
"Ya ini aku. Kenapa kau ingin lari lagi?" Zayn berdiri kemudian mendekat ke arah Alexa.
"Bibi ini minyaknya." Alexa malah berlari menuju dapur di rumah itu, terus terang saja Alexa tak nyaman saat Zayn menatapnya lekat seperti tadi.
Zayn kembali berbincang dengan Mamang Opik. "Mang maaf saya tidak sempat beli oleh oleh. Kiranya ada makanan yang mamang atau bibi sukai besok saya akan mencarinya." Zayn merasa tak enak hati karna tidak membawa sesuatu sebagai buah tangan.
"Tidak usah Jang. Dengan adanya kalian kemaripun Mamang dan bibi sudah senang. Tapi jika maksa sih mamang paling cuma pengen rokok. Hahaha ..." Mang Opik tergelak nyaring, ia bermaksud mengajak suami dari keponakannya untuk bercanda.
"Mang saya belum shalat isya." Zayn memberi tau.
"Neng. Ini suaminya antar ke sumur dulu buat ambil wudhu. Mamang belum benerin Z pam yang di kamar mandi rumah." Mamang Opik memanggil Alexa.
"Ia Mang." Alexa menghampiri Zayn.
Alexa berjalan lebih dulu ke sumur yang berada di belakang rumah. Padahal tadi sore kamar mandi di rumah bibinya masih bisa di gunakan mengapa sekarang tak bisa? Pikir Alexa.
"Sok masuk kak. Aku nunggu di sini." Alexa membuang pandangan, entahlah ia merasa jika Zayn menatapnya aneh sejak tadi.
"Ayo ikut. Takut loh di sini sendiri, udah mau jam 8 malam. Ini perkampungan bukan di kota, kita tak tau dedemit datangnya dari mana." Zayn sengaja menakut nakuti Alexa.
"Ih kak Zayn ngomongnya. Jangan sembarangan! Ini tempat asing." Alexa meraba tengkuknya sendiri ia merasa merinding.
"Ya sudah kalo mau di sana, aku ga tanggung jawab ya jika ada sesuatu."
"Kak Zayn." Alexa lebih dulu memasuki kamar mandi lebih dulu, yang sudah ber atap juga berdindingkan papan kayu, lantainya sendiri terbuat dari batu cadas, yang sepertinya sudah lama di gunakan.
Air di sumur itu langsung dari sumbermata air sehingga menggunakan pancuran yang terbuat dari bambu kemudian di tampung di sebuah lengkungan berukuran lebih dari satu meter ke bawah tanah menyerupai sebuah kolam.
Zayn segera mengunci pintu oleh tulak sederhana dari belahan kayu kecil. Pria 29 tahun itu langsung menghimpit tubuh Alexa di kamar mandi. Tapi Zayn sangat hati hati akan tekanan yan ia pusatkan hanya di dada Alexa.
"Tidak mau menyapaku tadi, Heh." Zayn membenamkan ciuman di bibir istrinya, melu mat merta meng hisap bibir yang sudah menjadi candu untuknya. Lidahnya bahkan menerobos masuk ke dalam mulut Alexa untuk mengabsen satu persatu rongganya.
Tangan Zayn tidak tinggal diam, telapak tangan lebar itu kini bertautan dengan kelembutan milik istrinya.
"Emmmpppttt ..."
__ADS_1
Alexa nyaris kehabisan nafas karna kerakusan Zayn.
Melihat Alexa yang terlihat kesulitan bernafas Zayn menjauhkan wajahnya. "Sekali lagi kau pergi tanpa ijinku ku rantai kakimu."
Zayn membenahi baju Alexa yang tadi ia acak acak. "Apa masalahnya jika aku pergi? Bukankah kau tak mencintaiku?" Mata Alexa di bingkai oleh air mata yang bersedia terjun jika Alexa berkedip sekarang.
Zayn terpaku untuk sementara waktu. Sekali lagi Zayn memantapkan hati. Tak ingin terjadi kesalah pahaman lagi.
Zayn mencekal tangan Alexa dan meletakan tangan itu di dadanya. "Baiklah Alexa. Aku mengaku kalah! Aku sudah bertekuk lutut di hadapanmu. Aku akui kau berhasil memiliki hatiku dengan serakah. Untuk itu kau harus bertanggung jawab dengan menjadi istriku seumur hidupmu." Zayn membawa tangan yang ia genggam ke rahangnya.
"Ma-maksudmu apa?"
"Dasar bodoh!" Zayn menyentil kening Alexa.
