
"Sebenarnya do'a apa yang kau langitkan Alexa? hingga aku tak pernah tertarik dengan gadis manapun." Zayn menatap lekat manik istrinya.
"Aku hanya berdo'a semoga siapapun yang akan menjadi suamiku. Tidak melirik wanita manapun selain aku. Baik mata dan hatinya hanya tertuju untukku saja, dan tabarakallah ternyapa pria itu adalah dirimu kak."
"Jangan katakan jika yang kau do'akan kala itu adalah Adam!"
"Hey, aku tak menyebut nama siapapun." Alexa merasa tak terima. Tangannya repleks mencubit perut bawah Zayn hingga Zayn mengaduh.
"Aww, sayang hati hati! Kena si Joni bisa bahaya, kau tak akan berteriak lagi."
Entah mengapa Zayn semakin pintar saat membahas sesuatu ke arah membuat bayi.
.
Kehamilan Alexa semakin besar, Alexa semakin kesulitan menggerakan seluruh tubuhnya karna perutnya yang sangat besar membatasi setiap pergerakannya.
Alexa sampai tak bisa buang air kecil sambil berjongkok. Setiap buang air kecil Alexa selalu berdiri, semakin sering pula frekuensinya, nyaris dua jam sekali.
Hari ini adalah dua minggu menjelang kelahiran kedua bayinya. Zayn yan bersiap menyambut kedua anaknya bahkan sudah mempersiapkan setiap halnya dengan sangat detail. Mulai dari pernak pernik hingga beberapa hal lain sudah Zayn siapkan dengan sangat matang.
Zayn bahkan mulai mengambil cuti kerja mulai hari ini, karna tak ingin melewatkan satu momentpun menyambut kehadiran calon buah hatinya. Beruntung ia bekerja di perusahaan milik keluarganya sehingga ia tidak kesulitan untuk mengambil cuti sesuai keinginannya.
Pagi pagi seperti biasa Zayn menemani Alexa jalan jalan di halaman rumahnya, mundar mandir sesuai saran dari dokter. Mendekati hari persalinan, Zaynpun di untungkan dengan ini, karna hampir setiap malam Zayn menengok calon bayinya. Meskipun Alexa hanya pasrah saja saat Zayn mendatanginya, di karnakan Alexa tak bisa mendominasi petmainan di karnakan perutnya yang semakin membesar.
Cepat lelah, juga sering berkeringat sekalipun di tempat ber ac selalu di rasakan Alexa setiap saat.
"Kakimu semakin gemoy yank." Ujar Zayn sembari mengambil kaki Alexa untuk ia pijat, mereka tengah beristirahat setelah beberapa saat berjalan jalan.
"Lucu kan? Kaki gajah saja kalah oleh kakiku hihihi ..." Alih alih tersinggung Alexa justru malah terkikik geli oleh ucapan suaminya.
Zayn pun turut tertawa bersama Akexa, tak ada lagi raut kaku di wajahnya saat bersama Alexa. Tapi saat bersama dengan orang lain Zayn akan kembali ke pengaturan awalnya.
"Bukan lucu, tapi menggemaskan." Zayn menunduk mengecup punggung telapak kaki Alexa.
"Kak Zayn." Alexa menjauhkan kakinya, ia tak ingin ada seseorang yang melihat kejadian itu, apa anggapan orang lain jika seorang Gus mencium punggung kakinya. "Surga kak Ada di tepak kaki mama."
"Itu sebagai anak Yank, jika sebagai suami surgaku ada di pankal kakimu."
__ADS_1
"Kak Zayn!" Alexa terpekik bersamaan dengan kedua anaknya yang berada di dalam perut bergerak gerak sampai Zayn dapat melihat bagaimana perut itu bergoyang goyang.
"Shh ..." Alexa berdesis. Punggungnya sengaja ia condongkan ke belakang, tujuannya untuk memberi ruang agar batmyinya dapat bergerak bebas.
"Apa sakit?" Tanya Zayn khawatir tangannya dengan sigap mengelus perut besar Alexa.
"Tidak. Hanya ngilu juga sedikit sesak." Jawab Alexa jujur.
"Ya, yah ... Ko basah? Kak sepertinya aku mengompol lagi." Alexa memang semakin kesulitan menahan air seninya, bahkan pagi tadi Zayn harus mengepel kamarnya karna Alexa mengompol sebelum sampai di kamar mandi.
"Tidak papa. Ayo kita mandi, setelah itu kita makan buah." Zayn membantu Alexa untuk berdiri dan berjalan menuju ke rumahnya.
