
"Alexa kelelahan karna dirimu juga."
"Mama kalo ngomong suka bener." Zayn tersenyum. Martabak yang ia bawa Zayn letakan di atas nakas.
"Sepertinya Alexa benar benar kelelahan. Ini baru pukul delapan malam tapi ia sudah terlelap, padahal biasanya aku ngajak lembur nyampe jam 12 juga Alexa siap." Zayn sengaja membuat Mama kembali kesal, namun mama Lexi tidak menanggapi perkataan putranya.
"Mama sudah minum obat?"
"Sudah tadi Alexa yang membantu Mama."
"Zayn mau pindahin Alexa dulu. Kasian dia bisa pegal jika tidur seperti ini." Zayn menyelinapkan tangannya di antara ketiak dan perpotongan lutut istrinya.
"Istri nakalku." Zayn yang yang gemas mengecup pipi istrinya.
"Hush, istri shaliha Zayn, setiap kata adalah do'a." peringat Mama Lexi.
"Iya, istri shaliha sekaligus istri solehotnya aku Ma."
Zayn meletakan tubuh Alexa di atas kasur busa yang sudah ia persiapkan. Dengan penuh kehati hatian Zayn melepas sandal juga kerudung yang Alexa kenakan.
"Ya ampun rambutnya masih lembab saja." Zayn melepas ciput serta ikat rambut yang Alexa kenakan, rambut yang tidak sempat Alexa keringkan itu masih terasa lembab di telapak tangan Zayn.
"Makanya Zayn jangan grasak grusuk ga jelas. Jika ingin kan bisa cari penginapan, tidak harus menggauli istrimu di kamar mandi. Memang tidak ada larangan untukmu mendati istrimu di tempat manapun, tapi perhatikan juga tempatnya, utamakan kenyamanan istrimu. Hubunganmu dengannya juga masih memiliki konflik yang belum selesai." ujar Mama Lexi dari atas brankarnya, ia berharap Zayn tidak egois dan mau mendengarkan nasihatnya.
"Ya, Ma. Lain kali Zayn tak akan seperti ini lagi." Zayn mengelimuti tubuh istrinya kemudian mendekati Mamanya, ia membuka martabak kemudian menyodorkan satu potong ke mulut ibunya.
Mama Lexi membuka mulut dan menerima suapan Zayn. "Zayn. Istrimu tengah meragu, mama harap kau bisa meyakinkannya. Kau yakin bukan jika kau tak akan jatuh cinta lagi kepada wanita lain?"
"Mama itu bicara apa? Aku bukan seorang cassanova apa lagi pria murah. Aku hanya akan bersama istriku saja, aku tak akan mempunyai istri lain selain Alexa Ma. Aku berjanji." Zayn menyuapkan satu potong martabak ke mulutnya sendiri.
"Bagaimana jika ada seorang wanita yang jauh lebih cantik juga jauh lebih shaliha dari istrimu menawarkan diri untuk menjadi istrimu juga, dan Alexa mengijinkan kau menikah lagi. Bukankah itu adalah berkah hidup?"
Zayn tersenyum kecut. "Sekalipun Alexa mengijinkannya aku tetap akan menolak untuk menikah lagi, hatiku hanya satu Ma, dan aku sudah menyerahkan seluruhnya kepada Alexa, aku tak pandai membagi hati apa lagi berlaku adil. Tak perduli seperti apa Alexa bertingkah aku akan menerimanya, asalkan Alexa masih menjalankan kewajibannya sebagai seorang hamba dan seorang istri." Zayn tetap tak mau rugi rupanya.
__ADS_1
"Jika tidak?"
"Ya aku paksalah Ma. Masa ia aku pasrah saja." Zayn tertawa renyah.
"Mari ke kamar mandi. Lalu istirahat."
"Mama belum mau ke kamar mandi Zayn. Nanti Mama panggil, jika ingin ke kamar mandi. Mama mau langsung tidur saja."
"Ya sudah."
Zayn melabuhkan satu kecupan di atas kepala mamanya, kemudian menaikan selimut mamanya dengan hati hati agar tidak melukai kaki mamanya yang terluka.
