
"Beraninya kau menyentuh milikku!!!"
Bugh ...
Bugh ...
Zayn menghajar tubuh pria yang sudah berani memeluk tubuh istrinya.
"Kak, berhenti!" Alexa berteriak.
Tubuh pria itu tergeletak di atas lantai. Dirinya masih cengo dengan ekspresi kaget, jangankan untuk melawan, menghindar saja dirinya tak mampu. Zayn tak main-main dengan pukulan demi pukulan yang di layangkan padanya.
Pria itu meludah darah, juga dengan beberapa bagian wajahnya yang sakit. Tidak hanya itu perut dan dadanya juga sakit akibat pukulan pria yang mengaku sebagai suami adik sepupunya.
Kesalahannya sepele, hanya karna memeluk adik sepupunya pria itu menghajarnya hingga babak belur.
Alexa turut membantu pria itu untuk berdiri. Yang mana justru hal itu membuat Zayn semakin murka. "Alexa jangan samakan pergaulan mu dengan setatusmu kali ini!"
Hal itu semakin memancing emosi Zayn.
Zayn menarik Alexa hingga tubuh Alexa ia sembunyikan di balik punggung kekarnya.
"Kau harus tau satu hal. Alexa istriku! Dia milikku!" Zayn bahkan mengacungkan satu jarinya di hadapan pria itu dan setelahnya Zayn meninggalkan pria itu dengan menyeret tangan Alexa secara paksa.
Pria itu tidak melakukan apapun ia hanya mematung di tempatnya dengan wajah yang terlihat kesulitan mencerna keadaan.
Zayn tidak membiarkan Alexa menjelaskan apapun. Ia tengah marah sekarang.
Zayn terus menerus menarik tangan Alexa tanpa memperdulikan suara Alexa yang merintih ke sakitan. Satu tangan Zayn masih membawa pelastik obat yang Zayn ambil dari mobilnya tadi.
__ADS_1
"Sakit kak." Alexa terlihat kesulitan menyeimbangkan langkah kaki Zayn lebar.
"Baru beberapa menit aku meninggalkanmu kau sudah bertingkah Alexa!" Zayn membuka pintu mobilnya dan memasukan tubuh mungil istrinya kedalam mobil miliknya.
Zayn mengitari mobil dan duduk di balik stir kemudi.
"Dia kakakku."
"Kakak. Heh, kau pikir aku tak tau kau anak sulung." Zayn tau benar jika Alexa tidak memiliki kakak, mereka nyaris tumbuh bersama sejak 12 tahun terakhir.
"Dia memang kakakku. Lebih tepatnya kakak sepupuku. Dia anaknya om Edwin kakak dari mamaku namanya Arfan."
"Apa pantas? Hah bagimu berpelukan dengan seorang pria di tempat umum padahal kau adalah istriku? Dimana otakmu Alexaaa?" Zayn membentak Alexa bahkan menunjuk kening Alexa dengan aura jengkel.
"Tadi dia-"
"Sekalipun pria itu kakak sepupumu sendiri! Hal itu tetap tidak boleh di lakukan."
"Aku dan Alena sepupuan. Kami tidak pernah melakukan apa yang kau dan dia lakukan. Jangankan pada Alena pada Anna saja aku bisa menghitung berapa kali aku memeluknya." Zayn memang jarang sekali memeluk Hanna, sekalipun Anna adalah adiknya satu-satunya. Zayn tidak menyukai saat ada orang menyentuh tubuhnya, ia merasa risi sekalipun oleh keluarganya sendiri.
"Dan lagi Alexa, pria itu bukan mahrammu. Meski sepupuan kalian masih sah untuk di tikahkan. Lihat saja jika kau masih berani memeluk pria selain aku! Aku sendiri yang akan mematahkan tulang punggungmu!" Alexa meneguk salivanya yang terasa alot.
