
"Astaghfirullah, istighfar Alexa." Zayn kira Alexa kerasukan mungkin.
Alexa terus mengorek tenggorokannya hingga ia benar-benar muntah, bukan hanya ketupat sayur saja yang Alexa muntahkan. Bahkan makan malam yang belum tercernapun turut Alexa keluarkan.
"Alexa kau ini kenapa? Mengapa harus memuntahkan makanan yang sudah kau makan." Zayn membasih mulut istrinya, nafas Alexa masih memburu. Ia tak menyaut tubuhnya kini terasa sangat lemas, tenaganya habis karna pertempuran mereka pagi ini di tambah lagi dirinya habis muntah, moodnya juga kian memburuk.
"Pokoknya kak Zayn jangan memakan apapun yang di berikan Lula pada kak Zayn. Jangan pula memberikan makanan darinya untukku."
"Tapi kenapa? Beberapa waktu lalu kau bahkan melahap habis kue yang di berikan Lula." Zayn bertanya sembari menyiapkan air hanyat untuk istrinya berendam di dalam bathup. "Mandi wajib dulu ya. Baru boleh berendam." Zayn juga meneteskan beberapa tetes Aroma terapi ke dalam bah mandinya.
"Aku memakan kuenya karna tidak tau jika Lula menyukai kak Zayn. Sekarang setelah aku tau jika Lula menyukai kak Zayn aku malas memakan apapun darinya. Takut ada kematnya alias guna-guna." Alexa bergidik ngeri serta membaca istighfar berulang kali.
"Alexa tak baik berbicara seperti itu. Lagi pula Lula adalah sepupuku sama seperti Alena."
"Mengatakan sesuatu tentang orang lain tanpa kebenarannya itu bisa saja menjadi fitnah Alexa."
"Aku tidak berbohong. Lula mengatakan lansung padaku jika dia menyukaimu. Aku takut kau di pelet dan di mantrain melalu makanan yang di berikannya padamu." Alexa masih tetap kukuh dengan asumsinya sendiri.
"Jangan mempercayai hal itu Alexa, musyrik. Lula tidak mungkin melakukan hal itu aku mengenalnya sedari kecil."
Alexa tersinggung. "Jadi maksudmu aku yang mengada-ngada?"
Ya ampun salah lagi. Padahal Zayn tidak berkata seperti itu, sulit sekali berbicara dengan ibu hamil ini. Apa setiap ibu hamil memiliki emosi seperti Alexa? Zayn membatin.
"Bukan itu maksudku. Lula tak mungkin melakukan itu, agamanya cukup baik untuk bertindak menentukan yang di larang oleh Tuhannya. Aku mengenalnya dengan baik.
"Mengenal baik tapi tidak tau jika Lula menyukaimu. Dasar Naif."
Zayn menghembuskan nafas kesal Alexa benar-benar mengujinya. Bukan Zayn tidak bisa menilai Lula yang kagum terhadapnya. Hampir semua gadispun seperti itu terhadap dirinya. Hanya Hanna, Alena serta Alexa yang menolak ketampanannya.
"Makin lama bicaramu makin kesana."
"Pokoknya aku tak mau tau, aku melarang kak Zayn untuk tidak menerima pemberian Lula dalam bentuk apapun. Awas saja jika kak Zayn membohobgiku. Aku tak akan mau berbicara lagi dengan kak Zayn." Alexa mulai berkumur.
"Baiklah, terserah kau saja." Biasanya Zayn bebas melakukan apapun sesuai keinginannya tapi semenjak menikah Zayn harus membiasakan diri jika hidupnya juga di atur oleh sang istri.
Hampir saja lupa, Alexa tidak mengucapkan kalimat selamat ulang tahun terhadap suaminya.
Alexa mendekat dan memangkas jarak, kemudian mengecup salah satu pipi Zayn. "Selamat ulang tahun suamiku. Sehat selalu dan murah rejeki, semoga kau selalu di limpahi kebahagiaan Aamiin."
__ADS_1
Zayn termangu di tempatnya berdiri. Astaghfirulah ia baru ingat jika hari ini memang ulang tahunnya.
Zayn tersenyum serta mengangguk. Ia mendekap tubuh Alexa yang hanya terbalut seitas handuk kimono berwarna putih.
"Terimakasih, doa yang sama untukmu juga calon calon ibu anakku."
"Dan yang tadi adalah hadiah untukmu. Kau tak akan mendapatkan hadiah itu dari siapapun."
"Darimana kau tau?"
"Tadi Mama Lexi mengirimu pesan. Aku berinisiatif untuk membuat ulang tahunmu berkesan."
Zayn tertawa sangat renyah, tawanya mendentum di kamar mandi. Rupanya Alexa memberikan hadiah berupa pelayanan di atas ranjang. Langka sekali hadiah seperti itu.
"Ya, aku tak akan mendapatkan hadiah seistimewa itu selain dari istriku yan nakal." Zayn menjawil hidung bangir istrinya.
