
Setelah sarapan Zayn membawa Alexa untuk memeriksakan kandungannya. Zayn sengaja memilih rumah sakit yang terdekat, juga memastikan jika dokter yang akan memeriksa kehamilan istrinya adalah seorang perempuan.
Meski sudah daptar secara online tapi Zayn dan Alexa tetap harus menunggu antrian hanya untuk memastikan calon bayinya tetap sehat.
Mual kembali menyerang Alexa, meski sedari tagi Alexa menghirup minyak kayu putih, tapi tetap saja rasa mualnya tak kunjung menghilang. Sehingga Alexa mau tak mau terus mendekap bisep suaminya. Ya hanya aroma tubuh Zayn yang dapat mengurangi rasa mual yang sedari tadi mengocok perutnya.
"Alexa kau seperti anak kecil yang hendak cabut gigi." Zayn berbisik di dekat telinga istrinya yang berbalut hijab, Zayn menyadari semua mata menatap ke arah meraka. Tingkah Alexa bahkan semakin aneh, wajahnya ia tenggelamkan di dekat ketiak Zayn, yang mana membuat Zayn merasa tak nyaman, juga dengan tatapan yan tertuju padanya.
"Mual Kak. Aku sangat mual, bau obat juga ubin rumah sakit ini membuat lambungku serasa di obok-obok." Alexa berujar dengan manja, juga dengan pupil eyes yang ia tampilkan membuat Zayn menghela nafas kasar.
"Lalu dengan kau mengendusi ketiakku seperti ini mualmu berkurang?"
Alexa mengangguk. "Aku juga tidak tau kak. Wangi tubuh kak Zayn benar-benar membuatku tak mual lagi."
Zayn membiarkan Alexa mendekap pinggangnya. Ia berpikir mungkin ini bawaan bayinya, jika tidak sedang hamil Alexa juga tidak mungkin seperti itu padanya.
"Atas nama Zayn Omar." sebuah suara yang Zayn tidak ketahui dari mana asalnya memanggilnya. Lalu dengan ruangan peraktek fokter obgyn yang terbuka, mengeluarkan sepasang suami istri yang merupakan pasien sebelumnya, dengan seorang perawat yang juga memanggil nama Zayn serta sang istri.
Setelah Zayn mengatakan jika dirinya ingin memeriksakan calon bayinya, dokter itu meminta Alexa agar berbaring di blankar pasien.
Sebuah alat yang menyerupai telepon rumah di dekatkan oleh dokter itu ke arah perut Alexa, yang sebelumnya pakaian Alexa sudah di naikan oleh Zayn.
Cairan berbentuk gel di tuangkan di atas permukaan perut Alexa bagian bawah, rasa dingin dari gel itu membuat Alexa memekik.
__ADS_1
"Ada apa?" Zayn dengan panik bertanya.
"Dingin Kak, aku kaget." Alexa tersenyum kikuk.
"Kau ini ku pikir kenapa."
Zayn memperhatikan perut putih Alexa, yang saat ini tengah di tempelkan alat khusus di sana dan sesekali Zayn menatap ke arah monitor atas saran dokter.
"Usia kandungannya, baru memasuki tiga minggu ya Zayn. Kantung kehamilannya sudah terlihat jelas, sejauh ini kandungannya sehat." Wanita cantik dengan jas putih itu memberitahu Zayn, kebetulan dokter itu merupakan kakak dari salah satu temannya.
Alexa mengernyit saat dokter wanita itu menyebut nama suaminya dengan sebutan namanya saja. Dokter itu juga terlihat akrab dengan Zayn, Alexa menyimpulkan jika bukan temannyas mungkim dokter itu mantan Zayn.
Setelah menyelesaikan pemeriksaan dokter yang bernama Aida itu membawa Alexa juga Zayn ke mejanya, untuk menjelaskan beberapa hal umum mengenai kehamilan.
"Zayn kok nikahnya ga ngundang aku sih?" Dokter Aida bertanya sembari mengisi beberapa hal di buku khusus ibu hamil milik Alexa, bahkan hari perkiraan lahir sudah di hitung oleh dokter cantik itu.
"Zayn istrimu sudah cukup umur di nikahi?" dokter Aida keceplosan.
"Tentu kak. Kau pikir aku menikahi anak di bawah umur!" Zayn memberenggut. dokter Aida pikir Alexa masih umur belasan tapi ternyata wanita hamil itu sudah berumur 22 tahun.
"Pasti kalian di jodohkan?"
"Tebakan kakak salah, kami menikah atas pilihan aku sendiri. Eh maksudnya atas pilihan kami." Zayn meralat ucapannya.
__ADS_1
"Nanti undang-undangnya saat resepsi kak, kami baru akad. Dan rencananya resepsi akan menyusul setelah bayi kami lahir." Zayn menjelaskan, dokter Aida mengangguk mengerti, tidak ada pikiran seujung rambutpun jika Zayn dan Alexa menikah karna kecelakaan mengingat Zayn adalah orang yang taat. Setidaknya itulah yang dokter itu ketahui tentang Zayn.
"Kak, istriku mengalami mual terus menerus. Apakah ada obat yang bisa meredaskan mualnya?"
"Ada Zayn, aku tulis resep dulu. Usahakan menghindari makanan yang membuatnya mual juga biasakan cukup memakan buah dan sayur ya."
Alexa mengangguk.
"Jangan terlalu banyak melakukan pekerjaan, juga jaga pikiran istrimu agar tetap happy Zayn." dokter Aida begitu ramah.
"Dok, aku heran mengapa moodku sering berubah-ubah apa itu pengaruh dari kehamilan juga, terkandang aku ingin di manja-manja terus." Sebenarnya Alexa tau hal itu memang berpengaruh dari paktor kehamilannya, hanya saja Alexa sengaja menanyakan itu hanya agar Zayn mendengar sendiri pernyataan dari dokternya.
"Tentu cantik. Hormon ibu hamil berpengaruh dengan moodmu. Tidak masalah kau bermanja-manja pada suamimu asal jangan sama suami orang." Dokter Aida merasa gemas sendiri dengan istri Zayn ini.
"Ada pantangan yang harus di jauhi Kak, semisal makasnan?" Zayn bertanya kembali. Lagi pula meski Alexa tidak bertanya masalah mood, zayn sudah lebih dulu mengerti.
"Tidak ada Zayn selagi istrimu tidak Alergi, tifak ada pantangan asal jangan mengonsumsi makanan dan minuman berlebihan."
"Oh ya. Jika kalian ingin melakukan hubungan lakukan pelan-pelan, dan tanyakan gaya mana yan membuat istrimu nyaman. Jangan egois ya Zayn!"
Blash,, baik Alexa maupun Zayn merasa sangat malu, saat membahas masalah ranjang. Alexa bahkan belum berpikir ke arah sana. Berbeda dengan Zayn, Zayn bahkan ingin dengan segera mengulang malam itu, hanya saja Zayn ingin membuat Alexa nyaman terlebih dahulu.
Jangan salahkan Zayn jika otaknya kini sudah kotor. Jujur saja kejadian malam itu membuat Zayn ke tagihan luar biasa.
__ADS_1