Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Pergi sementara


__ADS_3

"Jika untuk mendapatkan kepastian belajarlah untuk melepasnya. Jika Zayn kembali dan berjuang berarti memang tulus dan ingin bersamamu. Tapi jika Zayn menghilang dan tak ada kabar, berarti tugasmu hanya memang merawat sayapnya bukan terbang bersamanya." sebait kalimat yang Papa Azam ucapkan kepada Alexa, begitu terngiang ngiang di telinga Alexa.


Alexa ingin menguji perasaan Zayn sebenarnya, dengan mrmberikan ruang dan waktu terhadap Zayn Alexa berpikir jika Zayn mencintainya ia akan memperjuangkannya, dan jika tidak maka Alexa akan membiarkan Zayn melanjutkan kisah tanpa dirinya.


Setelah Alexa mengabaikan dirinya Zayn meminta seseorang untuk mengambilkan pakaiannya dan Alexa di kontrakan mereka kemarin. Sedangkan beberapa barang yang sudah Zayn terlanjur beli, Zayn berikan kepada pekerjanyanya yang kerap kali ia repotkan.


Setelah Alexa menyuruh Zayn untuk pergi dari kamarnya, Alexa pikir Zayn tidak ada di kamarnya karna sudah pulang ke rumah Papa Kahfa, rupanya Zayn memilih akan tidur di ruang tamu malam ini. Meskipun Mama Green sudah menyuruh Zayn untuk tidur di kamar tamu, tapi Zayn tidak mau. Usut punya usut ini bagian dari siasatnya. Alexa pasti tidak akan tega jika harus membiarkan Zayn tidur di ruang tamu, sehingga mau tak mau Alexa akan mengajak Zayn untuk tidur di kamarnya. Cukup licik. Zayn memanfaatkan situasi untuk menarik simpati Alexa.


Dan benar saat Alexa keluar kamar Zayn berpura-pura menggeliat dan tak nyaman saat tertidur di kursi sofa.


"Alexa kau membutukan sesuatu?" Zayn melangkahkan kakinya untuk mendekati Alexa yang masih mematung di ambang pintu kamarnya.


"Kak Zayn belum pulang?" tanya Alexa.


"Pulang? Kau adalah rumahku! Bukan tempat untuk aku singgahi sebelum pulang. Aku akan pulang di mana kau berada."


Alexa berdecih pelan. Mau sebagus apa kata kata yang Zayn lontarkan tetap terasa tawar menurutnya.


"Aku perlu waktu kak."


"Pergi lah kak."


"Aku tidak ingin di ganggu untuk bebzerapa waktu." Alexa tetap kukuh dengan pendiriannya.


Alexa kembali menutup pintu kamar miliknya. Membiarkan Zayn berada di depan pintu miliknya.


Setiap hari Zayn mengunjungi Alexa, meskipun kadang kala Alexa tak mau Zayn temui. Wanita itu benar benar menghindarinya, Alexa sudah menunggu cukup lama. Menunggu Zayn mengungkapkan cintanya, namun waktu itu tak kunjung tiba.


Setelah berpikir beberapa waktu Alexa akan menenangkan diri ke suatu tempat. Ia akan kembali setelah sepuluh minggu, lebih tepatnya saat ia akan wisuda nanti.


Bukan Alexa bermaksud untuk lari dari Zayn, ia memang perlu waktu untuk sendiri, meski keadaannya belum benar benar pulih Alexa memang perlu menenangkan hati juga pikirannya yang masih berduka atas kepergian bayinya.

__ADS_1


Alexa perlu sembuh dari rasa kehilangannya terhadap bayinya. Menenangkan diri dari orang orang yang ia kenal untuk beberapa waktu. Jika ada yang mengatakan jija Alexa terlalu mendrama keadaan, sungguh Alexa hanya bisa mengatakan jika para manusia yang menilainya seperti itu bukan lah orang dengan toleransi tinggi. Karna pada dasarnya seseorang tidak akan bisa merasakan sakitnya jika mereka tidak menderita luka yang sama.


Alexa bahkan muak kepada para tetangga yang tinggal di sekitaran rumahnya yang mengatakan jika Alexa tengah mendapat azab akan perbuatannya. Mereka di luar sana hanya bisa menghakimi tanpa mendengar cerita yang sesungguhnya, Alexa tidak di beri ruang untuk membela diri. Sungguh baik buruknya seseorang terdapat dari mulut mana orang yang berbicara. Serta kuping mana yang mendengar.


Mama Greendia dan Papa Azam sudah membujuk Alexa agar tetap tinggal dan tidak meninggalkan mereka, namun sepertinya tekad Alexa sudah bulat. Ia tetap akan menjauh dari Zayn untuk sementara waktu.


Papa Azam sendiri yang mengantarkan Alexa untuk menenangkan diri sekaligus menyembuhkan luka serta rasa kehilangan.


