Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Tunggu musim yang tepat


__ADS_3

Teh hangat beserta pisang goreng sudah terhidang di aras meja yang terbuat dari rotan.


Zayn menghubungi Papanya Kahfa agar mengurus cutinya,baik di kampus tempatnya mengajar maupun di kantor milik kakeknya. Dalam waktu yang tidak Zayn tentukan.


Mang Opik sudah bersiap dengan mengenakan caping di kepalanya. Caping adalah jenis topi yang terbuat dari anyaman bambu yang di pergunakan para petani di pulau jawa untuk melindungi kepala dari teriknya mata hari.


"Mang Opik mau kemana ini masih pagi?" Zayn yang tengah meminum tehnya bertanya, ia heran ini masih pagi tapi mang Opik sudah bersiap. Bahkan kabut di luar rumahpun masih melingkupi.


"Mamang mau pergi ke sawah. Mau nyangkul." Mang Opik juga membawa sebuah wadah berbentuk tas tapi dengan jala, biasa juga di sebut masyarakan setempat dengan korang atau pongkor, gunanya untuk menampung ikan ikan kecil.


"Ga makan dulu mang?" Alexa turut menimbrung dengan omongan suami serta mamangnya.


"Nanti saja di sawah. Bibi akan mengantar makanannya, lagian pula Mamang kan abis sarapan pisang goreng."


Zayn beranjak dari duduknya. "Mang tunggu! Zayn juga ingin ikut, serta belajar caranya mencangkul sawah." Zayn meminjam pakaian Mang Opik yang sering di pakai ke sawah.

__ADS_1


"Tidak usah Zayn. Mamang bisa sendiri, lebih baik Zayn istirahat saja di rumah. Atau jalan jalan keliling kampung." usul Mang Opik, bukan ia menolak Zayn membantunya, hanya saja Mang Opik merasa tak enak jika seorang Gus cucu pimpinan besar pondok pesantren, orang yang di segani turut mencangkul di sawah kecil miliknya.


Zayn tetap memaksa ikut sehingga Mang Opik tidak bisa melarangnya lagi.


Letak sawah milik Mang Opik cukup jauh dari rumah sehingga harus melewati banyak rumah penduduk di kampung. Jalan yang mereka lalu adalah jalan besar lalu kemudian mereka melewati petakan demi petakkan sawah.


Sepanjang perjalanan banyak para warga yang bertanya tentang siapa Zayn karna berjalan dengan Mang Opik karna se ingat warga di sana, Manf Opik tidak memiliki keluarga, keculiali dari kerabat sang istri.


Mang Opik mengatakan jika Zayn adalah suami dari keponakan istrinya. Paras Zayn yang tampan terlihat sangat mencolok di antara orang orang yang berada di kampung. Zayn hanya tersenyum sesekali untuk menyapa. Karna Zayn tidak pandai beramah tamah dengan orang baru.


Zayn kira mereka bwrangkat paling pagi tapi ternyata di sawah sudah ada yang bekerja sejak tadi.


Mang Opik juga beberapa kali memasukan ikan kecil serta beberapa belut ke korang yang menggantung di pinggangnya.


Cukup lama Zayn dan Mang Opik mencangkul. Hingga dari ke jauhan Zayn dapat mendengat istrinya berteriak memanggil namanya di antara suara Aliran air irigasi yang terdapat di sana.

__ADS_1


"Kak Zayn ... Kak Zayn ..." Suara riang itu terdengar riang. Wanita miliknya juga menenteng sendal jepit miliknya sendiri


Zayn tersenyum mendapati tingkah istrinya yang terkesan seperti anak kecil.


Di belakang Alexa terdapat Bibi Aliyah yang membawa beberapa rantang makanan serta makanan lainnya. Bibi Aliyah segera menuju saung milikinya.


Tadinya Alexa ingin turut turun dan bermain lumpur. Namun Mang Opik melarangnya, mereka harus makan terlebih dahulu.


Alexa menunggu Zayn yang tengah membersihkan lumpur di tubuhnya menghunakan air irigasi. "Bagaimana kak? Enak nyangkul?"


"Lebih enak ngegarap istri sih menurutku." Zayn menertawakan pikirannya yang mulai kumat.


"Sabarlah. Tunggu musim yang tepat untuk bercocok tanam." sahut Alexa.


Hebat sekarang Alexa ada kemajuan bisa di ajak bercanda tentang anu.

__ADS_1


"Nanti aku ajarin caranya, menyenangkan suamimu ini tanpa harus bercocok tanam." Zayn berbisik di antara telinga Alexa.


"Dasar mesum."


__ADS_2