
"Ya Allah kapan berakhirnya?" Zayn menggeram tertahan. Sumpah demi apapun Zayn benar benar pusing menghadapi tingkah Alexa yang menurutnya di luar batas normal. Alexa benar benar menjadi ujian terberatnya selama hidup di bumi selama 29 tahun. Dan anehnya Zayn malah dengan legowo menginginkan Alexa untuk tetap menjadi istrinya.
"Kak Zayn pikir ini soal uang?" Alexa mengerucutkan bibirnya tapi tak pelak, ia meraih kartu itu dan menelitinya dengan seksama. Kapan lagi coba ia bisa memiliki kartu exklusife itu? Tentu saja jiwa matrenya meronta ronta.
Sebuah gelang emas beberapa gram tak sebanding dengan kartu hitam itu. Alexa membiarkan gelang itu berada di tempat sampah, lagi pula sejak awal ia hanya ingin memanas manasi dan memancing emosi Zayn. Tapi jika membuahkan hasil seperti ini siapa yang menolak.
Zayn benarkan seorang wanita pasti luluh dengan uang?
..."Lalu maksudmu kau tak ingin kartunya?" Zayn menaikan satu alisnya....
"Enak saja kau sudah memberikannya untukku masa mau di minta lagi." Alexa lekas memasukan kartu miliknya ke tas yang ia miliki.
Seseorang menelpon Zayn dan menunggunya di luar ruangan, rupanya Zayn sudah menyuruh orang yang bekerja dirumahnya untuk membawakan baju serta makan siang untuknya dan Alexa. Meskipun Alexa sudah makan juga sekarang tengah menyantap cake ulang tahun miliknya.
"Ganti bajumu, dan bersihkan tubuhmu terlebih dahulu. Setelahnya kita makan bersama." Zayn menyerahkan pakaian serta perlengkapan mandi miliknya kepada Alexa.
Alexa diam, ia meneliti tubuhnya sendiri di baju dan kerudugnya terdapat beberapa bercak darah yang berasal dari tubuh mama mertuannya.
"Kenapa diam? Mau di mandiin sekalian." seulas senyum nakal tergelincir di bibirnya, tiba tiba saja sebuah ide merangsek di kepalanya. Papa Kahfa selalu bilang wanita akan reda marahnya jika menyangkut uang dan ranjang. Zayn akan menerapkan hal itu.
"Enak saja!" Alexa menyambar pakaian dan perlengkapan mandi yang di sodorkan oleh suaminya.
Hening ...
Zayn menelan senyuman yang belum sempat ia kembangkan. Fix ini mah Alexa pasti luluh meskipun ia tau mungkin wanita itu akan sedikit jual mahal.
"Tak ingin mendoakan di hari ulang tahun istrimu?" sindiran nyata itu terdengar ketus di telinga Zayn. Giliran minta di doakan saja Alexa memanggil dirinya seorang istri.
__ADS_1
Alexa tetap ingin di do'akan yang baik baik oleh suaminya, meskipun hubungan mereka tengah di terpa badai yang ia buat sendiri.
Zayn mendekat, menangkup wajah istrinya dengan kedua belah tangannya. Wajah cantik itu terbingkai jemari jemari panjang milik Zayn.
"Tak kau mintapun aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Bukan hanya di hari ulang tahunmu saja. Setiap sujud setiap ku bernafas aku selalu memohonkan ampun juga mendoakan kebahagiaan untukmu istriku." Hati Alexa bergetar di saat Zayn mengatakan kata istriku.
"Namun khusus hari ini. Semoga Allah melembutkan hatimu, Allah maha pembulak balik perasaan. Aku ingin Allah menghilangkan pikiranmu yang ingin berpisah denganku. Semoga juga kita segera mendapat ganti dari dedek bayi yang sudah Allah panggil lebih dulu. Intinya aku berdoa semoga keluarga kita selalu bahagia sampai ke syurganya, Aamiin." Satu kecupan lembut Zayn labuhkan di kening istrinya, doa kebaikan juga ia ucapkan di atas ubun-ubun Alexa.
Alexa tertegun dengan mulut yang terasa kelu. Di balik kepedasan mulut dan kekakuan Zayn pria itu ternyata selalu mendoakannya. Benar begitu.
Alexa mengerjapkan matanya, ia tak ingin terlihat melau di hadapan Zayn. "Jangan lagi mengungkit perceraian ya? Sungguh aku akan sangat marah jika kau mengabsen perpisahan di antara kita."
"Apa yang kau lihat dariku Zayn? Aku tak lebih baik dari wanita di luar sana yang menginginkanmu. Kau bahkan berpeliang untuk mendapatkan bidadari syurga jika pisah dariku." Alexa tak menyerah, ia ingin terus mempengaruhi Zayn.
