
Ciuman lembut Raffa serta sentuhan panasnya tak serta merta membangkitkan hasrat Hanna. Wanita yang masih perawan itu hanya terkentang kaku di bawah kungkungan suaminya. Kadang matanya mengerjap beberapa kali, ia merasa asing atas perlakuan yang Raffa lakukan terhadapnya.
"Balas ciumanku." Bisik Raffa serak, Hanna mengangguk patuh dan mulai membalas ciuman suaminya.
"Buka mulumu!"
"Memangnya harus?" tanya Hanna, Raffa tersenyum istrinya benar benar sangat polos.
Bahkan saat Raffa membuka pakaiannya Hanna tidak mau, sehingga Raffa harus membujuknya beberapa kali.
Meski Raffa adalah seorang pemula, namun ia cukup pandai dalam memanfaatkan situasi, tangan dan indra perasanya sangat cekatan dalam mengabsen satu persatu tubuh istrinya.
"Aku akan masuk." bisik Raffa tepat di bawah dagu Ganna yan hanya pasrah di bawahnya, Hanba tidak nenikmati sentuhan demi sentuhan yang Raffa berikan
"Aw, pelan pelan."
Hanna hanya terpekik kaget saat benda asing menerobos pertahannya, sisanya Hanna tampak santai menerima hujaman dan perlakuan yang Raffa berikan. Hanna hanya menerima dan pasrah tidak menyambut atau antusias dalam pergumulan mereka untuk yang pertama kalinya.
Raffa cukup tenang dalam kegiatan percintaannya, ia tak seheboh Zayn dengan meracau dan memuji lawan mainnya saat bercinta.
Hanna seperti boneka yang tak berdaya, ia membiarkan Raffa berbuat dan bertindak sesukanya terhadap tubuhnya, tidak sekalipun Hanna mengeluh atau menolak perlakuan Raffa terhadap dirinya. Ia benar benar berlakon menjadi istri yang penurut.
"Hannaaa ..." Raffa menumpahkan semua benih yang ia miliki ke rahim istrinya.
Dapat Hanna rasakan semburan semburan hangat yang memenuhi inti tubuhnya.
Raffa mengulas senyum, juga menyucapkan terimakasi kepada istrinya. Hatinya di liputi rasa bangga saat bercak darah mengotori seprai serta miliknya, kenyataan tentang ia menjadi pria pertama untuk istrinya menjadi kabar membahagiakan lain untuk dirinya. Tak sia sia ia menjaga dirinya selama ini, kini terbayar lunas dengan rasa yang begitu memabukan.
Raffa menenggak segelas air, lalu setelahnya, ia terkapar lemas di samping Hanna, dengan rasa kantuk yang begitu jelas ia rasakan.
"Dek, kau puas?"
Hanna hanya diam ia tak mengerti dengan pertanyaan suaminya, tapi ia tadi sempat merasakan dibuat terbang melayang meskipun ia hanya pasrah tapi juga menikmati permainan Raffa. Hanna mengangguk mengiyakan.
"Allhamdulillah jika kau puas. Maaf jika permainan Mas buruk, ini juga yang pertama untuk Mas." Aku Raffa jujur. Hanna yang semula terlentang kini langsung duduk, perkataan Raffa mengenai yang pertama untuk pria itu sulit untuk ia percayai, dari statusnya saja Raffa sudah duda satu anak. Lalu bagai mana bisa pria itu mengatakan yang pertama?
"Yang pertama apanya maksudmu? Jangan membuatku salah paham."
Sebelum menjawab Raffa membelitkan selimut di tubuh istrinya. "Takut kembali On Dek." ujar Raffa cengengesan.
"Aku tak berbohong Dek, kau wanita pertama untukku."
"Hoamm ..." Raffa menguap beberapa kali ia benar benar mengantuk. Ia sudah mletakan kepalanya di atas bantal miliknya.
"Lalu mantan istrimu?"
Raffa tak menyaut lagi, sepertinya pria itu sudah benar benar di renggut kesadarannya oleh alam mimpi.
