
"Tubuhmu semakin kurus, juga wajahmu yang terlihat menirus. Apa kau terpaksa menjalankan rumah tangga kita?" suara Zayn bahkan bergetar di akhir kalimatnya.
Alexa bergeming di tempatnya duduk, wajahnya mendongak, demi mendapatkan pemandangan langsung dari wajah suaminya, rahang tegas itu menjadi panorama pertama yang Alexa lihat.
Alexa menghembuskan nafasnya sedikot kasar, sedikit tak mengerti dengan pola pikir Zayn. Pria itu memintanya agar tidak mengungkit perpisahan di antara mereka namun sejurus kemudian Zayn malah mempertanyakan tentang keterpaksaan dirinya menjalani pernikahan mereka.
"Kenapa diem? Hmmm. Aku hanya butuh jawaban, tapi sungguh jawabanmu tak akan merubah keputusanku untuk tetap hidup bersamamu."
"Sudah kudugong!" Alexa melengos dengan bibir mencebik, kemudian berdiri dan berlalu meninggalkan Zayn untuk ke tempat tidur lebih dulu.
"Apa yang sebenarnya membuatmu tak nyaman sampai terlihat seperti orang tertekan?" Zayn tak menyerah ia mengikuti Alexa sampai ke tempat tidur. Bagkan sisir Alexa yang berwarna merah jambu masih berada dalam genggamannya.
Zayn hendak meletakan sisir milik istrinya ke atas namun ia terjengkit saat Alexa melarangnya. "Letakan di tempatnya semula kak!"
Dengan malas Zayn berjalan ke arah meja rias istrinya dan menaruh sisir itu di tempatnya.
Zayn menarik nafas kembali sebelum mengulang pertanyaan. "Apa kau tertekan saat hidup denganku Alexa? Jika iya katakan penyebabnya?"
"Tidak. Aku tidak teetekan sama sekali, kau selalu mengijinkan aku melakukan apapun yang ku inginkan jadi kau tidak usah bertanya lagi." Alexa memotret dirinya srndiri menggunakan ponsel miliknya sebelum terlelap.
"Lalu kenapa kau terlihat selalu menghindariku akhir akhir ini? Kau tidur lebih awal, bangun saat aku tidur, kau juga kembali tertidur saat aku hendak bekerja. Apa kau sengaja ingin membuatku bosan dan menyerah agar kau bisa lepas dariku?"
"Hey itu fitnah! Aku tak memilik rencana seperti itu." Alexa berujar menyolot dengan suara yang ia tinggikan. Ponselnya ia selipkan di belakang bantal miliknya. "Dasar manulatif! Pengarang cerita." Alexa membelakangi Zayn.
Sekali lagi Zayn menarik nafas dalam, kesabaran yang ia miliki sangat sangat harus di tambah juga di ekstra.
"Jika apa yang kak Zayn katakan tak benar, lalu bagaimana kebenarannya?" ujar Zayn lembut ia memeluk lembut Alexa dari belakang.
Alexa yang sempat marah kini mereda, moodnya memang naik turun. Alexa membalik tubuhnya menjadi terlentang ia menatap langit langit kamar miliknya.
"Sebenarnya aku juga tidak tau apa yang terjadi padaku. Aku merasa cepat lelah juga kerap kali mengantuk saat menjelang pagi. Siang aku bangun dan saat malam baru menyapa aku mengantuk lagi, tapi tengah malam aku tak mengantuk, nafsu makanku juga berkurang. Mungkin itu penyebab aku terlihat kurus." ujar Alexa jujur, ia tak ingin Zayn salah paham sehingga ia menjawab pertanyaan yang Zayn ajukan.
"Apa kau ada keluhan? Misalnya bagian tubuhmu yang lain sakit atau bagai mana?"
Alexa menggeleng. "Tidak ada kak."
"Besok kita kerumah sakit ya. Aku akan mengosongkan jadwalku." Zayn mengabari asistennya, agar di hari esok tidak ada pertemuan.
__ADS_1
"Tapi aku tidak sakit kak."
"Kau tetap harus periksa. Aku tak ingin kecolongan, sungguh aku takut kau sakit Alexa."
"Iya, iya besok kita perisa. Ga usah berektik sedih terus ga pantes tau sama wajah kak Zayn tang seram."
"Kau bilang wajahku apa?"
"Seram."
"Kau pikir aku hantu? Apa kau tak tau dengan wajah ini berapa ribu gadis yang tergila gila terhadapku?"
"Lalu mengapa kau malah tergila gila terhadapku?"
"Karna kau terlalu menawan, dan rasa tubuhmu terlalu memabukan." Zayn sudah mengubah posisi menjadi di atas istrinya.
"Kak Zayn mau apa?"
"Kak Zayn ingin Sayang."
Alexa mengerti, kata ingin yang di maksud Zayn mengarah dalam satu tujuan.
"Tidak."
"Lalu untuk apa bertanya?"
"Sekedar formalitas." Zayn membenamkan sebuah ciuman, kemudian melanjutkan apa yang ia inginkan.
"Aku mengantuk kak."
