Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Sangat manis


__ADS_3

Suara adzan subuh telah berkumandang namun Zayn masih saja terlelap. Semalam ia tak bisa tertidur karna memikirkan kemungkinan demi kemungkinan yang kapan saja bisa terjadi, tapi Zayn nembayangkan jika secepatnya ia akan memiliki seorang bayi. Sungguh Zayn sudah siap lahir dan bathinnya.


"Kak Zayn ... Kak Zayn ... Bangun kak, ini sudah subuh." Alexa terus menerus menggubcang tubuh suaminya, dengan tubuhnya yang hanya terbalut satu hwlai selimut tebal.


Zayn menggeliat, ia buru buru terbangun saat mendengar suara Adzan menggema di luar rumahnya. " Astaghfirullah aku kesiangan." Zayn segera berlari ke kamar mandi, ia bahkan melupakan tentang alat tes kehamilan yang sejak semalam ia genggam.


Zayn hanya mengambil wudhu dan mengganti pakaiannya, beruntung semalam ia sudah mandi besar sehingga tidak memiliki hadats. "Sayang aku ke mesjid dulu. Sudah telat." Zayn berlalu dengan terburu-buru takut ketinggalan berjamaah.


Mata Alexa terpaku menatap kantung jresek kecil bertuliskan nama mini market yang tak jauh dari sana. Tangan telan jangnya terulur mengambil venda itu dan membukanya.


"Alat tes kehamilan?"


"Apa Kak Zayn srngaja membelinya untukku pergunakan? Karna jika bukan untukku kak Zayn tak mungkin ceroboh meletakkannya. Ya untuk siapa lagi, kak Zayn pasti membeli ini untukku." Alexa yang memang sudah kebelet ingin buang air kecil segera membawa alat tes itu ke dalam kamar mandi. Alexa mengambil wadah untuk menampung urien pertama yang ia hasilkan di pagi hari.


Alexa membika dua kemasan alat tes kehamilan itu setelah membacanya terlebih dahulu kemudian mencelupkannya ke dalam wadah yang mana terdapat urinnyayang ia tampung.


Sekitar tiga menit Alexa menunggu dengan masih berada di kamar mandi. "Semoga saja hasilnya positif aamiin, aamiin." Alexa mengusap wajahnya berulang ulang kali.


Tubuh Alexa hanya mengenakan bathrobe putih di tubuhnya. Saat Alexa melihat hasil dari kedua alat tes kehamilan itu Alexa meraung menangis, ini adalah tangis ke bahagiaan. Jika di kehamilan pertamanya Alexa merasa ketakutan lain halnya dengan kali ini Alexa merasa sangat bahagia.


"Aaas. Ku hamil, aku hamil." Alexa memeluk perutnya sendiri yang masih rata.


"Kak Zayn pasti sangat senang jika tau ada anaknya tengah tumbuh." Alexa kembali terisak bahagia, membayangkan wajah Zayn yang pasti akan sangat senang menyambut kehamilannya.


Alexa larut dalam ke bahagiaannya, untuk beberapa waktu, ia lupa jika dirinya belum membersihkan diri dan shalat subuh.


"Astaghfirullah aku belum salat."


Alexa membawa alat tes kehamilan itu ke kamarnya dan menaruhnya di dalam laci. Ia akan memberikkan kabar ini saat Zayn pulang dari mesjid nanti.


Setelah shalat Zayn buru buru pulang, ia tak dabar ingin menyuruh Alexa melakukan tes. Apapun hasilnya Zayn menekan pada dirinya sendiri agar dirinya tidak kecewa seandainya Alexa belum hamil.


Ceklek.


Zayn membuka pintu kamarnya. Terlihat Alexa tengah mngerjakan shalat subuh. Zayn mencari kemana perginya alat tes itu? Di atas kasur tak ada, di bawah bantal bahkan di kolong ranjangpun juga tak ada, pandangannya menyapu meja juga ke atas nakas, namun tidak di temukan apa yang ia cari. Akhirnya Zayn menunggu Alexa menyesesaikan shalatnya setelah itu ia akan bertanya kepada istrinta.

__ADS_1


"Sayang kau melihat alat tes kehamilan dalam kantong putih?" Zayn langsung bertanya pada Alexa, padahal istrinya baru saja mengucapkan salam.