"Astaghfirullah. Apa setiap pria seperti ini? Setelah terpuaskan akan langsung terlelap? Aku akan bertanya pada Alexa nanti." Hannapun turut merebahkan tubuhnya tepat di sisi Raffa yang sudah terlelap.
__ADS_1
Tidak ada drama nangis nangis di malam pertama yang berhasil Raffa dan Hanna lewati.
.
"Papa pulang saja istirahat di rumah. Biar aku dan Alexa yang menjaga Mama." Zayn meneliti wajah papanya yang terlihat sangat pucat. Sepertinya Papa Kahfa memang tidak enak badan juga kurang istirahat karna harus mengurusi almarhum Lula beberapa waktu yang lalu.
"Tapi papa ingin menemani mama kalian."
"Kau pulang saja Pa. Aku tidak papa, kan ada Zayn dan Alexa. Istirahat saja supaya cepat pulih." sambung Mama Lexi.
Pada akhirnya Kahfa mengalah ia akan pulang, minum obat lalu istirahat supaya tubuhnya cepat membaik.
"Ayo Pa, biar Zayn antar."
"Tidak usah Papa bisa sendiri."
"abiar Zayn antar, Zayn takut Papa kenapa-napa." Zayn mendahului langkah Papanya. Papanya pamit lebih dulu kepada Mama Lexi.
"Kak, jika kembali beliin aku martabak manis ya." Alexa berlari kecil mendekati suaminya.
"Tapi upahnya mana?" Zayn memajukan wajahnya tepat di hadapan Alexa, ia menginginkan satu kecupan di pipinya sebelum pergi.
"Malu lah." Alexa mendelik.
"Kecup dulu baru nanti di berikan."
Cup.
"Aku mengambil upahku sendiri." Ujar Zayn dengan pongahnya.
"Astaghfirullah. Kau itu Zayn hobi sekali membuat istrimu kesal." Papa Kahfa juga heran akan tingkah Zayn yang selalu membuat Alexa mendelikan matanya.
"Apaan sih Pa, orang Zayn lagi usaha juga." Zayn mengecup kembali, kali ini bibir Alexalah yang menjadi sasarannya.
"Zayn ..."
"Yess, Baby."
"Mama lihat betapa menyebalkan putra mama itu!" Alexa mengadu kepada Mama Lexi.
"Wajar sayang, lagian dia juga minta ciumnya sapa kamu, kecuali sama wanita lain baru Mama akan menghajarnya." Zayn semakin tergelak saat ia rasa Mamanya memihak kepadanya kemudian ia berlalu untuk mengantar Papanya pulang.
"Alexa kemari sayang." Mama Lexi menggerakan tangannya mengajak Alexa untuk mendekat kearahnya.
"Ada apa Ma? Mama haus? Atau menginginkan sesuatu?" Alexa bertanya dengan penuh perhatian.
Mama Lexi menggeleng pelan dengan seulas senyum yang ia berikan. Ia senang saat Alexa terlihat sangat perhatian terhadapnya, Tidak tidak Alexa bukan menantynya, melainkan putrinya sendiri.
"Mama jangan sungkan, katakan saja Mama ingin apa Alexa akan membantu Mama. Apa mama mau ke kamar mandi?" tanya Alexa kembali.
__ADS_1
"Alexa bisa kok, bantu Mama? Alexa kuat kok." Alexa terlihat meyakinkan mama mertuanya.
"Tidak sayang. Mama hanya ingin tanya satu hal sama Alexa, tapi Alexa harus jawab jujur ya."
Alexa mengangguk.
"Sebenarnya ada apa? Mengapa Alexa kemarin ngotot minta ingin bercerai dari Zayn? Apa Alexa tak melihat bagaimana Zayn begitu baik memperlakukanmu" Tanya Mama Lexi hati hati, ia ingin mengetahui alasan utama Alexa menggugat cerai putranya. Bukankah Zayn merupakan sosok pria idaman, tampan dan kaya raya adalah harga mati bagi para pria agar terlihat keren di jaman sekarang sisanya bisa di bicarakan baik baik kan.
Alexa menggigit bibir bawahnya, ia ragu akan menjawab pertanyaan ibu mertuanya tapi ia juga tak mungkin diam saja saat di tanya oleh orang yang ia hormati.
