
Tengah malam Alexa terbangun seperti biasa ia kembali lapar. Alexa melirik tepat di sampingnya, Zayn berada di sampingnya tangan kekar itu membelit tubuh Alexa pantas saja Alexa merasa sesak sejak tadi.
Secara perlahan Alexa melepas pelukan suaminya dan mulai turun dari kasur yang ia tiduri, entah sejak kapan Zayn pindah tidur di sisinya. Terakhir Alexa melihat Zayn tengah membereskan pakaian mereka kedalam lemari plastik.
Sebelum mencari makanan Alexa memilih ke kamar mandi untuk buang air kecil terlebih dahulu. Di pojok kamar mandi Alexa dapat melihat satu ember pakaian, semula pakaian kotor itu kini sudah berubah menjadi pakaian bersih. Alexa sangat yakin jika Zayn lah yang mencuci pakaiannya.
Selepas menunaikan hajatnya Alexa kembali ke kamarnya, bukan untuk mengucapkan terima kasih melainkan untuk minta di buatkan sesuatu ia sangat lapar.
Tatapan Alexa terpaku di hadapan Zayn, Alexa menatap lambat-lambat wajah Zayn dengan mata yang tertutup rapat. Bulu mata lentik juga alis yang lebat membuat Zayn memang semakin terlihat tampan. Tangan Alexa terulur untuk menyentuh rahang tegas Zayn yang di tumbuhi bulu-bulu halus. Ia tertarik untuk berlama-lama berada di sana, wajah itu tampak tenang dalam buaian mimpi, tidak ada sedikitpun tanda-tanda yang menggambarkan jika Zayn adalah pria yang pemarah. Emosi Zayn gampang meledak-ledak sekalipun dengan hal sepele.
Tidak Alexa pungkiri beberapa waktu terakhir Zayn berusaha menunjukan sikap baiknya. Zayn berubah menjadi perhatian dan selalu memperhatikannya akhir-akhir ini.
Alexa meraih tangan kekar yang sudah memberikan sejumlah uang untuknya. Tangan itu yang mencukupi semua kebutuhannya, tangan itu pula yang memastikan ia aman dari setiap sesuatu yang hendak melukainya.
Alexa membawa telapak tangan Zayn yang lebar mendekat ke mulutnya kemudian Alexa mengecupnya. "Terima kasih."
__ADS_1
"Kak Zayn, bangun. Kak Zayn aku sangat lapar, ayo bangun." Alexa mengguncang tubuh Zayn berkali-kali hingga Zayn yang baru terlelap beberapa waktu membuka matanya.
"Ada apa?" Zayn mendudukan tubuhnya juga menggeliatkan tubuhnya untuk meregangkan otot-otot yang terasa kaku di tubuhnya.
"Aku lapar. Tolong buatkan aku makanan."
"Kau sudah tidak marah kepadaku?" Zayn malah bertanya hal itu, tumben sekali seandainya Alexa sudah tidak marah, padahal biasanya wanita itu tidak akan mereda sebelum dirinya meminta maaf dan memohon. Tapi sekarang Alexa memintanya di buatkan makanan.
"Aku masih marah, hanya saja aku tak boleh egois bayiku butuh nutrisikan? Bukannya kau mengatakan sendiri pada diriku jika aku harus tetap memperhatikan setiap hal untuk bayiku?"
"Ayo buatkan aku makanan." Alexa menarik tangan Zayn untuk bangun.
Zayn berdiri kemudian mengikuti langkah Alexa menuju dapur yang masih kosong, tidak ada kompor atau perlengkapan lain di sana. Hanya ada beberapa roti serta cemilan yang di berikan Zayn.
"Aku belum berbelanja. Lagi pula tidak ada kompor dan alat lain. Besok aku akanembeli perlengkapan lainnya." Zayn duduk di kursi kemudian membukakan susu kotak yang ia beli dan ia berikan kepada Alexa.
__ADS_1
"Makan cemilan atau roti mau?" Zay menawarkan beberapa makanan yang ia miliki. Namun Aleca menggeleng dengan bibir yang mengerucut panjang.
Sekali lagi Zayn menghembusnafas lelah. "Lalu kau mau makan apa? Biar ku carikan." Zayn meraih kunci motor di meja, ya Zayn memang hanya membawa motor untuk pindah ke rumah kontrakan yang di pilih Alexa , karna gang yang sempit tidak memungkinkan Zayn untuk membawa mobil.
"Belum tau. Biar aku ikut, aku akan berpikir di jalan." ujar Alexa yang dengan sigap mengenakan jilbab instannya.
"Alexa aku pakai motor bukan pakai mobil."
"Aku tau, motormu yang terparkir di teras rumah kan?"
"Alexa, terlalu berbahaya pergi dengan motor. Kau tinggal mengatakan ingin makan apa aku akan mencarinya."
"Pokoknya aku ingin ikut!"
Keinginan Alexa bagaikan titah sang paduka.
__ADS_1
"Baiklah. Tunggu sebentar di sini!" Zayn memasuki kamar terlebih dahulu untuk mengambil jaket milik Alexa terlebih dahulu. Untung saja ia membawanya.