"Mandi lah lebih dulu. Jika mandi bersama aku yakin tak akan selesai cepat. Aku tau aku masih di hukum. Meski kau mempersembahkan pelayananmu sebagai kado ulang tahun aku tak akan mengingkari janjiku. Uangmu akan kau terima."
Ah pengertian sekali Zayn ini. Alexa jadi tidak usah memintanya lagi.
"Kau akan menerima harga yang pantas karna berhasil menyenangkan suamimu."
Makanan yang tersisa separuh Zayn bawa menuju dapur, di sana terdapat Lula dan Hanna tengah berbincang bersama.
"Gus Zayn mengapa ketupat sayurnya tidak di habiskan? Apa rasanya tidak enak?" tanya Lula. Lula memang tidak tau jika Zayn di kamar itu bersama Alexa, yang Lula ketahui Zayn tinggal di kamar atas. Sedangkan Alexa selalu tidur dengan Hanna.
"Bukan seperti itu. Tadi saat aku makan ini kejatuhan cicak." bohong Zayn yang sangat aestetik. Mana ada cicak jatuh di ketupat sayur yang di makan, mau jadi toping pelengkap.
Hanna tidak mempercayai yang Zayn katakan tapi ia memilih diam. Sedangkan Lula sepertinya percaya-percaya saja.
"Bagaimana rasanya enak?" Lula memang sangat cerewet aish, bukan cerewet tapi ramah.
Bagaimana Zayn bisa menjawab, sedangkan ia tidak mencicipi ketupat sayur buatan Lula. Benar kata orang bijak sekali berbohong maka akan ada kebohongan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan pertamana.
"Enak." bohong Zayn kembali.
Lula pulang sebentar ia akan nebeng ke kampus bersama Hanna, pasti Zayn yang akan mengantar Hanna, mengingat Hanba tak bisa menyetir. Dan lagi semenjak hamil Zayn melarang Alexa untuk menyetir sendiri. Ia rela menjadi supir asalkan keselamatan istri dan calon bayinya terjamin.
Lula juga sudah menyiapkan kejutan untuk Zayn yang berulang tahun.
__ADS_1
Zayn menyiapkan sarapan untuk Alexa, hanya sebuah sandwish juga segelas susu hamil. Jika ia harus memasak waktunya tidak sempat.
Beruntuk Lula sudah pulang saat Alexa keluar dari kamarnya.
"Alexa sarapan dulu, setelah itu baru berangkat."
Alexa memakan makanannya. "Anna kau tak sarapan?"
"Aku sudah sarapan Ale, makan ketupat sayur dari Lula."
"Apa kak Zayn juga makan ketupat sayurnya" tanya Alexa dalam hati. Tapi Zayn malah melahap roti dengan slai coklat juga meminum tehnya itu artinya kak Zayn sudah sarapan.
Saat mereka selesai saraoan dan bersiap berangkat. Lula menghampiri Zayn dengan kue ulang tahun di tangannya, di lengkapi dengan lilin 29 yang sudah di siapkan.
Lula menyanyikan lagu ulang tahun dengan cuara falsnya, di sertai Hanna yang turut menyanyi dengan suara cemprengnya. Alexa kesal juga terhadap Hanna yang seakan menjadi sekutu untuk Lula. Padahal Hanna tidak tau apa-apa.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga." ujar Lula dan Hanna bersamaan.
Tanpa firasat apapun Zayn meniup lilin, ia hanya mengingat kalimat Alexa, jangan menerima pemberian apapun. Tapi tidak ada sangkut pautnya dengan lilinkan?
Alexa yang kesal pergi memasuki mobil milik Zayn kebetulan ia yang membawa kuncinya. Di saat mereka masih berada di luar. Alexa menghidupkan mobil dan mencekan klakson kuat-kuat.
Kiiiikkk .... Kiiiikkkk ....
Lula yang tengah memengang kue kaget dan tanpa sengaja melemparkan kuenya hingga terjatuh ke atas tanah. Sia-sia saja semalam tak tidur ia membuat kue nyatanya kue itu terbuang dengan sia-sia.
"Woy minggir mau lewat nih." Alexa memang sebar-bar itu.
Zayn segera melangkah mendekat ke arah Alexa dan membuka pintu mobilnya. Menarik Alexa dari balik kemudi. Ya tuhan Zayn sampai jantungan takut Alexa benar-benar menjalankan mobilnya.
"Jangan membahayakan calon bayiku." Zayn segera menempatkan Alexa di kursi penumpang di sebelahnya.
Lula masih meratapi kuenya yang tergeletak, ia tau Alexa sengaja berbuat itu karna iri tidak bisa se manis tindakannya. Tidak tau saja si Lula jika Alexa sudah memberikan hadiah yang membuat babang Zayn teriak-teriak keenakan.
"Lula jadi bareng tidak? kami mau berangkat." ucap Hanna.
Lulapun segera beranjak dan meninggalkan kuenya yang malang.
Sepanjang perjalanan Alexa tertidur. Zayn kira Alexa seperti itu karna kecapeaan setelah pergumulan mereka. Zayn pasti akan terkejut saat Alexa kembali marah. Dan semua itu gara-gara tiup lilin.
__ADS_1