Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Apa alasannya


__ADS_3

Sudah satu minggu Zayn menemani Om Ali juga Papanya di negri singa. Namun hubungannya dan Alexa semakin merenggang. Istrinya itu semakin jarang mengabari ataupun mengangkat panggilan darinya.


Padahal hari ini adalah hari kelulusan Alexa dan Hanna. Tapi wanita itu tidak menghubunginya sama sekali. Berkali kali Zayn menghubungi Alexa namun wanita itu seakan tuli dan mengabaikannya.


Zayn hanya mendapat potret wisuda Alexa dari Hanna, istrinya itu tampil cantik dengan kebaya berwarna merah maroon di padukan dengan jilbab senada, dengan topi toga di kepalanya.


Zayn merasa bersalah karna tak bisa menyaksikan proses wisuda istri serta adiknya.


Pengobatan Lula tak mengalami perkembangan sama sekali, gadis 23 tahun itu masih setia menutup matanya di rumah sakit. Untuk pertama kalinya Zayn mengharapkan kematian atau kesembuhan seseorang ia terasa tertawan di negara itu. Tak enak pula jika ia harus pulang ke negrinya sedangkan sedikit banyak penyebab Lula bunuh diri adalah dirinya.


.


"Alexa sebaiknya kau pikirkan lagi keputusanmu untuk menggugat cerai Zayn. Jangan gegabah Alexa, jangan suatu saat nanti kau menyesal." Papa Azam menasehati putrinya yang kini tenah berada di kantor pengadilan agama.


"Justru jika Alexa yang tetap memaksa Zayn untuk bersama Alexa, Zayn tak akan bahagia. Dia tidak mencintaiku Pa. Dia hanya tak berani mengambil tindakan karna sudah menghamiliku dulu. Sebenarnya dia juga sudah merasa hubungan kami hambar Pa." Alexa tetap kukuh dengan keputusan dan menurut sudut pandangnya saja, Alexa juga tak bertanya tentang apa yang di inginkan Zayn. Ia hanya mengambil kesimpulan dengan apa yang ia dengar waktu itu saja. Tentang keraguan Zayn yang mungkin saja berniat melepasnya.


Setelah lebih dari tiga minggu Lula menjalani perawatan di rumah sakit luar negri, akhirnya Lula di nyatakan meninggal dunia. Papa Kahfa, Om Ali dan Zayn sama sama pulang ke tanah air dengan membawa jenazah Lula.


Lula di kebumikan di pemakaman keluarga pesantren.


Zayn dapat melihat Alexa di antara kerumunan orang orang. Namun Alexa terlihat menghindarinya, membuat Zayn bertanya tanya dengan sikaf Alexa akhir akhir ini yang berubah terhadapnya.


"Alexa." Zayn memanggil dan mengikuti Alexa berjalan menjauh darinya. Ia menangkap tangan Alexa dan berusaha menggapai tubuh yang amat ia rindukan keberadaannya.


"Apaan sih?" Alexa memberontak dan mendorong tubuh Zayn ia tak ingin di peluk oleh suaminya sendiri.


"Ada apa Alexa? Kau terlihat menghindariku " Zayn terus memaksa memeluk tubuh istrinya.


"Lepas ih. Malu."


"Malu? Siapa yang akan mempermalukanmu? Aku suamimu Alexa. Wajar aku memelukmu aku merindukanmu." Zayn memeluk erat tubuh mungil itu dan menghirup aroma tubuh yang ia rindukan. Bahkan bagian tubuhnya yang lain sudah bereaksi saat sudah menempel dengan wanita halalnya.


Mereka sudah lama tak melakukan penyatuan. Jika di hitung hitung lebih dari dua bulan, Alexa juga sudah suci sejak beberapa minggu lalu kan?


"Aku merindukanmu. Malam ini kita akan melalui malam pengantinkan?" Zayn berbisik dengan nada menggoda.


Alexa tak bereaksi apapun. Mulutnya masih mengatup rapat, ia sudah mempersiapkan sesuatu untuk Zayn sejak jauh jauh hari. Namun tiba tiba nyalinya menciut. Ya sedikit tak berani menatap ke arah Zayn. Ia juga tak kuasa menghilangkan binar di mata pria yang masih menjadi suaminya.


Pemakaman Lula sudah selesai dan beberapa kerabat banyak yang pulang.


Mama Lexi, Papa Kahfa, Hanna dan Juga Raffa tengah berbincang ringan. Mendengarkan cerita Papa Kahfa selama menemani Papanya Lula di luar negri.


"Sayang temani aku istirahat yuk." tak sedikitpun terbesit di pikiran Zayn jika Alexa tengah merencanakan sesuatu. Bagi Zayn hubungannya dengan Alexa tidak bermasalah.

__ADS_1


"Aku harus pulang dulu sebentar bersama Papa. Kau di sinilah lebih dulu! Aku memiliki kejutan untukmu." ujar Alexa datar, namun tangannya sudah gematar. Entahlah tiba tiba ia merasa tremor. Membayangkan reaksi Zayn.


"Kejutan? Tapi aku tidak sedang berulang tahun." Zayn mengerutkan keningnya dalam sangat jarang Alexa memberinya kejutan.


Alexa kembali bungkam.


"Jangan pulang! tetaplah di sini bersamaku. Aku merindukanmu." Zayn menyampirkan wajahnya di pundak Alexa, mencoba membujuk sang istri agar tidak meninggalkannya. Ayolah Zayn merindukan wanitanya, sudah beberapa waktu Zayn tidak menyentuh wanita, tentu saja ia sangat menginginkan kehangatan.


