Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Disini tak aman


__ADS_3

Papa Kahfa kembali dengan bebera botol minuman juga beberapa cemilan kesukaan Alexa, ia tak ingin menantunya jenuh karna menunggui istrinya. Semoga saja Alexa sudah berdamai dengan putranya.


Saat membuka pintu, Papa Kahfa menedarkan pandangan kesemua sudut kamar, namun tidak terlihat jeberadaan suami istri yang saat ia tinggalkan tadi tengah berdebat. Yang ada hanya Mama Lexi yang tengah memainkan ponselnya dan kini tengah menatap ke arahnya dengan mengerucutkan bibirnya, sepertinya Mama Lexi mengambek kepada Papa Kahfa karna pergi terlalu lama.


"Kemana saja kau? Lama sekali perginya." Mama Lexi kesal harusnya saat sakit ia di manja bukan di tinggal tinggal.


"Habis makan tadi. Oh ya kemana perginya Zayn dan Alexa?" Papa Kahfa meletakan barang bawaannya juga mengusap lengan istrinya dengan sayang.


"Tuh di kamar mandi." tunjuk Mama Lexi dengan bibirnya. Bahkan bibir itu sampai maju beberata centi saat munujuk keberadaan Zayn dan Alexa.


"Ngapain di kamar mandi barengan? Pipis jamaah mereka? Kahfa sampai gemas sendiri akan bibir istrinya yang mengerucut.


"Menurutmu sepasang suami istri berada di kamar mandi berdua lebih dari satu jam ngapain?" Mama Lexi kesal, Papa Kahfa itu seakan tak mengerti apa yang pasangan lakukan jika berdua.


"Selama itu?"


"Hmm. Sepertinya mereka tengah membuat cucu untukmu." Mama Lexi mengatakan apa yang ia ketahui mengenai yang di kerjakan anak serta menantunya.


"Mana yang lebih berisik suara Alexa atau Zayn?"


"Putramu. Dia mutlak putramu! paling mendominasi dalam setiap hal." Mama Lexi mengatakan yang sebenarnya.


"Biarkan saja mereka masih muda masih bergelora. Lebih baik kau makan, aku sudah beli bubur." Papa Kahfa mengambil sterofom yang yang ia bawa kemudian membukanya dan menyuapi istrinya dengan telaten.


"Cuma aku tak habis pikir sama Zayn. Bisa bisanya dia ngajak istrinya bersenang senang di toilet rumah sakit. Padahal kan bisa pulang dulu atau cari hotel terdekat. Kan kasihan Alexanya aku yakin durasinya ga sebentar." Mama Lexi berceloteh atas kedongkolannya kepada putranya.


"Bukannya bagus Ma, jika durasinya lama itu artinya anak kita perkasa." Papa Kahfa menggoda istrinya.


"Perkasa sih perkasa Pa, tapikan jika di kamar mandi pasti gayanya terbatas." Mama Lexi hanya kasihan kepada menantunya.


"Mama tau ga? Zayn dan Raffa membeli kursi sofa kamasutra, itu loh Ma kursi yang sempat Ghaza miliki beberapa waktu lalu." entah sejak kapan Kahfa sering berghibah tentang putra serta menantu barunya.


"Ah, Masa Pa." Mama Lexi terlihat tak percaya.

__ADS_1


"Iya Ma, bahkan dengan sopannya Zayn membelikan kita juga Ma. Anak itu benar benar." Kahfa menggelengkan kepala atas kelakuan putranya itu, kursi yang kembali viral sekarang Zayn belikan untuknya dan sang istri dasar Zayn, Apa putranya itu ingin memiliki adik kembali?


"Kapan?" Mama Lexi bertanya di antara kunyahannya.


"Udah dateng ke rumah Ma. Kita tinggal pakai saja."


"Astaghfirullah ank itu benar benar."


Di kamar mandi.


"Zaynnn ..."


"Yess Babyy ..."


"Aku cape. Kapan selesainya?" ucap Alexa dengan nafas tersendat, peluhnya kini mbanjiri setiap jengkal tubuhnya.


Alexa kini tengah berada di depan cermin berpegangan dengan wastafel kamar mandi, membelakangi Zayn dengan wajah pria itu yang sesekali mengecup tengkuk serta punghung polosnya, Zayn mengayuh dirinya untuk mendapatkan setiap hal yang ia inginkan. Zayn tak menyia nyiakan setiap hal yang bisa ia lakukan.


"Udah ya?" Alexa sudah benar benar lelah karna Zayn membabat habis dirinya sudah lebih dari satu jam yang lalu.


