
Setelah memperkenalkan Alexa, Zayn membawa istrinya untuk memasuki ruangangannya, Zayn dengan digap menyalakan televisi yang tersedia di ruangannya, juga menyuruh OB untuk mengantarkan buah potong juga beberapa camilan keruangannya.
"Kak ruanganmu terang sekali. Selain lampunya yang besar juga tirainya terbuka, apa boleh aku mematikan lampu dan menutup tirainya, aku ingin menonton dalam ke adaan redup, supaya jika aku mengantuk aku bisa langsung tertidur di sofa tanpa khawatir kesilauan."
"Boleh lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Jika ingin jalan jalan, minta seseorang untuk mrnemani supaya tidak tersesat. Serta kabari aku, aku akan meeting di luar." Zayn memberi petuah kepada istrinya.
"Amankan jika aku tidur di sini?" Alexa menunjuk kursi sofa.
"Aman, tapi hati hati jangan sampai jatuh. Di sana juga ada kamar kau boleh istirahat di kamar itu jika kau mau. Setiap hari ada seseorang yang membersihkannya." ujar Zayn.
"Kamar? Untuk apa ada kamar di ruanganmu?" Aldxa menyipitkan mata penuh selidik.
"Jangan berpikir macam macam. Ruangan ini dulunya bekas kakek Ridwan, jadi sudah tersedia kamar sejak jaman baheula." Zayn seakan mengetahui arti tatapan Alexa. "Aku tak pernah macam-macam Yank, hanya kau yang menguasai seluruh hatiku." Zayn membenamkan ciuman sebelum berpamitan.
"Kak Zayn meeting dengan siapa?" tanya Alexa tentu saja dengan di bumbui oleh kecurigaan.
"Dengan sekertarisku."
Mendengar kata sekertaris Alexa tentu saja berpikir jika sekertaris identik dengan dengan tubuh seksih juga pakaian terbuka. Oh No! Ini tidak bisa.
"Kak penggil sekertarismu ke mari aku akan memberikannya wejangan agar dia tak melampai batas, apa lagi sampai berbuat hal hal di luar norma."
Zayn terlihat heran, satu alisnya terangkat, apa maksud Alexa. Namun ia tak ingin kembali membuat Alexa kesal atau drama baru akan tercipta.
Zayn meraih ponselnya dan menghubungi sekerarisnya, deringan pertama ponsel langsung di angkat. "Ris keruanganku sekarang."
"Sigap sekali dia mengangkat panggilanmu." sepertinya hobi baru bagi Alexa membuat pria itu terheran heran akan pertanyaannya yang sarkasme.
Pintu ruangan di kekuk dan Zayn mempersilahkan seseorang masuk. Seorang pria sepantaran Zayn masuk ke ruangan itu. Alexa langsung menatap lekat pria itu dengan tatapan bingung.
"Ada apa Tuan memanggilku?" Tanya pria itu sopan, pria bernama Aris itu dengan menundukan kepalanya.
"Istriku ingin memberikan wejangan untukmu." ujar Zayn datar. "Yank kau boleh berbicara tapi jangan terlalu lama menatapnya. Hal itu membuatku cemburu."
"Kaj Zayn, ku bilang aku ingin berbicara dengan sekertarismu bukan dengan pria ini." bisik Alexa, di telinga Zayn namun masi terdengar di pendengaran Aris.
"Dia sekertarisku."
"Apa!?"
"Maksudmu sekertarimu seorang pria?" tanya Alexa kembali, ia seakan memastikan jika pendengarannya masih berpungsi dengan baik.
"Menurutmu aku memiliki berapa sekertaris?" Zayn memutar matanya malas. "Katamu kau ingin memberikan wejangan kepada sekertarisku."
"Gak jadi." Alexa meninggalkan Zayn dan sekertarisnya yang tengah berdiri.
__ADS_1
"Ya sudah aku pamit ya." Zayn melabuhkan satu kecupan di pipi idtrinya. "Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Cukup lama Zayn pergi hingga Alexa sudah tertidur di atas kursi sofa. Dan kini pria itu dudah kembali dengan makanan di tangannya.
"Sayang bangun. Ini lihat aku bawa apa?" Zayn berlutut di hadapan wajah istrinya yang terlelap. "Sayang." Zayn terus mencoba membangunkan Alexa dengan sangat hati hati seakan isyrinya itu sesuatu yang paling berharga untyknya.
"Emmm ..." Alexa menggeliat untuk merentangkan otot ototnya.
"Kau sudah kembali? Alexa berujar dengan suara seraknya.
"Ya aku sudah kembali. Ayo makan, aku membawa makanan kondangan yang kau inginkan kemarin. Aku tak rela anakku mengeces hanya karna aku tak mampu memenuhi keinginanmu." Alexa beranjak ke kamar mandi untuk buang air kecil juga mencuci sebagian wajahnya agar terlihat lebih segar.
Selagi Alexa di kamar mandi Zayn menyiapkan nasi kondangan di atas piring. Beruntung saat ia pulang dari rapat di pinggir jalan sebuah gang ia dapat melihat sebuah janur kuning yang melengkung, seakan hal itu menjadi kesempatan untuknya memenuhi setiap keinginan istrinya. Zayn menyuruh Aris menepikan mobil milik mertuanya, ia akan masuk dan meminta ijin kepada pemilik acara tentu saja dengan alasan istrinya mengidam.
Alexa keluar dari dalam kamar mandi dengan wajahnya yang sudah basah, anehnya Zayn justru merasa gerah, ingin rasanya Zayn menarik Alexa ke atas kursi sofa dan mengungkungnya dalam kuasanya.
