
"Ingat! Kau hanya boleh mengingat sentuhanku!" Zayn membenamkan bibirnya di antara belahan bibir Alexa yang terluka.
"Dimana dia menyentuhmu?" Zayn memberukan jarak dan berbisik pelan tepat di atas bibir Alexa.
Alexa menunjuk wajah serta bibirnya sendiri. "Di semua wajah dan bibirku. Dia menyentuhnya." Zayn benar benar menyentuh dan merasakan wajah Alexa menggunakan bibir serta indra perasanya.
"Di sini juga." Alexa menunjuk leher hingga dadanya. Zayn melakukakuan tugasnya membersihkan tubuh Alexa dari jejak sentuhan Raffi. Bahkan Zayn menimpali jejak yang di buat oleh Raffi menggunakan mulutnya.
"Dia, dia juga menyentuh dua kelembutanku." Alexa menangkupkan tangan Zayn di dua kelembutan miliknya dan meminta Zayn untuk menangkup serta membersihkannya.
Zayn juga terbawa gairah saat menyentuh istrinya. Ia turut melucuti pakaiannya sendiri. Jika saja ia tak mengingat jika Alexa masih dalam udzur mungkin ia akan melampiaskan keinginannya dengan penyatuan. Namun Zayn tidak seegois itu. Ia hanya menyenangkan dirinya di antara paha istrinya saja. Dan setelah ia mencapai pelepasannya. Zayn membalurkan airnya keseluruh tempat yang tadi di singgahi Raffi.
"Aku sudah membersihkan jejaknya dengan air milikku. Jangan lagi merasa rendah Alexa. Aku menerimamu dengan apa yang terjadi. Tolong maagkan ke lalaianku." Zayn menempelkan keningnya di kening istrinya. Nafasnya saling bersautan.
Zayn membawa tubuh Alexa ke kamar mandi untuk ia mandikan dengan air hangat.
"Kak Zayn pasti jijik karns aku sudah di sentuh-"
"Stt. Aku sama sekali tidak berfikir seperti itu. Kau milikku, dia sudah ku beri hukuman. Jangan lagi menganggap rendah dirimu. Aku mencintaimu." Zayn memandikan Alexa, serts memakaikan pakainnya istrinya. Kemudian menyuruh Alexa untuk kembsli terlelap.
Tak butuh waktu lama untuk membuat Alexa kembali tertidur. Hingga setelah memastikan istrinya tertidur Zayn keluar kamar untuk menemui orang tuanya.
Papa Kahfa dan Mama Lexi terlihat saling berpelukan. Sedangkan Hanna tak terlihat di sana. Terdengar isakan kecil dari mulut Mamanya, Zayn yakin jika penyebab Mama Lexi menangis adalah Alexa.
"Mama." Panggil Zayn pelan. Ia hampiri kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Zayn." Mama Lexi mengurai pelukan suaminya, ia meraih tangan putranya yang terluka dengan banyak kulit yang terkelupas, bahkan warna merah masih merembes dari sana.
"Maafkan Zayn. Maaf Pa, karna Zayn tak bisa menahan diri."
Kahfa memeluk tubuh putranya. Ia yakin putranya juga dalam keadaan rapuh.
"Dia gila Pa. Dia menyentuh milikku. Aku hampir kehilangan harga diri." Zayn selalu terlihat tegar bahkan di saat kematian anaknya kini terlihat benar benar rapuh dan tak berdaya.
"Aku benar benar tak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai binatang itu menyentuh Alexa lebih jauh." Zayn memeluk erat Papa angkatnya, ia perlihatkan kelemahan dan ketidak berdayaannya di hadapan Papa dan Mamanya.
"Bukankan menjadi kewajibanku untuk menjaga hartaku? Alexa hartaku dan hampir di curi oleh pria biadab itu. Aku menyesal mengapa aku tak memecahkan kepalanya Pa." Zayn persis seperti seorang bocah yang tengah mengadu kepada orang tuanya.
"Tenanglah. Semua sudah membaik, kau sudah bertindak benar Zayn. Dia juga akan cacat, matanya dan tangannya telah kau lukai dengan amat parah." Papa Kahfa turut merasakan kepedihan yang di alami Zayn.
Mama Lexi mengambil kotak obat dan membawa Zayn untuk duduk di atas kursi, dengan telaten mama Lexi mengobati luka putranya.
"Dia sudah mulai tenang namun dia selalu menganggap dirinya tak pantas untukku. Bahkan saat aku menyantuh dia terus menangis. Padahal aku sudah menghilangkan semua jejak binatang itu." Zayn menggeram di Akhir kalimatnya, terlihat amarahnya masih berkobar.
"Kau tidak usah khawatir. Papa akan membuat perhitungan dengannya." Kahfa kembali menepuk pundak putranya.
