
Semalaman Hanna tak bisa memejamkan matanya, ia masih berpikir apakah harus pasrah dan menerima Raffa sebagai calon suaminya.
Hanna ingin memberontak, tapi ia tak kuasa melakukan hal itu sehingga Hanna mencoba untuk mengajukan penawaran, ia akan menikah jika setelah wisuda dan lulus kuliah. Lagi pula tinggal beberapa minggu lagi kan ia lulus kuliah.
Hanna akan berbicara kepada Alexa supaya ia bisa menyampaikan niatnya kepada Zayn dan Zayn sendiri yang akan membicarakan hal itu kepada Raffa dan orang tuanya. Ya Hanna yakin jika Alexa bisa mengatasi semuanya.
.
Pagi pagi sekali Hanna menemui Alexa. Di saat Zayn masih belum pulang dari mesjid dan mengatakan keinginannya.
"Ale. Aku percayakan semuanya padamu, bujuk kak Zayn agar mengatakan ke inginanku. Aku hanya akan menikah jika gelar sarjana sudah ku dapatkan. Tak masalah jika dia menikahiku setelah kita melempar topi toga." yang artinya Hanna tak masalah jika dirinya harus menikah di malam setelah dirinya wisuda.
"Tapi, bagai mana jika aku tak bisa membujuk kak Zayn?" Alexa bimbang takutnya Hanna kecewa terhadapnya.
"Pasti bisa. Gunakan pesonamu Ale, bukankah kak Zayn sangat bertekuk lutut padamu." Hanna tertawa cekikikan. Semoga saja Alexa bisa membujuk Zayn.
Lalu setelahnya Hanna pamit untuk kembali ke kamarnya.
Zayn baru pulang dari mesjid dan mendapati tingkah aneh Alexa kepadanya. Istri cantiknya itu tiba tiba menyambutnya dan mendudukan dirinya di atas pangkuan Zayn. Bahkan tangannya sudah membuka kancin baju kokonya.
"Ada apa? Bukankah semalam kau menyuruhku untuk menunggu sampai kau siap ku datangi. Katamu kau tak ingin lagi berbuat yang tidak tidak, tidak membantuku untuk menidurkannya." Zayn melirik arah selatan miliknya yang mulai menggeliat di balik sarung serta boksernya. Murahan sekali miliknya langsung on di saat Alexa menjatuhkan diri di atas pangkuannya.
Semalam Zayn memang tidak melakukan apapun dengan istri cantiknya, Alexa tak mau di ajak iya iya olehnya. Tapi pagi ini Alexa seakan menawarkan dirinya untuknya menyenangkan diri. Bukankah Alexa tau jika seorang pria sangat sensitif di pagi hari. Zayn sudah sering memperingatkan Alexa supaya jangan macam macam dengannya di pagi hari.
Alexa menyampaikan niatnya dan berusaha membujuk Zayn untuk mengundur pernikahan Hanna dan Raffa. Namun sayangnya Zayn tidak menyetujuinya.
"Segala sesuatu sudah di rencanakan dengan matang Ale. Tidak mungkin aku maupun Papa berani membatalkan pernikahan srcara sepihak. Maaf Alexa aku membuatmu kecewa. Dan kau juga sudah membuat milikku merana." Zayn hanya mampu menatap miliknya yang tersembunyi di balik boksernya saja karna sarung yang ia kenakan sudah Alexa lemparkan tadi.
"Ayolah Kak. Aku akan menurut dan mau melakukan apapun unyuk menyenangkan kak Zayn asalkan kak Zayn mau membantu Hanna, menunda petnikahannya." Alexa memainkan jemarinya di dada bidang Zayn. Mencoba merayu pria itu dengan sentuhannya.
"Maaf Alexa. Aku tak bisa." Meski sangat ingin dengan tawaran uang di tawarkan istrinya, namun Zayn tidak bisa berlaku seenaknya, semuanya sudah di sepakati beberapa jam lagi keluarga Raffa akan datang untuk melamar Hanna secara resmi. Ia tak bisa mundur, apa lagi membatalkan pernikahan yang akan di gelar sebentar lagi.
__ADS_1
"Ale minta yang lain saja ya. Misalnya bonus tambahan uang bulanan." Zayn dudah melampirkan wajahnya di leher Alexa dan mulai membaui dan mengendus leher jenjang istrinya.
"Enggak mau. Pokonya aku ingin kak Zayn membantu Hanna."
Zayn melepas cumbuannya dengan enggan, tapi mau bagai mana lagi. Ia tak ingin di anggap temannya mempernainkan hubungan.
Zayn menurunkan Alexa dari pangkuannya, dengan sudah di bumbung gairah Zayn beranjak menuju kamar mandi. Ia butuh mandi kembali dengan air dingin. Ya setodaknya itu bisa membantu Zayn sejenak.