"Tapi." Sangkal Alexa, belum sempat Alexa menyelesaikan pembicaraannya Zayn sudah menggendong Alexa dan membawanya ke kamar mereka hingga mendapat sorakan dari Hanna dan Mama Lexi.


"Kemana Zayn?" Teriak Papa Kahfa sengaja.


"Biasa Pa, nafkahin istri." Zayn menyaut sembari berlalu dengan Alexa di gendongannya.


"Kak Zayn." Alexa terpekik dalam gendongan suaminya.


Zayn memasuki kamarnya dan merebahkan Alexa di atas ranjang miliknya kemudian ia kembali menutup dan mengunci pintunya. "Takut ke gep sama Mama lagi." Zayn menampilkan urutan giginya yang rapi dan langsung mengungkung tubuh Alexa.


"Ma-mau apa?" Alexa seolah tak paham akan tatapan nakal Zayn yang kini berada di atas tubuhnya.


"Mau memuaskan diriku juga dirimu." Zayn membenamkan ciuman panas di bibir istrinya.


Zayn mendominasi sentuhan terutama di dua benda kembar favoritenya. Alexa tak kuasa untuk menolak, di samping ia juga merindukan sentuhan seorang pria, ini juga masih kewajibannya sebagai seorang istri. Mungkin ini akan menjadi kewajiban Alexa untuk yang terakhir kalinya.


"Kak, ini masih siang!" Alexa berpaling dari hadapan Zayn.


"Kenapa memangnya? Kau istriku. Halal untukku mendatangimu kapanpun." Zayn membuka kerudung istrinya dan mulai mengecupi ceruk leher istrinya.


"Lucuti pakaianku!" Zayn merentankan tangan, menyuruh Alexa untuk membuka habis pakaiannya. Alexa menelan gumpalan ludahnya dengan susah payah, mencoba menetralkan perasaannya yang berkecamuk di dalam rongga dadanya.


Alexa mencoba membuka satu persatu kemeja hitam yang di kenakan oleh Zayn, Zayn mulai gelisah saat pergerakan Alexa melambat. Ia sudah tak tahan, bagian tubuh utamanya bahkan sudah mengeras sedari tadi.


"Biar ku buka sendiri." Zayn segera membuka sisa pakaian yang ia kenakan menampilkan sesuatu yang selalu membuat Alexa berdecak kagum.


Zayn juga membuka pakaian yang di pakai Alexa dengan sangat cepat dan melemparnya ke sembarang arah.


"Kak, kau punya pengamankan?" tanya Alexa.


"Pengaman?"


"Ya, bukankah kau bilang mau menunda kehamilan?" sebenarnya itu alibi Alexa saja, ia tak ingin jika Zayn melepas benihnya di dalam rahimnya.


"Setelah ku pikir pikir, kita tidak perlu menunda apapun. Aku akan membiarkan jika kita akan mendapatkan rejeki berupa bayi." Zayn benar benar berubah pikiran ia sudah tidak tahan lagi.

__ADS_1


"Ayo." Ajak Zayn.


"Aku ingin coba pakai pengaman." Dusta Alexa.


"Ya sudah." Zayn berjalan menghampiri nakas dan mengambil sebuah bungkusan berbentuk persegi dan membukanya menggunakan mulutnya.


"Tapi jika tak enak aku buka kembali ya." Zayn memasangkan pengaman di miliknya, dengan aroma berprisa strawbery.


"Tapi ..." Alexa tak dapat menyelesaikan ucapannya Zayn sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Zayn sungguh tak melepaskan Alexa walau sedetikpun. Ia benar benar meleburkan dirinya dalam kerinduan yang luar biasa membuncah.


Zayn meneriaki nama Alexa berkali kali. Suara suara khas percintaan menggema di semua sudut kamar.


Alexa membiarkan Zayn memiliki tubuhnya kembali, hanya dengan sebuah pengaman yang menjadi pembatas di antara penyatuan mereka.


"Aku mencintaimu."


"Terimakasih."


Seperti biasa Zayn melabuhkan satu kecupan di antara keningnya yang terasa lembab. Kemudian Zayn terlelap ke alam mimpi setelah meluapkan hasratnya.


Alexa menatap kembali tubih Zayn yang terbaring tanpa pakaian di kasur miliknya. Selepas pergulatan panasnya beberapa waktu lalu.


Saat Zayn bangun, Alexa sudah duduk menunggunya dengan pakaian yang sudah ia lengkap.


"Kak. Bersihkan tubuhmu. Aku menunggu di ruang depan." Alexa berlalu lebih dulu, meninggalkan Zayn yang baru saja terbangun. Di tangannya terdapat sebuah map.


Sudah ada Papa Kahfa dan Mama Lexi, juga Papa Azam di ruang tengah. Zayn turut duduk di samping Alexa.


Wanita itu menyodorkan satu buah map berisi selembar surat yang membuat Zayn terkejut luar biasa.


Surat dengan tanda timbangan di ujung atas kertas tersebut.


"Apa maksudnya semua ini Alexa?" Zayn tampak berang dengan tatapan penuh amarah.


"Hubungan kita harus berakhir!"


"Apa alasannya?!"


Brak.


Pyarr.

__ADS_1


Zayn menggebrak meja hingga meja kaca itu pecah berhamburan. Rasanya kehancuran meja kaca itu tak sebanding dengan kehancuran hati Zayn saat ini.


__ADS_2