin. Berada di atas pangkuan Zayn benar-benar berbahaya. Jantungnya kini memompa semakin cepat, Alexa bahkan dapat mendengan detak jantungnya yang nyaring dan menggila.


Dug ... Dug ... Dug ...


"Alexa kau kenapa? Apa perutmu tak nyaman?" Zayn bertanya di sertai ulasan lembut di perut Alexa. Tangannya terasa menyapu permukaan perut Alexa yang tidak terhalang apapun. Sepertinya Zayn menyelinapkan jemarinya di antara atasan Alexa.


Bukannya langsung menjawab Alexa justru kehilangan suara dan sedikit kewarasannya, nada lembut Zayn seketika membuat Alexa meremang. Ia khawatir dirinya yang kehilangan kendali. Alexa mulai terbiasa dengan sentuhan Zayn sehingga ia khawatir justru dirinyalah yang akan luluh lebih dulu dan meminta Zayn untuk menyentuhnya lebih dulu. Jangan sampai ini terjadi.


"Tidak, aku baik-baik saja.. Aku-"


"Alexa, Zayn." sebuah suara mengagetkan keduanya. Rupanya suara itu adalah milik Mama Lexi yang kepikiran dan menyusul Zayn takutnya putranya tidak berhasil membujuk Alexa untuk pulang.


"Mama! Ck ..." Zayn berdecak kesal dan menarik tangannya dari dalam baju Alexa.


"Ma-mama." Alexa segera berdiri dari pangkuan Zayn. Ia kebingungan harus mengatakan apa. Alexa bahkan terlihat salah tingkah.


"Mengganggu saja." Dengus Zayn kesal, sudah dua kali mamanya mengganggu kedekatannya dengan Alexa.

__ADS_1


"Zayn, Alexa jika ingin bermesraan di dalam kamar jangan di ruang terbuka seperti ini. Bagai mana jika yang datang bukan mama?" Mama Lexi duduk di kursi meja makan. Alexa hanya menunduk dengan wajah yang sudah memerah, ia malu.


"Yang selalu mengganggu Zayn hanya mama saja." Zayn kini menuntun untuk Alexa duduk, ia mengerti istrinya tengah malu. "Minum jusnya."


Alexa mengangguk dan meneguk jusnya dengan beberapa kali tegukan.


"Mama pikir kalian berantem itu sebabnya Mama ke sini." Mama Lexi mengambil satu buah jeruk di hadapannya.


"Mama mau makan? biar Alexa siapakan."


"Tidak usah. Kita pulang saja, Mama dan papa akan pergi ke luar negri hari ini untuk honey moon."


"Kemana Ma?"


"Paris."


"Wah itu negara impian aku. Aku boleh ikut Ma?"


"Sayang kau sedang hamil muda, itu sangat beresiko nanti saja ya? Setelah lahiran atau setidaknya sampai kandunganmu kuat." Mama Lexi mengelus perut Alexa.


"Minta bulan madu sama Zayn, bila perlu keliling eropa. Duitnya banyak warisannya apa lagi peninggalan papanya." Mama Lexi nerbisik tapi dengan suara nyaring.


"Itu bisa di atur. Aku tak akan pelit pada istriku asalkan istriku mengerti ke inginanku."


Zayn berdiri dan mengambil kunci mobilnya. "Ayo pulang. Alexa bujuk suamimu agar semua keinginanmu bisa di penuhi." bukan Mama Lexi yang berbicara seperti itu melainkan Zayn sendiri.


"Mama curiga dari kata membujuk versimu Zayn." Mama Lexi memandang Zayn dengan tatapan menyelidik.


"Yup,, Mama pintar. Memang itu maksud Zayn."

__ADS_1


__ADS_2