"Sebentar aku berdo'a dulu. Kau bilangkan kita jangan menjadi seorang hamba yang sombong." Alexa berdoa dan berdzikir setelah shalat. Zayn yang tak sabar terlihat mundar mandir.


Alexa dengan santai melipat mukena serta sejadah miliknya, ia seakan menikmati wajah panik Zayn yang tengah mencari benda itu.


"Sayang cepatlah! Kau taruh di mana tes pack itu?"


Alexa berjalan menuju samping nakas di sebelah kanan, kemudian menarik lacinya. Zayn sigap menengikuti Alexa.


"Ini."


Alexa menyerahkan dua alat tes kehamilan yang tidak menggunakan kemasannya, sudah terlihat garis dua berwarna merah muda di antara masing masing tes yang berbeda merk itu.


"Sayang-"


Suara Zayn tercekat, ia kehabisan kata. Lidahnya terasa kaku bahkan ia tak sanggup untuk sekedar bertanya.


Mata Zayn berkaca-kaca.


"Ini hasil tes ku kak. Aku hamil! Kau akan menjadi seorang ayah kak." Alexapun terharu, ia bahkan sudah meneteskan air matanya.


"Alhamdulillah." Zayn terisak pelan, ia menangis haru, Zayn rengkuk tubuh Alexa kedalam pelukannya. Mereka menangis bersama. Sama-sama melepaskan rasa haru dan rasa bahagia.


"Terimakasih Ya Allah. Terimakasih kau telah kembali mempercayakakan kami untuk menjadi orang tua " Zayn mengecupi kepala Alexa.


Sedangkan tangannya masih menggenggam dua benda yang menjadi bukti jika sekali lagi Zayn akan menjadi seorang ayah.


Zayn membuka pintu kamar dan berteriak memanggil kedua orang tuanya.


"Mama ... Papa ..."


"Hanna ... Raffa ..."


Semua orang yang di panggil mendekat ke arah kamar Zayn.

__ADS_1


"Ada apa kak?"


"Aku, aku akan menjadi seorang ayah. Aku akan menjadi Ayah Ann." Zayn bersorak senang juga dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


"Alexaku hamil lagi. Kami akan menjadi orang tua Ma." Zayn memeluk mamanya yang terduduk di atas kursi roda.


"Ma, Pa doakan Alexa juga calon anak kami agar sehat juga selamat sampai lahir nanti."


"Tentu Zayn. Tentu, tanpa di mintapun Mama dan Papa selalu mendoakan kebahagiaanmunu." Mama Lexi menangis haru ia bahagia saat putranya terlihat bahagia.


"Selamat sayang. Kau hebat, kau akan menjadi ayah." Mama Lexi berujar bangga, juga memanghil Alexa untuk mendekat.


"Selamat Alexa. Semoga kau selalu sehat dan bahagia. Jaga selalu calon cucu Mama."


"Pasti Ma. Mama juga cepat pulih agar bisa menggendong cucu Mama."


"Alexa selamat ya, doain agar aku cepat menyusul." ukar Hanna bergurau, karna ia menunda kehamilannya. Hanna belum memiliki perasaan apapun terhadap suaminya.


"Aamiin."


Semuanya larut dalam kebahagian yang mereka rasakan pagi ini.


"Terimakasih Alexa. Kau sudah memberikan banyak warna di hidupku. Berbagai rasa aku rasakan bersamamu, senang, sedih, terluka takut kehilangan, bahagia, canda dan tawa selalu kurasakan. Semoga kau tidak lelah untuk terus menemaniku melalui beberapa rasa selanjutnya." Rasanya banyaknya ucapan terimakasih saja tak cukup untuk ia ucapkan kepada istrinya.


"Katakan kau ingin apa sebagai hadiah?"


"Gayamu? Kado ulang tahunku saja belum kau belikan." Alexa mencebik kesal.


"Nanti setelah ke dokter kita beli ya." bujuk Zayn.


"Pokoknya aku akan memborong banyak perhiasan. Lihat saja!" Ancam Alexa.


"Sesuai yang kau inginkan sayang. Kau selalu membuatku bahagia. Kau boleh membeli banyak hal yang kau inginkan, aku tak akan membatasi."


"Wah, Zayn Omar sangat manis ternyata." Hanna lah menyauti.

__ADS_1


__ADS_2