"Hanya sebentar kok. Aku akan main cepat." Zayn sudah melucuti dirinya sendiri.
Zayn tidak berbohong, ia menuntaskan hasratnya dalam waktu 30 menit saja. Zayn mengeluarkan benihnya di atas permukaan perut istrinya. Entahlah ia curiga jika Alexa tengah hamil kembali sehingga ia tak ingin mengambil resiko dengan membuang benihnya saja.
Tepat setelah mlalu percintaan mereka yang terbilang singkat Alexa sudah terlelap lebih dulu, dengan keadaan tubuh yang masih polos.
Bukan tanpa sebab Zayn mengira Alexa tengah mengandung, di samping mood istrinnya yang berubah ubah ada beberapa faktor lain yang membuat Zayn curiga, tentang tamu bulanan Alexa yang tak kunjung datang. Juga dengan milik Alexa yang bersuhu lebih hangat saat di masuki, hal ini sama dengan saat Alexa tengah mengandung dulu. Entahlah Zayn merasakan perbedaannya.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri Zayn kembali keluar kamar, perutnya terasa keroncongan setelah beberapa waktu lalu menguras energi bersama Alexa.
Di ruang tengah Papa Kahfa, mama Lexi, Hanna serta suaminya tengah menikmati teh bersama serta cemilan sembari menonton acara keluarga.
Zayn mengambil sepiring makanan dan turut duduk bergabung dengan keluarganya.
"Zayn mana Alexa?" Mama Lexi bertanya melihat putranya yang makan sendiri.
"Tidur Ma. Entahlah Alexa lebih cepat lelah sekarang." satu suapan Zayn masukan ke dalam mulutnya.
"Bagai mana tidak lelah? kau baru selesai mengerjainya. Tanda cinta di lehermu sangat baru." Sarkas Raffa, Zayn repleks menyentuh lehernya ia bercermin di ponsel miliknya sendiri.
Ya ampun benar apa yang di katakan Raffa, terdapat satu tanda merah di lehernya. Alexa benar benar menyisakan tanda merah di tubuhnya setelah percintaan singkat mereka. Ini memang bukan kali pertama Alexa meninggalkan tanda selepas percintaan mereka, tapi meninggalkan tanda di tempat terbuka seperti di leher bagian atasnya adalah hal yang baru di lakukan oleh wanitanya.
"Tadinya Papa pikir hubungan kalian sedang dalam masalah, tapi melihat tanda di lehermu Papa yakin jika hubungan kalian baik baik saja." Papa Kahfa berujar dengan seulas senyum. Ia bersyukur rumah tangga Zayn dapat di selamatkan.
"Hubungan kami memang tidak papa. Tapi besok Zayn akan kedokter, Alexa terlihat semakin aneh dengan kebiasaannya, semoga saja ada kabar baik. Zayn berharap benih Zayn tengah tumbuh dalam rahimnya.
"Aamiin." Mama Lexi paling kencang mengucapkan Aamiin.
"Tapi nenurut yang Mama lihat juga Alexa memang tengah berbadan dua Zayn, apa kau sudah mengetesnya menggunakan Alat tes kehamilan?"
"Sudah Ma tapi hasilnya negatif. Tapi coba nanti subuh Zayn akan tes ulang, setelahnya Zayn akan membawa Alexa ke rumah sakit untuk melakukan usg." Zayn segera menyelesaikan makannya ia mengambil sebuah kunci kendaraan.
"Mau kemana kak?" Hanna penasaran melihat Kakaknya yang terlihat terburu-buru.
"Mau ke apotek, beli tes pack, doain agar hasinya positif ya."
Zayn mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan di atas rata-rata saat ia ingat jika apotek lumayan jauh, akhirnya ia memutuskan mampir ke sebuah mini market terdekat, ia akan menanyakan apakan di mini market itu menjual alat tes kehamilan.
Zayn langsung mendatangi ke arah dua orang berjaga di kasir. Dari pada mencari sendiri, akan lebih baik jika Zayn bertanya kepada penjaga toko.
"Mbak, apa di sini ada jual alat tes kehamilan?" Zayn bertanya sopan ke pada dua wanita berhijab yang mengenakan seragam biru elektrik bertuliskan nama mini market tersebit di punggung keduanya.
"Ada mas banyak mau merk apa?" salah satu dari kedua wanita muda itu menjawab.
"Apa saja. Yang penting yang paling bagus, saya beli dari merk berbeda." Zayn tak sabar, ia ingin cepat cepat pulang kembali dan tertidur untuk menunggu subuh nanti.
__ADS_1
Zayn segera membayar apa yang ia beli, kemudian ia langdung pulang untuk beristirahat.
Zayn tak melepaskan dua buah alat tes kehamilan dalam genggamannya. Ia akan langsung memberikan alat tes itu untuk di gunakan Alexa saat subuh sudah tiba. Zayn tak sabar akan hasilnya. "Ya Allah semoga saja hasilnya sesuai keinginanku." Malam ini Zayn tidak memeluk Alexa, ia malah mendekap alat tes kehamilan yang ia pegang sedari tadi, kemudian mengecupnya berulang-ulang.