"Sesungguhnya aku penakut Alexa. Aku sudah nyaman denganmu, aku tak ingin mengambil resiko dengan menggadaikan kenyamananku demi kebahagiaan yang kau sebutkan tadi. Aku sudah sangat bersyukur atas dirimu yang ku miliki. Tidakkah kau melihat caraku bersyukur memilikimu? Tolong jangan terus memaksaku Alexa!" Zayn lah yang sekarang merasa hendak menangis, apakah wanita yang satu ini kelemahannya? Pintar sekali Alexa mengatur dirinya supaya tidak tegas.
"Terserah kau saja. Tapi aku bukan wanita shaliha! Jangan menyesal jika suatu saat nanti kau mendapati aku tak sesuai dengan inginmu!" Alexa hampir menyerah, Zayn sangat pandai bermain kata.
"Sekarang mandilah!"
Sejenak Zayn melirik ke arah brankar pasien yang menjadi tempat mama terlelap, terlihat jelas di mata Mamanya masih terbaring dengan mata terpejam di atas ranjangnya. Inikah kesempatannya?
Alexa sudah hendak berlalu dengan kaki yang sedikit menghentak hentak ke atas lantai, tanpa sepengetahuan Alexa Zayn mengekori istrinya dari belakang dengan secara perlahan. Dan saat Alexa sudah berhasil masuk ke dalam kamar mandi, Zaynpun menyelinapkan tubuhnya dan ikut masuk ke dalam.
"Kau mau apa?" Alexa terjengkit juga dengan suara nadanya yang sedikit meninggi.
"Mau bantuin mandi, barangkali kau memerlukan aku untuk menggosok punggungmu." Zayn tersenyum usil dengan sebelah kaki yang menutup pintu kemudian menguncinya.
__ADS_1
"Tidak usah. Aku bisa mandi sendiri, kau keluarlah!" Alexa menangkap lain kata menggosok punggung yang di katakan Zayn.
"Tidak papa. Aku akan membantumu, lagi pula aku juga butuh mandi, gerah." Zayn membuka koko yang ia kenakan. "Kamar mandinya cukup luas. Kita belum pernah mencobanya di bathup kan?" Zayn meraih tangan Alexa dan menenyentuhkannya keatas dadanya.
"Kau waras? Mama di luar sedang sakit. Bagai mana jika mama mendengar-"
"Stt." Zayn menempelkan jemarinya di mulut Alexa. "Jangan menolakku. Mama tidur."
Alexa tak memiliki alasan lagi. "Tapi kau selalu berisik jika sedang bercinta!" ya semoga saja alasan itu dapat Zayn mengerti.
Zayn menjauh dan menyalakan semua kran air hingga terdengar kucuran dari shower serta beberapa keran air lainnya. Tentu saja tujuan utama Zayn untuk meredam suara yang mungkin saja timbul oleh kegiatan mereka.
"Suaranya akan teratasi. Jangan mengelak sayang. Ayo!" Zayn mulai membuka peniti yang di kenakan Alexa.
"Zayn. Papa bisa datang kapan saja. Bagaimana jika-"
"Papa dan Mama pasti mengerti. Mereka bukan orang tua yang kolot, mereka juga tak akan mengganggu kita." tangan Zayn sudah menyelinap ke belakang rel sleting gamis yang Alexa kenakan dan menurunkannya dengan sedikit terburu buru.
"Zayn." Alexa mendesah frustasi saat tak bisa menggagalkan keinginan Zayn.
"Nyari pahala sayang. Kau berjihad jika menerima ajakan suamimu dengan iklas, pahalanya setara dengan kau pergi ke medan perang." Ada saja jawaban Zayn yang selalu mematahkan penolakan Alexa.
"Tapikan ..."
"Kau tak kasihan kepadaku?" Zayn mengangkat wajah Alexa dan memperlihatkan wajah memelasnya. "Aku tengah sangat ingin sayang. Kau lihat!" Zayn menurunkan bawahan yang ia kenakan sehingga terlihatlah sesuatu yang tegak tapi bukan ke adilan.
"Baiklah. Mana pengamannya? Biar aku yang memasangnya." Alexa menadahkan telap tangannya menminta sebuah alat pelindung yang berbentuk balon.
__ADS_1
"Aku tak akan mengenakan benda sialan itu lagi." Zayn segera menghabiskan pakaian yang masih melekat di tubuh Alexa. Dan menuntun wanitanya ke arah bathup.
Pertarungan yang sesungguhnya akan segera di mulai.