Alexa pergi kesebuah pedesaan yang cukup jauh dari kota, tempat di mana Sepupu jauh dari Papa Azam tinggal. Bibi Aliyah begitulah Alexa menyebutnya. Wanita berumur 50 tahun itu tinggal bersama suaminya di desa, mereka hanya tinggal berdua di rumahnya yang sederhana. Sedangkan kedua anaknya merantau ke kota berbeda, mencoba peruntungan lain selain bertani dan berternak.


Desanya memang lumayan jauh, meski Alexa berangkat pagi hari sampai menjelang malam mobil yang di kendarai Papa Azam belum juga sampai di tempat bibinya.


Hingga pukul 8 malam barulah Mobil Azam sampai di kediaman saudara sepupunya.


.


Zayn menemui Adam di kantornya, ia baru sempat menemui rivalnya itu.


"Ku pikir kau akan bisa membahagiakannya Zayn." Adam memalingkan wajah. Ia tak ingin berlama lama menatap pria yang selalu membuatnya cemburu.


Zayn hanya menarik nafas kasar, kejadian demi kejadian tak bisa Zayn perbaiki. Zayn juga tak ingin kehilangan anaknya, apa lagi sampai membuat Alexa terluka karna ulahnya.


"Apa yang akan kau lakukan setelah setelah ini Zayn? Mengembalikan Alexa padaku atau aku sendiri yang harus mengambilnya darimu?" Senyuman sinis tergelincir di sudut bibir Adam.


Untuk sesaat Zayn membisu. Menatap Adam dengan penuh peringatan. Zayn tak suka dengan pertanyaan Adam.


"Tidak keduanya. Akan tetap mempertahankan Alexa supaya tetap di sampingku." ujar Zayn mantap.


"Aku sudah memperingatkanmu untuk melindungi serta membahagiakannya." sinis Adam


"Kau yakin Alexa akan tetap bersamamu setelah anak kalian tiada? Kau yakin jika Alexa mencintaimu?"

__ADS_1


Zayn meragu akan pertanyaan terakhir, Alexa hanya menuntut pengakuan darinya, sedangkan Alexa sendiri tidak pernah mengakui apapun.


.


Seperti biasa sore hari saat Zayn pulang bekerja. Ia langsung menuju kerumah mertuanya, Zayn sama sekali tidak tau menau tentang kepergian sang istri ke suatu tempat baru untuk menenangkan diri. Selama ini Alexa tidak mengatakan apapun tentang rencana kepergiannya.


Sejak tadi Zayn mengirimi pesan kepada Alexa, barangkali istrinya itu menginginkan sesuatu maka ia akan membelinya. Namun Alexa tak membalas pesan miliknya, jangankan untuk membalas pesan yang ia kirimkan. Alexa bahkan tidak membacanya pesannya karna tidak terkirim, sehingga Zayn memutuskan untuk menghubungi nomor ponsel istrinya. Berkali kali Zayn melakukan panggilan namun ponsel istrinya tetap tidak aktif.


Zayn segera menjalankan mobilnya kembali setelah debelumnya ia menepi karna berusaha menghubungi Alexa.


Zayn bahkan mengabaikan permintaan Mama Lexi untuk mampir kerumahnya karna Mama Lexi membuatkan sup kesukaan Alexa. Zayn tetap tidak mampir karna dirinya mengkhawatirkan Alexa, entahlah perasaannya mulai tak tenang.


Zayn memarkirkan sembarang mobilnya di depan rumah mertuanya. Setelah mengucapkan salam Zayn memasuki rumah dan menuju kamar yang Alexa tempati.


Tidak dikunci. Kamar yang kerap kali Alexa kunci itu kini bisa Zayn buka dengan sangat mudah. Keheningan langsung menyapa Zayn, seakan pemiliknya telah pergi dengan waktu yang cukup lama.


"Alexaaa ..."


"Alexaaa ..."


Beberapa kali Zayn memanghil nama istrinya, mencoba menfengarkan kamar mandi mungkin saja Alexa Ada di sana, tapi tidak terdengar gemercik air sama sekali sehingga membuat Zayn setengah berlari menghampiri kamar mandi. Kosong, kamar mandi yang cukup luas itu tidak menampakan keberadaan istrinya, begitu juga dengan balkon kamarnya. Lalu kemana perginya Alexa.


Zayn keluar kamar untuk mencari keberadaan istrinya. Namun hingga beberapa tempat Zayn jelajahi ia sama sekali tidak dapat menemukan keberadaan istrinya.


Lalu kemana perginya sema orang? Belum sempat Zayn menghubungi mama mertuanya, mama Green sudah tiba di rumah. Dengan kedua pekerja yang bekerja di rumah itu.


"Ma Alexa kemana? Apa pergi bersama Mama?" Zayn bahkan keluar dari rumah untuk memastikan keberadaan istrinya.


Meski sudah mencari cari Zayn tidak menemukan keberadaan istrinya.


"Alexa pergi untuk sementara waktu Zayn."

__ADS_1


"Apa maksud Mama?"


__ADS_2