Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Memuji


__ADS_3

"Alexa bangun shalat subuh dulu. Alexaa!" Zayn mengguncang pelan bahu Alexa.


"Bangun Alexa."


Alexa merasa tidurnya terganggu kelopak matanya yang indah secara perlahan kini mulai terbuka. "Kak, aku masih mengantuk."


"Shalat subuh dulu Xa, fajar sudah hampir terbit." Alexa bangun dan duduk meskipun dengan mata terpejam. Alexa merentankan tangannya di hadapan Xayn.


"Gendong."


Zayn sampai menjatuhkan rahangnya karna tindakan Alexa yang menurutnya di luar nalar.


"Alexa jarak dari sini ke kamar mandi kurang dari 20 meter, dan kau minta di gendong olehku. Waraslah sedikit Lexa." Alexa masih memejamkan matanya dengan wajah yang mendongak pasrah.


"Aku belum makan kak, aku masih lemes bekas muntah semalam. Kalo aku memaksakan jalan lalu aku terjatuh bukankah itu bahaya untuk bayi kita."


Benar juga apa yang di katakan Alexa, lagi pula sebutan bayi kita cukup membujuk untuk Zayn melakukan keinginan Alexa.


Sekali lagi Zayn mengalah. "Naiklah." Zayn memberikan punggungnya di hadapan Alexa, membuat wanita itu meletupkan senyumnya.


Alexa tersenyum di belakang punggung Zayn yang tengah menggendongnya. Ternyata tak sulit membujuk suaminya agar menuruti ke inginannya, cukup mengatakan jika itu menyangkut keinginan bayi mereka maka Zayn akan menurut padanya.


"Mandilah dulu. Aku sudah menyiapkan air hangat." Zayn meletakkan Alexa di dekat bak mandi. "Jangan berendam waktu subuh sudah tidak banyak Lexa." Zayn memperingati Alexa.


"Aku tidak mau mandi ah dingin kak, lagi pula aku tidak kotor, kita juga tak melakukan apa-apa mengapa harus mandi sih?" Alexa memberenggut.


"Alexa, mandi sebelum ibadah itu di sunahkan meskipun kita tidak melakukan apapun."


"Oh, begitu. Tapi selama ini selalu langsung wudhu dan shalat, aku jarang sekali mandi subuh-subuh." Alexa dengan santai membuka pakaiannya di hadapan Zayn, membuat Zayn menelan salivanya berkali-kali. Hormon testosteron seorang pria selalu meningkat di pagi hari, apa lagi saat melihat penampakan indah di hadapannya.


"Alexa, malu lah sedikit!"


"Kenapa? Bukankan suami istri wajar seperti ini?" dengan santai Alexa memasuki bak mandi. Mengabaikan Zayn yang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Mau ikut bergabung?" Alexa malah menawari Zayn yang masih menatapnya.


"Cepat mandinya. Aku yakin jika aku ikut masuk mandimu tak akan selesas dalam waktu dekat. Zayn meninggalkan Alexa. Sedangkan Alexa meletupkan tawanya hingga menggema di kamar mandinya.


"Ha ha haha ..."

__ADS_1


.


"Zayn dimana Alexa?" Mama Lexi menodong pertanyaan pada putranya. Awas saja jika Zayn meninggalkan Alexa.


"Alexa masih di kamar Ma, Zayn suruh tidur lagi, semalam Alexa kurang tidur. Ia terlalu banyak muntah." Zayn menduduki tempat duduknya.


"Kapan kau akan membawa Alexa ke dokter?" Mama Lexi khawatir dengan keadaan Alexa, ia juga mengalami morning siknes yang parah saat mengandung Hanna, beruntung Kahfa sudah menjadi suami siaga dan bucin akut padanya sehingga ia menjalani kehamilannya dengan rasa gembira.


"Nanti Ma, setelah Alexa bangun. Sekalian kami mau jiarah ke makam Papa Kahfi dan Mama Nilam." Mama Nilam adalah almarhum Mamanya Alexa.


Mendengar nama Kahfi, mata Mama Lexi kembali berkaca-kaca, meski sudah berpuluh tahun berlalu lamanya, Nama Kahfi selalu memiliki tempat tersendiri di hatinya meskipun ia sudah mencintai Papa Kahfa tapi Mama Lexi tidak mampu melenyapkan nama Kahfi di hatinya. Beruntung Kahfa memahami hal itu. Inilah faktanya, seorang wanita mampu mencintai dua orang sekaligus dalam waktu bersamaan.


Zayn memalingkan wajah, secinta itu Papa Kahfa pada mamanya meskipun mamanya masih mencintai Papa Kahfi. Zayn salut karna Papa Kahfa tidak mempermasalahkan hal itu.


"Kau ingin ikut berjiarah ke makam Kahfi?" Kahfa malah bertanya dengan lembut. "Mau ku antar?" seluas samudra hati Kahfa. Zayn bahkan tak bisa membayangkan terbiat dari apa hati papa sambungnya.