"Kak ko air pipisnya ga bisa di tahan ya? Terus rembes ini." Di teras rumah Alexa menghentikan lengkahnya dan menunjukan sebelah kaki bengkaknya dengan air bening yang terus mengalir meski tak banyak dari jalan lahirnya.
"Ada apa?" Mama Lexi menghampiri keduanya, ia sudah kembali bisa berjalan, meskipun tak kuat jika berjalan terlalu jauh dan tak tahan jika terlalu lama betdiri.
"Ini Ma. Alexa ga bisa nahan pipis dari tadi, urinnya keluar terus." ujar Zayn.
"Coba mama lihat." Alexa mengangkat, sedikit daster panjangya dan di kakinya masih menucurkan air.
"Tapi Alexa belum mulas Ma, jangan panik lagian kahirannya masih dua minggu lagi." ucap Alexa santai.
"Dua minggu itu perkiraan lahir Alexa, tepatnya kelahiran hanya Allah lah yang tau. Cepat berkemas kita ke rumah sakit sekaran!" Titah Mama Lexi sembari mengikuti Alexa kekamar menantunya untuk bersiap.
"Aku mau mandi dulu Ma."
Zayn ikut ke kamar mandi untuk memandikan Alexa. Sebenarnya Zayn sudah panik, tapi pria itu berusaha bersikaf setenang mungkin agar Alexa tetap enjoy.
"Kakk Zayn. Lihat di celana dalamku ada len dir juga bercampur darah. Hihihi ... Masa lagi hamil mau datang bulan sih." Alexa memang polos polos oon, Zayn sudah keringat dingin, ini memang tanda tanda yang terjadi pada ibu hamil yang siap melahirkan.
"Ayo cepat mandinya. Kita harus periksa."
"Aww ... Shhh ..."
"Kok pingganggangku sakit ya kak?" Ya salam Alexa malah curhat, tidak taukah jika Zayn sudah panik.
"Mandinya cukup." Zayn mengambil handuk. Saking besarnya perut Alexa handuk yang biasa Zayn pakai sampai tak dapat menutupi seluruh perut Alexa saat di belitkan.
__ADS_1
"Kak, kok sekarang tambah sakit sampai ke punggung pula." Alexa mulai mengadu dan mendesah karna sakit.
"Kau hendak melahirkan Alexa."
"Aku sakit pinggang kak, bukan mulas." Bantah Alexa.
"Ya sama saja."
Di bantu mama Lexi, Zayn mempersiapkan Alexa.
Zayn sampai membawa supir Msmanya, takitnya ia tak fokus saat berkendara.
"Kak semakin sakit." Alexa kini sudah menangis, rasa sakit yang menyerang pinggangnya srmakin sering terjadi.
"Sabar ya." Zayn menggosok pelan pinggang Alexa juga ia peluk tubuh istrinya.
"Kak aku ingin lahiran normal. Tapi bagai mana jika?"
"Stt. Jangan pikirkan aoapun. Fokuslah berdoa dalam hati. Sebut asma asma Allah. Insya Allah semuanya akan lancar." Zayn mengecup kening Alexa yang sudah di banjiri keringat.
Butuh waktu 30 menit untuk sampai di rumah sakit.
At hendak turun dari mobil Alexa tiba tiba merasa melilit di perutnya dan dari dalam miliknya keluar banyak air secara tiba tiba.
"Astaghfirullah. Apa itu?" Zayn sudah pucat pasi bibirnya nyaris seperti vampir, sepertinya jika Tubuhnya di bacok Zayn tak akan mengeluarkan darah.
"Kak semakin sakit." Alexa sudah menangis. Saat di bawa ke ruangan bersalin menggunakan kursi roda.
"Kak tolong aku." Alexa terus mengaduh kesakitan, dengan tangan yang menyusap perutnya.
Dokter mengecek pembukan dan ini masih dini, Alexa baru pembukaan satu.
"Memangnya ada berapa pembukaan dok?" Tanya Alexa di sertai ringisannya. Zayn dan Mama Lexi sedari tadi terus mengelus pinggang Alexa.
"Semuanya ada sepuluh pembukaan. Dan Ibu baru pembukaan satu, artinya harus menunggu sembilan pembukaan lagi, sebelum bayinya lahir." tutur dokter itu.
"Kak, sakit banget. Aku tak bohong. Bisa di percepat ga kak supaya pembukaan satu dan seterusnya di lewati saja?"
__ADS_1