
Mama Lexi, Alexa, dan Hanna duduk di meja makan bagian kiri. Sedangkan ibu Murni, Raffa dan Raffi duduk di meja makan sebelah kanan. Ke enamnya sedang makan siang bersama.
Hanna tampak anggun dengan makanannya, tentu ia menjaga image di depan calon suami dan calon mertuanya. Sedangkan Alexa tidak terlalu suka makan dengan anggunly, dia tetaplah seperti biasa makan dengan lahap tanpa memperdulikan tamunya, yang terpenting Alexa tetap sopan. Itu saja sudah cukup untuk menghormati tamunya.
"Makanannya sangat enak enak." puji ibu murni. Ia tak bohong memang masakannya enak dan pas.
"Mama dan Hanna yang masak tante." ujar Alexa. Ia juga sengaja menyanjung Hanna di depan calon mertua iparnya.
"Wah. Pintar sekali Hanna memasak."
"Tidak terlalu pintar, tante. Mama yang ajarin." tutur Hanna sopan.
"Alexa juga bisa masak?" tanya ibu Murni. Ia hanya berbasa basi sedikit dengan menantu besannya.
"Hehehe ..." Alexa menyengir kuda, memamerkan deretan giginya yang rapih. "Tidak tante. Aku tidak pandai memasak, untung saja suamiku tidak pemilih soal makanan. Apapun yang ada dia makan. Dia juga tidak menuntutku untuk bisa memasak. Namun aku sadar diri jadi kadang belajar dikit dikit dengan Mama." Alexa tersenyum canggung.
"Zayn tidak sendiri. Aku juga bukan pemilih soal makanan. Aku juga tidak mengharuskan istriku nanti bisa memasak. Tapi jika Hanna pandai memasak itu sih bonus." Raffa mengulum senyum saat menyadari pipi calon istrinya merona.
"Aku juga begitu. Sekarang jamannya juga sudah modern tidak melulu mencari istri yang pandai masak. Makanan banyak terjual sekarang, lagi pula aku pandai memasak, siapapun yang akan menjadi istriku pasti beruntung akan aku masakan setiap hari. Jika kau berkenan menjadi istriku pendaftaran masih ku buka." Raffi melirik Alexa, pernyataan itu memang ia tunjukan untuk wanita yang tengah menggetarkan hatinya saat ini.
"Maaf Alexa. Raffi memang sering bercanda." ujar Bu Murni tak enak.
"Aku serius Bu." Sergah Raffi.
"Kau pikir kau saja yang pandai memasak suamiku juga pandai memasak. Aku juga sering di masakkan olehnya." bohong Alexa. Padahal Zayn hanya pernah beberapa kali memasak untuknya itupun karna terdesak. Namun Alexa tak ingin menampakan kelemahan suaminya.
"Wah benarkah? Kau beruntung jika begitu. Tapi wanita cantik sepertimu memang layak mendapatkan keistimewaan." puji Raffi.
"Anak muda. Jangan terlalu memuji menantuku." Mama Lexi tak suka dengan ucapan Raffi yang menurutnya lancang.
__ADS_1
"Aku hanya memuji saja tante."
Alexa memutar bola matanya malas. Ia tak bodoh terang terangan Raffi menyukainya dan menunjukan sisi lain ketertarikan terhadapnya.
Saat Raffi pamit ke toilet, Raffa dengan segera menyusul adiknya, ia perlu mengingatkan Raffi supaya adiknya itu tidak bertingkah semaunya dan berujung mempermalukan keluarga dan drinya.
"Raffi." Raffa mencegat jalan adiknya setelah keluar dari kamar mandi.
"Abang mohon jaga sikafmu pada istrinya Zayn. Dia bukan seorang gadis apa lagi wanita lajang yang kerap menghabiskan malam denganmu. Dia wanita terhormat Raffi, tolong bedakan perlakuanmu. Alexa istri seorang Gus." Raffa berujar pelan takutnya ada yang menelinga.
"Aku tau Alexa istri Gus Zayn. Tapi pernikahan mereka tak normal kak. Mereka hanya terikat kesalahan. Aku yakin cepat atau lambat Alexa dan Gus Zayn akan berpisah. Sama seperti abang dan Rosa. Mereka tak saling mencintai Bang. Aku janji setelah menikahi Alexa aku akan jadi orang yang lurus Bang."
"Kau tak waras Raffi! Jangan permalukan Abang dan keluarga kita." Raffa mengacungkan satu jemari telunjuknya di hadapan adiknya.
"Apa masalahnya dengan Abang. Yang penting aku tak mengusik calon istri Abang." pria 26 tahun itu melenggang pergi meninggalkan kakaknya sendiri.
Raffa memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri, kelakuan adik satu satunya itu benar benar di luar prediksinya. Tau begini Raffa tak akan mengajak Raffi untuk melamar calon istrinya.
Seminggu telah berlalu dan tiba lah dimana hari pernikahan Hanna dan Raffa di gelar.
