
Sudah hampir dua bulan Hanna dan Raffa menikah, tapi keduanya sama sekali belum melakukan kewajiban mereka sebagai sepasang suami istri. Keduanya masih layaknya seperti orang asing yang tiba tiba di satukan dalam sebuah ikatan pernihan.
Hanna terlihat biasa saja meskipun pernikahan mereka tak berjalan dengan semestinya, ia mengerjakan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik, mulai dari menyiapkan pakaian ataupun hal hal kecil yang Raffa inginkan. Hanna juga kerap kali meminta ijin jika akan melakukan sesuatu.
Raffa adalah pria dewasa yang sangat normal, tinggal sekamar dengan wanita yang halal untuk ia sentuh kerap kali membuat Raffa gagal fokus, kadang kadang tubuh dan tangannya sering mencuri curi kesempatan untuk sekedar menyentuh bagian tubuh Hanna yang lain.
Melihat hubungannya dengan sang ustri yang tidak mengalami kemajuan, ia meminta pendapat kepada temannya Zayn, yang mana pria itu juga mencakup sebagai kakak iparnyanya. Meskipun Raffa tak menceritakan detail masalah hubungannya dengan Hanna tapi Zayn cukup tanggap untuk memberikan saran agar hubungan adik dan temannya membaik.
Zayn menyarankan Raffa untuk mengajak Hanna untuk berbulan madu. Hanna sangat menyukai pantai dan atas saran dari Zayn, Raffa mengajak Hanna untuk berbulan madu ke pulai dewata Bali. Syukur syukur Raffa bisa dapat jakpot, dengan dapat merasakan indahnya syurga dunia jika dirinya beruntung.
Meski status Raffa adalah seorang duda di kartu tanda penduduknya, namun sesungguhnya pria itu merupakan asli seorang perjaka. Karna selama pernikahannya dengan mantan istrinya, Raffa tidak pernah melakukan sesuatu, di samping ia tak mencintai mantan istrinya, wanita yang pernah menjadi istrinya juga tengah hamil saat ia nikahi. Sehingga selama menikah dengan Raffa, wanita bernama Rosa menjadi istri yang haram di sentuh sekalipun dengan suaminya sendiri.
Usia kandungan Rosa saat menikah dengan Raffa sudah menginjjak angka 20 minggu. Mereka menikah tapi mereka tak pernah tinggal bersama, jangankan untuk tidur di ranjang yang sama Rosa dan Raffa tak pernah tingfal di kamar yang sama, bahkan mereka tinggal di rumah masing masing. Sesuai perjanjian Raffa hanya berkunjung sesekali ke rumah Tosa hanya untuk bertanya kabar juga memastikan keadaan Rosa serta memberikan sejumlah uang yang di pergunakan sebagai nafkah.
Wanita bersama Rosa itu bukanlah dari kalangan orang berada, itu sebabnya hingga di hari inipun Raffa masih membiayai anak yang Rosa lahirkan meskipun pernikahan mereka sudah berakhir lebih dari tiga tahun yang lalu. Karna menurut hukum anak ysng Rosa lahirkan adalah anak Raffa, meskipun kebenarannya Raffa tak pernah menabur benihnya di wanita manapun.
Sekitar pukul 2 siang Hanna dan Raffa sampai di penginapan pulau bali.
Pulau Bali adalah salah satu pulau di Indonesia yang berada dalam gugusan Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau ini sekarang termasuk wilayah Provinsi Bali. Pulau ini juga sebagai Pulau Dewata atau Pulau Seribu Pura.
Selain itu, Bali juga dikenal akan budayanya yang kaya dan keramah-tamahan penduduk setempat.
Keunikan alam Bali terletak pada kombinasi dari berbagai faktor, seperti topografi pulau, iklim, dan keragaman hayati.
Pulau ini memiliki pegunungan yang memanjang dari utara ke selatan,
menciptakan pemandangan alam yang memukau dan beragam.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga." Raffa memasuki sebuah penginapan yang langsung menghadap ke arah pantai, pemandangan yang di tawarkan di sini sangat indah. Tak rugi rasanya Raffa menghabiskan banyak uang untuk pemandangan seindah ini.
Hanna langsung menghempas tubuhnya di atas ranjang berukuran sangat besar ia lelah setelah menghabiskan perjalanan lebih dari beberapa jam untuk sampai di tempat itu. Hanba memang menyukai pantai tapi ia tak menyukai seseorang yang mengajaknya untuk berlibur.
Raffa mengabari mertuanya jika dirinya sudah sampai, setelahnya ia langsung duduk di atas ranjang yang juga di tiduri oleh Hanna.
__ADS_1
"Dek." panggil Raffa lembut, suaranya bahkan nyaris tak terdengar.
"Hmmm." Hanna hanya bergunam kecil tanpa berniat membuka matanya yang sudah terlanjur terpejam.
"Adek tamu bulanannya sudah selesai kan?" Tanya Raffa hati-hati. Ini sudah terhitung 10 hari dari Hsnna mengatakan jika ia tengah Haid saat Raffa mengutarakan keinginannya untuk menunaikan kewajiban sebagai suami.
