Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Kak, berhenti!


__ADS_3

Zayn tidak menyurutkan senyumannya sembari terus menatap foto hasil USG milik istrinya, hanya sebuah foto hitam putih tapi mampu membuat hati Zayn menghangat.


"Alexa dia menggemaskan." Alexa memutar bola matanya malas, menggemaskan dari mananya? Hanya selembaran foto kecil berwarna hitam dengan titik putih, dan hal itu menggemaskan menurut Zayn benar-benar tidak masuk akal pikir Alexa.


Mereka kini tengah mengantri untuk menunggu obat. Zayn bahkan mengcup foto itu dengan hati gembira. "Aku ingin menamainya dengan nama yang berarti bagus."


Zayn mendekatkan wajahnya ke perut Alexa, tangan kekarnya yang di penuhi urat-urat yang menonjol mengusap lembut perut Alexa.


Alexa terjengkit. "Kak Zayn, mau apa?"


Zayn mendongak menatap wajah Alexa dari arah bawah, "Aku hanya ingin menyapa bayi kita." Zayn menarik tipis bibirnya, membentuk satu senyuman.


"Sayang sehat-sehat di perut Mama Ya!"


"Mamanya juga harus sehat, makan yang banyak biar nutrisi dedek bayinya terpenuhi." Zayn mengusap puncak kepala Alexa sebelum dirinya beranjak karna namanya di panggil oleh seorang apoteker.


Zayn mendengarkan dengan seksama ketika apoteker itu menjelaskan cara mengkonsumsi obatnya dengan benar.


Setelah urusannya di rumah sakit Zayn menggenggam tangan istrinya, menyelinapkan jemarinya di antara jemari tangan Alexa, Zayn bahkan dapat merasakan sebuah cincin yang ia sematkan di jari manis Alexa, membawa istrinya menuju parkiran.


"Kau lapar?" Zayn bertanya lembut sebelah tangannya membawa obat yang harus di konsumsi oleh wanita hamil itu.

__ADS_1


Zayn bahkan repot-repot membukakan pintu untuk Alexa, hati Zayn sepertinya terbeli oleh Alexa karna bayinya.


"Tidak Kak nanti saja."


Zayn membawa laju mobilnya menuju pemakaman, Zayn berhenti di toko bunga di sekitar pemakaman. Zayn membeli banyak kelopak bunga juga air mawar, untuk makam Papa serta kakek neneknya, Juga Mamanya Alexa. Beruntung makam mereka berada di pemakaman yang sama. Sehingga Zayn dan Alexa tidak terlalu kerepotan.


Zayn menyerahkan kaca mata hitam miliknya juga payung hitam yang sudah ia buka. Alexa tidak mengetahui jika mereka akan berjiarah ke makam Papa mertuanya juga mamanya sendiri.


Zayn mengantar Alexa lebih dulu untuk mengunjungi makam Mamanya.


"Assalamualaikum ..."Alexa tersenyum tapi dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mama." Suara Alexa tercekat ia mulai melutut di hadapan makan mamanya, di antara rerumputan makam Alexa menumpukan lututnya. "Ini Alexa Ma." Alexa mengusap nisan sang mama, dengan sebulir air mata yang turun di pipinya.


Alexa semakin menundukan kepalanya, ia tak berani mengakui dosanya di hadapan Mamanya. "Maafkan Alexa Ma." Isakan itu terdengar memilukan.


Zayn membawa Alexa dalam dekapannya. Mendekap dengan hangat tubuh Alexa yang bergetar. "Stthh, jangan menangis!" Zayn menghapus air mata yang membasahi pipi Alexa.


Zayn bergiliran mengusap batu nisan mertuanya, sudah sekitar 12 tahun berlalu setelah kepergian Mama Nilam, terlihat dari tanggal yang tertera di atas nisannya.


"Ma, aku Zayn. Menantu Mama. Maaf Zayn sudah merusak putri Mama. Tapi Zayn berjanji, selama Alexa menjadi istri Zayn, Zayn akan memastikan putri Mama tidak akan kekurangan apapun."

__ADS_1


Zayn berdoa, dan secara bergantian mengunjungi makam papa, kakek dan neneknya.


Dalam perjalanan pulang mereka mampir di sebuah restoran untuk makan siang terlebih dahulu juga melaksanakan shalat dzuhur di mesjid sekitaran restoran.


"Masuklah lebih dulu. Nanti aku menyusul."


Zayn kembali untuk mengambil pelastik berisi obat milik Alexa yang tertinggal di mobilnya.


Namun saat Zayn kembali ia sangat terkejud karna mendapati istrinya tengah di peluk oleh seseorang.


"Berengsek ..."


Zayn melepas paksa tubuh Alexa dari pelukan pria itu.


"Beraninya kau menyentuh milikku!!!"


Bugh ...


Bugh ...


Zayn menghajar tubuh pria yang sudah berani memeluk tubuh istrinya.

__ADS_1


"Kak, berhenti!" Alexa berteriak


__ADS_2