"Tadi juga udah selesai, kau malah mulai lagi." Alexa kesal bercampur lelah, padahal tadi juga Zayn sudah sampai namun pria itu malah meminta porsi lain.


"Sebentar lagi ya." Zayn menghentikan gerakannya juga melepas penyatuannya, ia merubah kembali posisinya menaikan Alexa ke atas wastafel. Ia dapat merasakan tubuh Alexa yang lembab oleh keringat, beberapa bercak merah keunguan bertebaran di seluruh tubuh Alexa sebagai tanda cinta yang Zayn tinggalkan. Zayn tersenyum bangga asal hasik karyanya, ia kembali membenamkan dirinya dalam kubangan kenikmatan dunia.


Dapat Zayn lihat kecepatan yang ia lakukan di pantulan cermin kamar mandi.


"Alexaaaaa ..." geraman tertahan itu lolos begitu saja dari mulutnya yang terbuka, berbarengan dengan melepasnya seluruh benihnya di rahim sang istri.


"Terimakasih." Zayn sampirkan wajahnya di tengkuk Alexa yang masih mengatur nafasnya.


"Sekalian mandi besar ya." Zayn membawa Alexa ke bawah kucuran air shower.


Zayn keluar lebih dulu dengan Alexa di belakangnya. Papa Kahfa dan Mama Lexi menatap keduanya dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan, hingga Alexa menunduk untuk menyembunyikan rasa malu yang kini memeluknya dengan erat. Gara gara Zayn ia harus semalu ini di hadapan kedua mertuanya.

__ADS_1


"Ma, Pa, jangan menatap kami seperti itu. Alexa malu!" Zayn memperingati orang tuanya supaya tidak menatapnya dengan aneh.


"Dasar aneh! Anak abis senang senang malah di liatin kayak gitu." Zayn menggerutu kesal.


"Kau yang aneh Zayn, jika ingin kenapa tak pulang dulu? Atau bawa istrimu ke penginapan terdekat masa harus di bawa ke kamar mandi. Kau tak kasihan sama istrimu?" Mama Lexi lah yang menjawab sedangkan Papa Kahfa hanya diam.


"Ga sempet Ma udah keburu On. Lagian Zayn juga ga tega ninggalin Mama." Zayn juga khawatir jika harus meninggalkan Mamnya sendiri.


"Alasan." alasan Zayn tak di terima sama sekali oleh mama Lexi.


"Sudahlah Ma jangan memojokan Zayn, justru Mama malah membuat Alexa semakin malu. Lihatlah pipinya nyaris seperti tomat masak." Papa Kahfa memperingati istrinya sekaligus meledek sang menantu yang kini tengah menunduk dalam menyembunyikan rasa malunya yang merebat ke seluruh wajahnya.


"Ayo makan! Jangan perdulikan omongan Papa." Zayn mengajak istrinya untuk duduk dan makan. Kerudung Alexa bahkan terlihat basah karna rambut yang belum sempat di keringkan.


"Zayn, kenapa rambut istrimu tidak di keringkan dulu? Nanti bisa flu." Mama Lexi menegur putranya.


"Ma, tolong jangan terlalu banyak berbicara. Alexa sangat malu sepertinya." Zayn menatap mamanya dengan penuh permohonan.


"Baiklah."


Zayn mengambilkan Alexa makan juga membukakan istrinya itu minuman dan menyuruh Alexa untuk makan dengan lahap. Perlakuan lembut itu mengingatkan baik Mama Lexi maupun Kahfa mengingat Almarhum Kahfi, yang pribadinya sangat lembut.


Alexa masih menundukan wajahnya, ia sangat malu. Bahkan untuk sekedar mengangkat kepala saja ia tak berani.


"Sayang makan yang banyak! Kau memerlukan energi yang banyak." Zayn memberikan beberapa daging di piring istrinya.


"Iya Alexa Sayang kau harus makan yang banyak. Kita tak pernah tau suamimu akan mengajak bercinta dimana lagi? Jadi kau harus membuat tubuhmu agar tetap sehat supaya dapat mengimbangi permainannya." ujar Mama Lexi, ia seakan belum puas membuat Zayn jengkel meskipun harus membuat Alexa malu setengah mati.


"Uhuk ... Uhuk ..."


Alexa terbatuk batuk. Ia tersedak oleh makanan yang tengah ia kunyah. Perkataan mama benar benar membuatnya ingin menghapal mantra melenyapkan diri.


"Mama. Astaghfirullah." Zayn membawa makanan yang tengah mereka nikmati.

__ADS_1


"Sayang ayo makan di luar saja!" Ajak Zayn. "Disini tak aman!"


__ADS_2