"Ish, kak Zayn." Geram Alexa, ia juga segera menyusul ke kamar mandi. Tak tega juga dia membiarkan Zayn mandi air dingin kembali.
Saat membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci, Alexa sudah melihat Zayn berdiri di bawah kucuran air shower, matanya terpejam dengan kedua tangan yang tengah menyugar surai hitam miliknya. Sedangkan bukti gairahnya masih mengacung, tegak, menantang minta di puaskan.
Satu hal yang Alexa salut dari suaminya, prianya itu tidak memaksakan kehendak dan justru memilih meredam gairahnya di banding memaksa Alexa. Padahal Zayn memiliki hak penuh atas dirinya. Ini lah yang justru membuat Alexa tidak tega.
Alexa segera melucuti pakaiannya sendiri, lagi pula ia belum mandi. Zayn bahkan belum sadar jika di sana ada Alexa.
"Kak Zayn." panggilnya melan seraya memeluk tubuh telan jang Zayn dari belakang. Kulitnya dan kulit suaminya menyatu tanpa penghalang.
"A,Alexa." suara Zayn tercekat. Ia juga sedikit terjejut jika Alexa akan berbuat hal seintim ini dengan dirinya.
Tangan Zayn terulur mengatur suhu air, menjadi hangat agar Alexa tidak merasa kedinginan yang kini sama dengan dirinya berada di bawah kucuran air shower.
Zayn kemudian melepas pelukan dan berbalik menatap Alexa yang tengah mendongak menatap ke arahnya.
"Maaf membuaymu tak nyaman." Alexa merendahkan tinggi badannya. Ya Alexa berlutut tepan di hadapan Zayn.
Zayn segera mengecilkan volume air hangat sehingga menjadi menyerupai gerimis kecil.
Tangan mungilnya meraih benda besar yang berdiri di hadapannya. "Aku akan bertanggung jawab menidurkannya."
Cup.
__ADS_1
Satu kecupan Alexa daratkan di benda kebanggaan para pria. Bibir lembut itu menyentuh permukaan kulit keperkasaan Zayn, sehingga Zayn menggeram tertahan mendapati perlakuan istimewa dari sang istri.
"Mau di mulai?"
Tanpa di minta, apa lagi di paksa Alexa siap menghantarkan Zayn menuju nirwana dunia.
Secara perlahan namun pasti, Zayn membawa benda milik suami ke mulut mungilnya.
Dengan apa yang sudah di pelajarinya secara otodidak dari Zayn. Alexa berhasil membuat Zayn berteriak di dalam kesunyian kamar mandi.
Sejak di rumah bibi Aliyah Zayn menginginkan kebebasannya mengemukakan kenikmatan seperti sekarang ini. Tidak ada yang Zayn tahan, semuanya ia tumpahkan lewat racauan dari mulitnya.
Beberapa kali Alexa tersedak. Rahangnya bahkan terasa kebas, padahal ia juga bergantian menggunakan jemarinya.
"Kau semakin pintar Sayang."
Zayn bahkan dengan sedikit liar menjambak serta menggulung rambut Alexa menjadi satu, kemudian mengatur ritmenya maju mundur.
Zayn terbuai, bahkan tenggelam dalam kenikmatan. Dan di saat gelombang dahsyatnya tiba, Zayn terlupa. Bukannya ia melepaskan istrinya justru Zayn malah membenamkan diri dan mengeluarkan sari patinya di jerongkongan Alexa sehingga tanpa sengaja tertelan okeh istrinya, ada juga sebagian dari cairan itu keluar dan membasahi sudut bibir Alexa.
"Astaghfirulah."
Zayn langsung melepaskan diri dan turut berlutut di hadapan istrinya. Wajah kuyu dan basah Alexa terlihat kacau di hadapan Zayn. Ia merasa berdosa serta merasa bersalah. Sungguh ia tidak sengaja, membuat Alexa menelan benihnya.
"Alexa, maaf, maafkan Kak Zayn. Kak Zayn benar benar tak sengaja." Zayn membingkai wajah syok Alexa. Meski ini sudah ke tiga kalinya ia melakukan oral se ks tapi ini adalah kali pertama Zayn membuang benihnya di mulut istrinya. Karna biasanya ia akan menarik diri dan membuangnya di tempat lain, di tubuh Alexa.
"Kaya di film film biru kak." ujar Alexa polos. Ia pernah bebetapa kali melihat film biru dan sang pemain wanita menelan cairan si pria.
"Ini haram Alexa, tidak di benarkan oleh agama kita. Aku berdosa karna membuatmu menelan cairan itu. Maafkan aku, aku tidak sengaja." Zayn meraih sejumlah air untuk membatu Alexa berkumur.
Alexa sendiri mengerutkan kening. Ia tak tau jika tindakan Zayn yang membuatnya mendlan benih Zayn adalah tindakan haram. Ia akan menanyakannya setelah ini.
__ADS_1
"Maaf kak Zayn benar benar tidak sengaja."