"Shh, sakit Kak." ringis Alexa.
"Aku mencintaimu Alexa Omar. Dengan ini ku berikan seluruh hatiku untukmu. Tolong agar menjaganya dengan baik, aku seorang pria pecemburu." Zayn menatap manik Alexa yang kini mengerjap beberapa kali.
"Ka-kau mencintaiku? Kau yakin?" Alexa bertanya kembali. Ia seakan tak percaya jika pria sekaku Zayn baru saja mengungkapkan cinta.
Alexa langsung memeluk tubuh kekar Zayn. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
Tunggu dulu ini bukan prank kan takutnya Zayn mengerjainya. Meskipun mustahil Zayn melakukan sesuatu sejauh ini hanya untuk lelucon. Tapi Alexa tetap harus menanyai kebenarannya.
"Ini bukan prank kan kak?"
"Kau pikir aku bercanda?" Zayn sudah menghapal kalimat dari Mamanya sepanjang perjalanan namun Alexa bukannya terkesan tapi malah menganggapnya tengah ngepreng. Benar benar si Alexa ini.
"Aku hanya memastikan."
Sesaat kemudian Alexa terlihat kesal dengan serau t wajah di tekuk.
"Aku kesal dengan kak Zayn." Tuk ... Alexa menendang tulang kering Zayn.
"Kesal kenapa lagi?. Kan aku sudah mengatakan perasaanku." tadinya Zayn ingin mengatakan kan aku sudah menuruti ingimu. Tapi takutnya Alexa mebgatainya terpaksa mengungkapkan cinta.
__ADS_1
"Dari banyaknya tempat di muka bumi ini mengapa kak Zayn harus mengungkapkan cinta di sumur sih?" pupus sudah angan angan Alexa yang berharap Zayn mengungkapkan cinta dengan setangkai bunga di tangannya.
"Tak ada waktu Alexa, aku tak ingin permasalahan kita terlalu berlarut larut. Aku janji setelah ini akan mengatur pengungkapan cinta sesuai anganmu." Zayn mengusap pipi Alexa yang tergenang air mata.
"Benar ya."
"Tentu."
"Jangan kabur lagi perempuan brutalku." Zayn membenamkan kecupan hangat di bibir ranum istrinya.
Saat Zayn berniat menarik diri, Alexa semakin memperdalam ciumannya, kedua tangannya Alexa kalungkan di leber Zayn. Rasa ciumannya berbeda, entah ini hanya perasaan Zayn saja atau memang benar adanya. Alexa lebih Lewes setelah pengungkapan cintanya.
"Astaghfirullah. Aku belum shalat." Zayn melepas Alexa dan mengambil air wudhu.
Meski pengungkapan cinta Zayn di dalam bilik sumur tapi hal itu tetap saja membuat Alexa berbunga bunga.
"Bagai mana lukanya apa sudah sembuh?" Setelah shalat Zayn menyingkap pakaian Alexa dan melihat luka bekas oprasi.
"Sudah tidak sakit lagi kak, tapi masih ngilu." ujar Alexa jujur.
Mereka kini tengah berada di kamar sederhana yang Alexa tempati.
"Aku ingin cepat sembuh agar bisa hamil kembali." Alexa berucap penuh harap.
"Setelah sembuh kita tunda dulu ya rencana kehamilannya." Zayn berujar lembut.
"Kenapa? Bukankah kak Zayn ingin punya anak?" Alexa memperhatikan wajah tegas suaminya.
"Aku memang sudah sangat ingin mempunyai anak. Tapi aku tidak bisa egois. Aku ingin kau benar bennar pulih dan benar benar siap. Setidaknya selama enam bulan. Kita bisa memanfaatkan waktu untuk pacaran dulu kan. Tidak usah terburu buru Ale, kita biarkan mengalir semuanya seperti air. Kau mau kan?"
"Alexa mengangguk. Hatinya menghangat seakan sesuatu yang lembut tengah memeluknya. Aku rasa kau memang sudah tergila gila kepadaku." Ujar Alexa percaya diri.
"Salahkan dirimu yang terlalu memesona." Zayn tak ragu lagi mengungkapkan cintanya di hadapan Alexa, ternyata rasanya tidak seperti dugaannya. Ia pikir akan banyak drama atau penolakan Alexa yang akan mengatakan terlambat lah, apalah, tapi nyatanya Alexa menyambut baik perasaannya.
"Terimakasih karna sudah menerima ungkapan cintaku."
__ADS_1