Mematahkan tulang punggung? Apa Zayn pikir semudah itu? Dan lagi Alexa juga tidak tau menau jika mereka akan bertemu di restoran itu, ia juga tak menyangka akan di peluk tiba-tiba lagian Alexa juga tidak membalas pelukan Arfan kakak sepupunya itu, di karnakan ia masih tak mengira jika ia akan bertemu dengannya.
Rasanya Alexa percuma saja menjelaskan disaat Zayn tengah terlihat emosi, lebih baik ia diam saja. Alexa mengusap pergelangan tangannya yang di cekal oleh Zayn dengan sangat kasar seakan Zayn ingin meremukan tulang tangannya.
Alexa terus diam meskipun Zayn sudah menjalankan mobilnya. Alexa hanya mengelus pergelangan tangannya beberapa kali yang terasa sakit juga memerah.
"Kita makan di rumah saja." Zayn berujar, sesekali matanya ia lirikan ke arah Alexa yang kini membuang pandangannya ke arah jendela.
__ADS_1
Zayn kembali melirik Alexa yang sedari mengelus pergelangan tangannya. "Ck." Zayn hanya berdecak. Untuk meminta maafpun rasanya enggan, salah Alexa sendiri cari gara-gara denannya.
"Kita mampir ke mini market sebentar." Alexa masih bungkam sekalipun Zayn mengajaknya bicara.
"Mau tunggu di sini atau ikut ke dalam?" Zayn memarkirkan mobilnya di depan mini market yang tak jauh dari rumahnya itu.
Alexa masih setia dengan kebungkamannya sehingga dirinya di buat menghembuskan napas berkali-kali. Benar yang orang katakan diamnya seorang wanita itu menyiksa.
"Tunggu di sini sebentar ya, aku hanya ingin membeli sesuatu. Hanya sebentar!" Zayn turun dari mobilnya menuju mini market. Dirinya membeli susu khusus untuk ibu hamil dengan berbagai varian rasa dari merek yang menjadi rekomendasi dokter Aida.
Zayn tidak membeli apapun lagi selain susu beberapa kotak susu dan sebuah salep untuk mengobati pergelangan tangan istrinya. Tidak ia pungkiri sisi manusianya merasa tak tega saat melihat Alexa kesakitan karna ulahnya sehingga ia membeli obat untuk mengobati luka yang ia timbulkan.
Tak ingin membuat Alexa menunggu terlalu lama Zayn segera membayar belanjaannya, beruntung di sana tidak mengantri sama sekali. Namun ada saja yang membuat Zayn kesal di karnakan kasir mini market itu banyak tanya, dan membuang wantunya dengan percuma.
"Cepat Mbak. Saya buru-butu!" Zayn berujar tegas. Membuat mbak kasir di sana merasa tak enak dengan Zayn.
Zayn berjalan dengan setengah berlari, ia cukup lama berada di mini market hingga menghabiskan waktu 20 menit. Zayn bahkan tidak sempat untuk membeli minum takutnya Alexa kesal padanya karna terlalu lama menunggu.
Namun Zayn di buat panik saat kembali ke mobilnya, ia sama sekali tak mendapati keberadaan Alexa. Membuat Zayn berpikir jika Alexa kembali melarikan diri.
Zayn melemparkan belanjaannya kedalam mobil.
"Alexaaa ..." dengan panik Zayn mencari keberadaan istrinya, nemanggil-manggil nama Alexa berulang kali.
"Alexaaa ..."
Zayn bertanya kepada beberapa orang, hingga ke pangkalan ojek, tapi tidak ada yang melihat kemana Alexa pergi.
Zayn menghubungi ponsel Alexa, aktif tapi tidak di angkat. Pasti Alexa sengaja melakukan itu pikir Zayn. Zayn terus mencari-cari Alexa tapi gadis itu belum juga di temukan.
__ADS_1
Sial Zayn merasa bodoh, mengapa bisa ia memberikan cela pada Alexa sehingga gadis itu kembali menghilang.