"Apa!?" Hanna tersentak kaget, matanya langsuk terbuka ia terlonjak dan mendudukan tubuhnya di atas ranjang dengan sekali bangun.
"Adek, Haidnya sudah selesaikan?" tanua Raffa kembali, nada suaranya masi selembut beledu.
Mati aku!
Pikir Hanna dalam hati, mengapa ia tidak terpikir sedikitpun jika tujuan Raffa mengajaknya liburan untuk berbulan madu. Hanna kesulitan mencari alasan, sudah dari mulai ia belum siap, butuh waktu, sampai pura pura datang bulanpun ia lakukan demi menghindari sesuatu yang di namakan malam pertama. Entah mengapa malam itu terasa begitu mencekam untuknya.
"Itu, anu.-" Hanna kehilangan kata kata lain untuk sekedar memberi alasan kepada pria yang sudah menikahinya hampir dua bulan ini.
"Udah kan Dek?"
"Ya,." ucap Hanna pada akhirnya.
"Alhamdulilah." satu senyuman mengembang di wajah tampan pria berusia 29 tahun itu.
"Tapi aku belum-"
"Dek, Mas kan udah nungguin hampir dua bulan masa Adek ga siap siap." ucap Raffa dengan raut kecewa, membuat Hanna pun merasa tak tega, lagi pula ini kewajiban untuknya mau sampai kapanpun ia menghindar cepat atau lambat Hanna juga akan menyerahkan diri serta kehormatannya kepada suaminya.
"Aku, aku siap kok. Aku hanya gugup dan sedikit takut." ujar Hanna terus terang.
"Mas, akan pelan pelan. Jika Adek tak nyaman, boleh ngomong kita sama sama mencobanyanya."
Sama sama mencoba, kalimat itu membuat Hanna mengernyitkening dalam namun hati Hanna menggerutu. Udah pernah juga. Ia tak tau jika sebenarnya Raffa merupakan duda palsu.
Hanna tak bisa menghindar lagi kali ini.
__ADS_1
Hanna dan Raffa membersihkan tubuh mereka masing masing, setelahnya mereka makan dan bersantai di teras penginapan dengan pemandangan matahari yang nyaris terbenam.
Semburat jingga terlihat indah di antara langit senja, di temani deburan ombak keduanya larut dalam keindahan hasil karya Tuhan.
"Masya Allah indah sekali." Mata Hanna berbinar menatap keindahan langit senja ini, sebelum maghrib menyapa.
"Masih indah dirimu." ujar Raffa, tak sedetikpun pria itu mengalihkan tatapan dari wajah Hanna. Menurutnya tak ada sesuatu yang lebih indah saat ini selain kecantikan istrinya. Sekalipun keindahan mata hari terbenam di ujung senja kali memang benar benar indah, tapi hal itu tak cukup untuk membuat Raffa mengalihkan tatapannya.
"Dasar perayu ulung!"
"Aku tidak merayu. Kau memang sangat indah, sesuatu yang paling indah yang pernah ku miliki." Raffa mendekatkan wajahnya dan mengecup sekilas bibor Hanna. Wanita itu mematung. Ini adalah kali pertama Raffa bertindak sangat berani di saat Hanna tengah terjaga. Biasanya Raffa akan mencium atau menyentuh tubuh Hanna saat istrinya tengah terlelap.
"Mas .." Hanna sedikit terpekik dengan jemari yang langsung menyentuh permukaan bibirnya.
"Rasanya manis." ujar Raffa kembali.
Hening,
Hanna diam dengan pikirannya sendiri. Raffa sudah mengacaukan moodnya yang tengah menikmati senja.
Ciuman pertama Hanna di umurnya yang ke 23 tahun di ambil oleh Raffa suaminya sendiri. Bolehkah Hanna merasa bangga karna sudah bisa menjaga dirinya dari seseorang?
"Jangan melamun. Ayo masuk ini sudah maghrib." Raffa menuntun tangan Hanna untuk memasuki penginapan. Hanna baru sadar jika matahari yang tadi tengah ia nikmati keindahannya sudah tak terlihat lagi.
.
Untuk pertama kalinya Hanna menjadi makmum untuk Raffa, karna baru kali ini setelah pernikahan mereka shawat berjamaah berdua. Karna biasanya Rafda akan pergi ke mesjid untuk melakukan shalat berjamaah, namun di karnakan di tempat mereka menginap tak terlihat mesjid Rafda akhirnya shalat berjamaah dengan istrinya.
"Dek shalat sunah dulu ya." Raffa berdiri kembali setelah menyelesaikan shalat isya keduanya shalat sunah bersama.
Selesai berdo'a Rafda membuka mukena dan membawa Hanna ke atas tempat tidur.
"Dek malam ini jangan di tunda lagi ya." ucap Raffa dengan wajah memelas juga nafa dengan penuh permohonan. Hanna hanya mengangguk dengan pasrah.
__ADS_1
Raffa mungkin trauma akan malam pertamanya yang selalu Hanna tangguhkan. Tapi sedikitpun Raffa tidak berpikir jika Hanna membohonginya masalah datang bulan beberapa waktu lalu.