"Se-sebenarnya Aku, aku merasa tak pantas saat bersanding dengan kak Zayn, rasanya terlalu banyak kekurangan yang ku miliki untuk menjadi seorang istri dari seorang Gus. Yang mana di luar sana banyak wanita yang jauh lebih layak untuk menjadi istri dari kak Zayn. Di tambah kejadian kemarin Raffi yang hampir menodaiku membuat diriku berpikir jika sebenarnya kak Zayn ingin berpisah denganku namun aku rasa Kak Zayn tak enak untuk mengutarakan keinginannya sehingga aku berpikir untuk mengajukan perceraian lebih dulu. Ku kira Kak Zayn akan menyambut niat dan permintaanku untuk berpisah namun Kak Zayn malah bertindak sebaliknya, dia menolak mentah mentah permintaanku." Alexa menunduk menyembunyikan wajahnya. Malu juga merasa tak enak kini yang Alexa rasakan.
Mama Lexi tersenyum, ternyata Alexa berpikir terlalu jauh rupanya. Apa Alexa tak melihat begitu banyak cinta di mata putranya.
"Alexa sayang mau bertaruh dengan Mama? Zayn tak akan menceraikanmu sekalipun kau memohon terhadapnya." tangan mama Lexi mengusap wajah menantunya yang menunduk dan mengangkatnya menggunakan jemarinya.
"Mama mengenal bagaimana perangai Zayn lebih lama dari siapapun. Zayn tak akan melepaskanmu karna dia sudah mencintaimu Alexa. Dia mengakui semuanya kepada Mama. Jangan lagi meminta cerai darinya, Mama melihat amarah yang sebenarnya di mata Zayn, saat kau meminta cerai darinya. Mama memohon sebagai seorang ibu. Tolong jangan meninggalkan putra Mama apapun yng terjadi." Tangan mama Lexi bahkan mengatup dengan nada yang penuh permohonan.
"Apapun yang terjadi tetaplah bersamanya. Tolonglah Alexa. Mama tak ingin melihat ke hancuran di hidupnya." Sebegitu sayangnya Mama Lexi kepada Zayn sampai ia memohon di belakang putranya, jika saja Zayn tau hal ini maka pria itu akan merasa tak berguna.
"Mama jangan memohon seperti ini." Alexa mengurai tangan mama mertuanya yang mengatup.
"Tolong Alexa."
"Baik, Ma baik. Tapi tolong jangan memohon." Alexa tak mengatakan jika dirinya sudah bersepakat dengan Zayn ia tak ingin Mamanya kecewa.
"Terimakasih."
Seorang perawat datang untuk memberikan obat kepada Mama Lexi, dan di bantu oleh Alexa Mama Lexi meminum obatnya.
"Sayang kau istirahat saja. Mama tidak papa, sepertinya kau terlihat lelah." sudah tersedia kasur busa di ruangan itu lengkap dengan dua buah bantal dan satu selimut.
Alexa menggeleng, "Aku ingin menemani mama sampai mama tertidur."
Karna kasihan melihat Alexa yang sangat lelah, akhirnya mama Lexi pura pura memejamkan matanya di atas ranjang pasien miliknya. Alexa yang sudah lelahpun menyampirkan wajahnya di sebelah kanan tubuh mama Lexi dengan tangannya sendiri sebagai bantalannya, kemudian dalam hitungan menit ia sudah di buai ke alam mimpi.
Mama Lexi membuka matanya kembali dang mengusap perlahan kepala Alexa yang tertutup kerudung berwarna coklat susu.
Ceklek ...
Pintu kamar terbuka, menampilkan Zayn dengan sekantong martabak manis kesukaan Alexa.
"Ya Allah, ini mah yang sehat yang di jagaiin sama orang sakit."
"Stt. Jangan berisik! Alexa baru saja terlelao." Mama Lexi menaruh jari telunjuk di bibirnya sebagai isyarat.
Zayn menutup pintu dengan perlahan kemudian mendekat ke arah istri dan ibunya.
"Alexa kelelahan karna dirimu juga."
__ADS_1