"Lalu kemana Hanna?" Zayn tiba tiba teringat akan adiknya, Hanna pasti sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Di malam yang harusnya menjadi malam indah untuk sepasang pengantin itu justru malah kacau karna perbuatan adik iparnya sendiri.
"Dia di kamarnya. Biarkan Hanna sendiri dulu Zayn. Bukan hanya Alexa saja yang terpukul akan kejadian ini. Hanna juga demikian, ia juga merasa bersalah kepada Alexa akan perbuatan adik iparnya." Mama Lexi mengusap surai hitam anaknya.
Zayn turun dari kursi ia duduk di bawah Mamanya. Ia butuh sandaran, kepalanya ia taruh di pangkuan ibunya. Setegar batu karang ia di hadapan Alexa, namun saat di hadapan ibunya ia tak lebih dari seorang anak kecil yang manja yang membutuhkan uluran tanyan Mamanya untuk sekedar menghapus air mata di pipinya.
__ADS_1
"Ma, Zayn gagal. Zayn benar benar gagal menjadi seorang pria. Zayn gagal melindungi anak Zayn. Zayn gagal menjadi suami untuk Alexa, berkali kali Alexa terluka saat berada di sisi Zayn. Alexa nyaris di nodai di rumah Zayn sendiri." Tumpah sudah airmata yang sedari tadi Zayn tahan tahan. "Apa kami memang tidak di takdirkan bersama Ma? Rasanya Alexa selalu saja dalam bahaya saat bersamaku." Zayn tak mampu lagi menyembunyikan kegundahannya.
"Jangan berkata seperti itu Zayn. Semua sudah ketetapan Allah."
"Bagai mana menurut Mama? Apa Zayn harus menyerah dan membiarkan Alexa bahagia tanpa Zayn." Tanya Zayn kembali. Tanpa semua orang ketahui Alexa mendengar ucapan Zayn. Alexapun mengira jika Zayn tengah merasa jijik terhadapnya atas perlakuan Raffi beberapa waktu yang lalu. Alxa memasuki kamarnya kembali dengan segenggam amarah yang ia miliki.
Alexa berpikir jika Zayn yang menceraikannya ia akan merasa sangat di permalukan untuk dari itu dialah yang akan menuntut cerai dari Zayn. "Lagi pula pria bukan hanya satu kan?" Alexa bertanya pada dirinya sendiri.
"Ya aku harus berpisah dari Zayn. Aku terlalu memaksakan kehendak jika terus bersamanya. Zayn bahkan terlihat lemah saat bersamaku! Semoga saja ini pilihan yang tepat." Alexa memilih memejamkan matanya kembali, percuma juga ia bersedih, toh semua sudah berlalu. Sebelum terlalu jauh hatinya jatuh cinta kepada Zayn akan lebih baik jika dia menyudahi semuanya lebih dini.
Selama dua hari Alexa mengurung dirinya di kamar. Mama Lexi bahkan kesulitan untuk menemui Alexa, Zayn sendiri memberikan ruang untuk Alexa menyendiri.
Pagi-pagi Alexa bersikaf seperti biasa. Tak terlihat jika Alexa tengah memiliki atau habis tertimpa masalah. Hanya pipinya saja yang memar juga matanya yang terlihat sembab.
Hanna mendekat ke arah Alexa dan meminta maaf atas apa yang terjadi, Alexa terlihat tak mempermasalahkannya. Ia seakan menampilkan dirinya yang biasanya.
Zayn dapat melihat senyum kembali di wajah cantik istrinya.
Ia sudah memastikan jika Raffi benar benar cacat karna satu bola matanya sudah Zayn musnahkan, serta tangan Raffi yang patah tulang membuat pria 26 tahun itu terlihat depresi.
Beruntung Papa Kahfa tak menyangkut pautkan hubungan Hanna dan Raffa yang baru saja di mulai. Namun Papa Kahfa memiliki syarat agar Hanna dan Raffa harus tinggal di rumahnya untuk beberapa waktu kedepan.
Pagi itu di saat sarapan Om Ali, yang mana selaku ayah dari Lula meminta tolong kepada Kahfa dan Zayn supaya menemaninya mengobati Lula yang koma sejak beberapa waktu ke rumah sakit yang ada di singapore.
Dengan penuh pertimbangan Zaynpun menyanggupi. Dan memulangkan Alexa terlebih dahulu ke rumah Papa Azam.
__ADS_1
Hal ini semakin membuka peluang Alexa yang hendak melepaskan diri dari rumah tangga yang menurutnya tak sehat. Alexa benar benar bulat ingin bercerai. Bahkan Alexa sudah membicarakan rencana perceraiannya dengan Zayn kepada Orang tuanya.