Ijab kabul sudah di laksanakan tadi pagi di kediaman mempelai wanita. Sedangkan dari siang hingga malam di gelar resepsi mewah dengan banyaknya tamu undangan.
Pestanya sangat meriah di salah satu gedung hotel milik Raffi. Dekorasi modern membuat pesta itu terlihat sangat mewah.
Semua orang larut dalam kegembiraan. Hanya seorang wanita yang terlihat sedih dan juga seorang bocah perempuan yang kini naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada Raffa dan Hanna.
Usut punya usut, dia lah wanita bernama Rosa. Mantan istri dari Raffa sendiri.
"Selamat atas pernikahan kalian semoga ini yang terakhir untukmu Mas Raffa. Maaf sudah sempat mengacau hidupmu beberapa tahun lalu." suara itu terdengar bergetar di telinga. Wanita itu menunduk untuk menyembunyikan raut sedih yang tak bisa ia sembunyikan.
__ADS_1
"Terima kasih." Raffa berjongkok. Serta mendaratkan satu kecupan di pipi gadis kecil, yang Hanna tafsir usianya sekitar empat atau lima tahun itu.
"Celamat papa." ujar bocah kecil yang mengenakan gaun berwarna hitam. Seakan hari pernikahan Raffa dan Hanna adalah hari berkabung untuk bocah dan wanita yang menghampiri Hanna dan suaminya di pelaminan.
"Terimakasih. Dela sudah datang." sekali lagi Raffa mengecup pipi anak itu, sebelum ibunya membawa putrinya turun dari pelaminan.
Hanna tak mengatakan apapun. Dirinya hanya menampilkan seulas senyum sebagai tanggapan. Ia canggung saat berhadapan mantan istri suaminya.
Hanna sempat bertanya tanya apa alasan Raffa dan istrinya bercdrai, padahal mereka memiliki seorang putri yang menggemaskan. Apakah Raffa dan wanita itu Egois sehingga tak memperdulikan gadis kecil mereka, yang bahkan belum mengerti tentang perpisahan orang tuanya. Gadis kecil itu terlihat riang meskipun hadir di pernikahan papanya dengan wanita lain. Gadis bernama Dela itu belum mengerti tentang kepelikan hubungan orang dewasa.
"Apa penyebab perceraianmu dengan wanita itu?" tanya Hanna datar. Matanya tak melihat ke arah pria yang tadi pagi sudah menjadikannya istri. Tatapannya tetap lurus kedepan memandangi para tamu yang tengah menyantap jamuan yang tersedia.
"Kami memiliki perjanjian sebelum menikah. Dan di saat perjanjian itu berakhir kami memutuskan untuk menyudahi pernikahan kami. Banyak hal yang ku sembunyikan dari semua orang, tapi aku akan mengatakannya terhadapmu suatu saat nanti." Raffa memegang tangan Hanna yang terasa dingin. Tapi Hanna menarik kembali tangannya, ia canggung sekaligus tak nyaman saat berdekatan drngan seorang pria yang menurutnya asing.
"Kita sudah halal. Hanna, tak masalah jika aku menggenggam tanganmu." Raffa menarik kembali tangan Hanna untuk ia genggam.
Tiba waktunya untuk melempar bunga layaknya di sebuah pernikahan anak muda pada umumnya. Semua kerabat Raffa dan Hanna bersorak, begitupun dengan para teman mereka. Semua para lajang berharap jika mereka akan mendapat lemparan bunga dari pengantin baru itu. Mitosnya jika mereka mendapat lemparan bunga dari pengantin merekalah yang akan menyusul menikah selanjutnya.
Zayn dan Alexa tidak antusias sama sekali, mereka tetap duduk dengan tenang di tempatnya, sesekali menikmati kudapan manis. "Aku berharap Yuli yang dapet kak. Biar dia ga ngecengin aku terus." ujar Alexa dengan cekikikannya.
Zayn hanya tersenyum, memang benar Yuli adalah orang yang selalu menggoda Alexa karna berhasil menikahi Zayn seorang dosen killer di kampus mereka.
"Satu. Dua, tiga." semua orang mulai menghitung di iringi lemparan satu buket bunga dari kedua pengantin yang duduk di pelaminan.
Dan.
Pluk ...
Lemparan satu buket bunga itu mendarat tepat di pangkuan Alexa yang tengah menikmati sebuah cup cake. Semua bersorak kecewa merasa tak adil jika bunga yang di lempar pengantin mendarat pada seseorang yang sudah menikah.
__ADS_1
"Hay. Ada apa? Ini hanya bunga. Kalian bagikan saja bunganya." Alexa beranjak dan memberikan bunganya kepada tangan Yuli. "Aku sudah menikah. Dan tak percaya mitos." ujarnya ringan.
"Apa ini pertanda jika kau akan ku nikahi?" seulas senyum tipis Raffi sunggingkan di bibirnya.