Zayn tak langsung tidur ia malah memasuki kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Zayn tunaikan dua raka'at malamya. Setelahnya ia melantunkan ayat ayat suci Al-quran dengan sangat fasih serta suara merdunya yang terdengar lembut.
Seorang dokter wanita yang memasuki ruang rawat ibunya bahkan tertegun sebentar mendengarkan bacaan yang terdengar sangat indah.
Zayn menyudahi bacaannya saat menyadari ada seseorang yang memasuki ruang inap mamanya.
"Dok. Bagaimana keadaan Mama saya?" Zayn menghampiri seorang dokter yang tengah memeriksa mamanya yang tengah terlelap.
"Baik Dok, terimakasih."
"Kak. Zayn tunggu sebentar." Sebuah suara berasal dari tempat Alexa tertidur, membuat Zayn dan dokter Asiah menengok secara bersamaan, bahkan Zayn menyaut ia kira Alexa terbangun.
"Ya, ada apa Alexa?" Tanya Zayn yang mengira Alexa tervangun. Namun setelah beberapa saat tak ada sahutan lagi sepertinya Alexa mengigau.
"Sepertinya adiknya tengah mengigau." ujar dokter Asiah.
"Wanita yang di sana istri saya Dok. Bukan adik saya!" Zayn berkata sebenarnya, ia tak terlalu suka berbelit-belit apa lagi berbasa basi.
"Istri? Oh maaf saya kira adiknya, habisnya wajah kalian sedikit mirip." ujar dokter Asiah canggung, ia merasa tak enak karna salah menebak.
"Tidak papa dok, mungkin kami mirip karna kami berjodoh." ujar Zayn.
__ADS_1
"Kak Zayn sedang apa? Memgapa berisik dengan orang asing?" Alexa menyipitkan matanya, entah sejak kapan ia sudah terduduk bersila di kasur busa yang ia tempati.
"Kau bangun?" Zayn langsung mendekat. "Alexa dia bukan orang asing, dia Dokter Asiah, dokter yang barusan memeriksa kondisi Mama." Papar Zayn, ia tak ingin ada kesalah pahaman yang akan terjadi kembali.
"Oh, rupanya kalian sudah berkenalan." Alexa kembali membaringkan tubuhnya.
"Ya karrim, bukan berkenalan Alexa, kau tak lihat tag nama di jas putihnya."
"Maaf dok, istri saya memang sedikit aneh jika bangun tidur." ucap Zayn tak enak.
Alexa yang mendengar Zayn mengatainya aneh, hidungnya sampai kembang kempis menahan kesal terhadap suaminya.
Dokter itu permisi untuk keluar dari ruangan.
Zayn pun mulai menaiki kasur busa yang sama dengan Alexa. Sedangkan wanita itu langsung menepis tangan Zayn yang baru saja mendarat di pinggangnya.
"Tidak usah meluk istri aneh. Nanti kau tertular aneh sepertiku." ucap Alexa kesal karna Zayn mengatainya aneh.
"Maaf ya. Aku hanya bdrcanda kok."
"Mana martabakku?"
Zayn segera beranjak dan mengambilkan martabak milik istrinya.
Alexa memakan martabak pesanannya yang sudah berkurang dua iris karna di makan Zayn dan mamanya, dengan sangat lahap Alexa memasukan satu demi satu suapan kedalam mulutnya.
"Kau lapar?"
Alexa tak menjawab ia masih asyik memakan martabak miliknya. "Mau ku pesankan makanan lain?"
"Tidak usah."
Alexa menenggak air putih beberapa tegukan setelahnya ia kembali terlelap tanpa mengatakan apapun. Membuat Zayn heran sekaligus senang karna martabak yang ia beli habis oleh tak bersisa.
__ADS_1
"Kau memang unik Alexa dan aku menyukai keunikan yang kau miliki." Zayn terus menerus menatap Alexa, wajah cantik itu terlihat tenang dalam tidurnya.
"Aku tidak tau kapan tepatnya aku jatuh cinta terhadapmu Alexa. Yang jelas kau akan ku buat menjadi wanita paling beruntung karna sudah membuatku jatuh hati." mengecup dalam bibir Alexa, hingga bibir itu memantul di andara sesapannya.