"Kenapa menatapku seperti itu. Terpesona olehku?" Alexa duduk dengan mengerucutkan bibirnya hingga Zayn di buat gemas oleh tingkah istrinya. Zayn tak kuasa untuk menahan diri sehingga ia memagut bibir itu dengan menggebu.
"Ih." Alexa mengelap bibir miliknya menggunakan punggung tangannya.
"Pengen Yank." Zayn menunjukan wajah tak berdosanya. Ia mengambil beberapa tissue untuk mengelap wajah Alexa yang basah.
"Nanti aku makan dulu." Zayn mengambil alih alih piring yang sudah tersedia nasi juga beberapa lauk di piring besar di atas meja. lauknya sangat banyak mulai dari sayur sop, karedok bahkan ada juga rendang daging.
"Sudah shalat?" Zayn menyuapi Alexa yang makan dengan lahap, sepertinya Alexa memang benar benar menikmati makanannya, sesekali juga ia menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Sudah."
Alexa makan hingga makanannya habis. "Istri pintar." puji Zayn. Bahkan Alexa sampai bersendawa saking kenyangnya. Ini cocok untuk melanjutkan tidur siangnya.
"Eeeuuu ... Alhamdulillah."
"Alexa, tak baik bersendawa seperti itu. Tak sopan juga." Zayn menasihati lembut, karna tak ingin Alexa mudah tersinggung.
"Iya, Papa." Alexa meneguk segelas air yang Zayn merikan padanya.
Mendengar kata Papa dari Alexa membuat hati Zayn menghangat.
"Waktunya bobo lagi. Awas kak!"
"Enak Saja. Kau bilang nanti setelah makan akan mengikuti inginku. Janji adalah hutang." Zayn menarik pinggang Alexa hingga merapat ke tubuhnya. "Aku sudah ingin sejak tadi." Zayn menggigit liar cuping telinga Alexa karna hidabnya ia buka setelah kembali dari toilet. Membuat wanita itu meremang seketika.
"Kapan aku berjanji?"
__ADS_1
"Aku sangat ingin, boleh ya?" Zayn sudah mengecupi leher Alexa. Kedua tangannya sudah menangkup kedua kelembutan Alexa.
"Ini kan di kantor kak. Bagaimana jika ada orang yang tau?" Alexa terlihat cemas.
"Tidak akan ada yang tau. Ini di ruanganku, tirai tertutup rapat. Pintu terkunci sempurna ini waktu yang tepat untuk menengok dede bayi."
Alexa hanya mampu mengangguk. Zayn hendak melepas pakaian miliknya, juga dengan pakaian Alexa untuk memulai percintaan manis mereka.
Mereka belum memulai tapi pintu ruangan sudah di ketuk oleh seseorang. Zayn sampai berdecak dengan kesal. Sembari berjalan membuka pintu.
"Ada apa?" Zayn membentak Aris yang mematung di depan pintu.
"Pak. Ada dokumen yang harus di tanda tangani."
"Nanti saja. Aku ada urusan lain. Jangan mengganggu sebelum aku membuka pintu! Jangan biarkan orang lain masuk ke ruanganku." Sentak Zayn marah. "Atau ku potong lehermu!" Aris sampai bergidik ngeri mendengar ancaman tuannya.
"Baik Pak." Aris tak ingin terkena masalah hingga ia memilih untuk segera pergi.
Blam ...
Zayn menutup pintu dengan kasar, ia bahkan nyaris membanting benda penutup berbentuk persegi itu.
"Jangan galak galak kak!"
"Aku kesal padanya karna mengganggu."
Zayn kembali mengunci pintu dan membawa Alexa untuk memulai rencana yang tertunda.
Di ruangan itu hanya terdengar suara suara khas percintaan yang tentu saja di dominasi oleh Zayn. Pria itu memang tak bisa diam saat tengah di landa kenikmatan, mulutnya akan melantunkan pujian demi pujian kepada istrinya.
hampir satu jam mereka melakukan permainan panas mereka, hingga setelah membersihkan diri Alexa kembali terlelap. Zayn kembali mengadakan rapat, kali ini di kantornya sendiri.
Sembari menunggu Zayn rapat Alexa berkeliling keliling menyusuri kantor suaminya hingga ke lobby.
Dari ke hauhan Alexa melihat pak Ardi sopir papa Azam menfekat kearahnya dengan sedikit berlari. "Non ayo ikut saya! Pak Azam mengalami kecelakaan." ujar Pak Ardi, mendengar kalimat kecelaskaan Alexa segera bergegas mengikuti Pak Ardi tanpa memikirkan apapun yang jelas ia mengkhawatirkan Papanya.
Pria yang sepantaran Papa Azam itu mengajak Alexa untuk memasuki mobil yang menurut Alexa asing. Namun karna Alexa panik ia sama sekali tidak berpikir apapun.
Pak Ardi menjalankan mobilnya ke suatu tempat dan berhenti di salah satu gedung kosong. Baru Alexa sadari jika pak Ardi tak membawanya ke rumah sakit.
"Pak, kenapa kemari? Ini bukan rumah sakit."
"Memang bukan Nona. Tempat ini, akan menjadi tempat terakhir untukmu." Pak Ardi keluar dan membuka pintu tempat Alexa berada, dan menarik Alexa hingga keluar mobil. Kemudian menodongkan satu senjata apa di pelipis Alexa hingga ia dapat merasakan dinginnya senjata itu.
"A-apa maksudnya ini semua?" Alexa sudah ketakutan luar biasa. Bahkan kakinya kesulitan menopang tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Kau di culik Nona!" Pak Ardi menyunggingkan senyuman licik di bibir nya yang sedikit menghitam.
Sungguh seringaian yang tergelincir di supir papanya membuat Alexa ketakutan.