Mama Lexi menggeleng, "Kitakan ada acara lain. Lain waktu saja kita berjiarah." Lexi tengah menjaga perasaan Kahfa, selama puluhan tahun bersama Lexi semakin mengerti bagaimana sikaf Kahfa.


"Ma, kemana Hanna?" Zayn mengajukan pertanyaaan. Mencoba mencairkan suasana yang menurutnya canggung.


"Sudah berangkat ngampus tadi di samper Lula."


"Kenapa?"


"Ini semua keinginan Alexa. Mereka berada di semester akhir. Alexa tak ingin pernikahan kami di ketahui banyak orang sebelum lulus kuliah. Aku menghormati keputusannya. Aku mengerti ada beberapa hal yang menjadi prifasi untuknya." Zayn menjelaskan.


"Oh, mama pikir karna ini karna keinginanmu."


"Tidak Ma, aku bahkan tidak keberatan satu dunia mengetahui pernikahanku. Lagi pula Aku tidak sedang menjaga hati siapapun." Zayn berujar santai sembari memakan makanannya.


"Annaaaa ..." Alexa berlari menuruni anak tangga.


Membuat Zayn segera berdiri bahkan tanpa sengaja Zayn menghempas kursi yang tengah ia duduki hingga terpental. Dengan sekuat tenaga Zayn berlari menuju Alexa.


"Alexa jangan berlari! Itu bahaya untuk bayi kita!" Zayn bahkan membentak Alexa, sumpah demi apapun Zayn menghawatirkan Alexa terjatuh.


"Aku lebih rela menggendongmu kemana-mana, dari pada aku harus menggadaikan keselamatan bayiku." Zayn menelisik penampilan Alexa. Matanya membola saat melihat sepatu yang di kenakan istrinya.


"Apa-apaan ini?" Mereka bahkan masih berada di atas tangga, Zayn bahkan berlutut dan melepas alas kaki Alexa kemudian menghempas alas kaki Alexa yang berhak tinggi hingga memantul di atas lantai.

__ADS_1


"Kak!"


"Aku melarangmu mengenakan segala sesuatu yang membahayakan bayiku!" Zayn terlihat berang membuat nyali Alexa yang setinggi gunung menviut seketika.


"Itu tidak tinggi kak!"


"Jangan membatah Alexa. Sekarang aku berhak menentukan apapun yang harus kau kenakan kau tanghung jawabku." Zayn menarik tangan Alexa untuk menaiki tangga kembali.


"Ada apa lagi kak?"


"Penampilanmu Alexa."


"Ada apa dengan penampilanku bukankah aku terbisa seperti ini?" Alexa menyangkal, ia nyaman dengan apa yang ia kenakan lagi pula apa yang ia pakai sopan, bajunya panjang dengan di padukan kulot berwarna hitam.


"Kenakan kerudung Alexa, aku sudah membelikan banyak kerudung untukmu. Lihatlah!" Zayn membuka lemari, tersusun berbagai kerudung segi empat juga pasminah dengan warna-warna pastel, juga warna gelap. Membuat Alexa mengernyit.


"Kau menyiapkan ini untukku?"


Zayn mengangguk.


"Aku menyesuaikan warna juga kerudung yang nyaman untuk kau kenakan bahan terbaik dari butiqe tante Kayla. Kau tanggung jawabku Alexa, bukan hanya di dunia ini saja, tapi sampai di akhirat kelak. Ku harap kau mengerti jangan sampai kau mempersulit tugasku." Zayn mengambil kerudung segi empat berwarna hitam. Lengkap dengan ciput juga penitinya.


"Kau hanya boleh mempertontonkan rambutmu juga bagian tubuh yang lain hanya padaku, selain itu kau di larang memperlihatkan rambut indah ini pada siapapun sekalipun Anna." Zayn menyerahkan kerudung itu di tangan Alexa dan mengambil alih rambut Alexa kemudian ia ikat dengan rapi.


Alexa ingin menolak, tapi ia juga tak tega pada Zayn. Benar ini tugas Zayn untuk membuat dirinya lebih baik.


"Tapi aku tak nyaman kak." Alexa memperotes.


"Lama-lama kau akan terbiasa. Aku perduli terhadapmu Alexa!" Jika kau bikan istriku aku juga tak akan mengaturmu.


"Tapi -"


"Jika kau tidak menutup tubuh dan kepalamu dengan benar aku akan menguncimu di kamar ini." Zayn tak main-main dengan ucapannya, terserah jika perintahnya terdengar memaksa.


Alexa mengenakan kerudungnya di hadapan Zayn, membuat Zayn tersenyum puas.


"Begitukan cantik." tanpa sadar Zayn memuji juga mengusap wajah halus Alexa.


Alexa tersipu, untuk pertama kalinya Zayn mengatakan dirinya cantik, jujur saja pernyataan Zayn mengganggu degub jantungnya.

__ADS_1


__ADS_2