
Zayn memapah istrinya dengan hati hati menuju kamar mandi. Tadinya Zayn hendak menggendong Alexa, sayanggnya istrinya itu tak mau Zayn gebdong sehingga Zayn memapahnya untuk sampai di kamar mandi.
"Kak Zayn keluar saja!" Alexa sudah berdiri di dekat toilet duduk. Ia tak nyaman saat Zay berada di sana.
Zayn tak menjawab.
Zayn malah melutut dan membukakan celana Alexa sampai sebatas lutut, juga dengan dalaman Alexa. Zayn juga mengangkat baju pasien Alexa dan memperhatikan bekas jahitan yang berukuran seruas jari, mungkin sekitar empat atau tiga centi meter.
"Maaf karna sudah membuat luka di tubuhmu." Zayn mendongak, dari bawah sini ia bisa menatap wajah pucat istrinya. Sakit rasanya melihat Alexa dam kondisi seperti ini, sehingga Zayn buru buru memalingkan wajahnya.
"Kak Zayn kenapa dibuka? Malu." Alexa langsung menutupi miliknya menggunakan jemarinya yang tidak di pasang selang inpus.
"Tidak usah malu. Aku tau semua tentangmu, sampai ke tempat terdalampun." Zayn memang mengetahui, tapi tetap saja hal itu membuat Alexa malu.
"Keluarlah kak!"
"Kenapa? malu lagi yang jadi kambing hitam."
Zayn membersihkan bibir toilet duduk menggunakan tissue basah yang tersedia di kamar mandi, kemudian membantu mendudukan Alexa di sana.
"Bukan begitu, aku mau pup kak." Alexa kini menatap Zayn. Yang sama sembabnya dengan dirinya.
"Ya sudah kalo mau pup, tinggal pup saja." Zayn berdiri dan melipat tangan di perutnya. Ia mulai sadar rasanya terhadap Alexa bukan sekedar karna keterikatan mereka karna kesalahan di malam itu. Nyatanya setelah bayi mereka tiadapun Zayn masih mengkhawatirkan Alexa, ia juga masih menginginkan Alexa untuk tetap menjadi istrinya, terlepas dari apa yang sudah terjadi.
Zayn menyadari ada rasa yang sulit ia kenali tumbuh di antara relung dadanya. Wajar jika Zayn tidak mengetahui tentang cinta, mengingat selama ini Zayn tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita.
__ADS_1
Ia akan menunjukan sikafnya, nyalinya tidak sebesar gunung semeru untuk mengungkapkan tentang rasa asing yang tidak bisa Zayn hindari.
"Aku tidak bisa pup jika kak Zayn masih disini."
Akhirnya Zayn mengalah dan meninggalkan Alexa di kamar mandi. "Panggil aku jika sudah selesain." Zayn berujar sebelum perdi, ia juga sempat melabuhkan kecupan di kening Alexa.
.
Empat hari sudah berlalu.
Alexa sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumahnya. Namun yang membuat Zayn tak habis pikir adalah Alexa tak ingin pulang bersamanya, justru Alexa seakan menghindarinya sejak kemarin. Dan hari ini adalah puncaknya, Alexa benar benar ingin pulang kerumah orang tuanya apa lagi tanpa dirinya.
"Alexa, bagai mana bisa kau ingin pulang tanpa diriku?" Zayn mulai tak terima, ia juga tengah menghalangi Alexa yang tengah berada di kursi dan di dorong oleh Papa Azam.
"Aku perlu waktu untuk menenangkan diri kak. "
"Menjauhlah untuk sementara." Alexa tak turut serta memberikan alasannya, ia hanya ingin mencinptakan jarak dengan Zayn. Ia ingin menyudahi semuanya. Bukankah hubungan mereka ada karna bayi mereka? Dan setelah bayi itu tiada lantas apa yang harus mereka pertahankan.
Kalimat jika jodoh tak akan kemana benar-benar tidak Alexa percayai. Menurut Alexa jodoh tidaknya seseorang tergantung mereka mempertahankan hubungan. Nyatanya setelah beberapa waktu berlalu Alexa menyadari hubungannya tidak harus ia pertahankan. Alasannya karna Zayn tidak pernah mencintainya, karna sampai hari inipun Zayn tidak pernah mencintainya. Makanya Alexa akan membebaskan Zayn untuk menemukan wanita yang ia inginkan. Alexa akan memberikan Zayn ruang untuk menemukan seorang gadis.
"Menjauh? Hal itu justru akan memperburuk hubungan kita Alexa. Aku bukan pria penyabar yang mampu mengatasi jarak dan waktu." Zayn tetap tidak setuju.
Papa Azam dan istrinya menjauh dan keluar dari ruangan Alexa, ia akan memberikan sepasang suami istri itu ruang untuk membicarakan permasalahan mereka. Meski ia sangat ingin membawa putrinya untuk pulang, tapi Papa Azam tak bisa mengabaikan keberadaan Zayn begitu saja. Pria itu sudah menjadi suami dari putrinya. Dan Zayn berhak turut campur dalam hidup putrinya.
"Kita harus sama-sama memahami apa yang kita inginkan kak. Di samping aku butuh pengakuan aku juga membutuhkan cinta dari suamiku. Aku bukan seseorang yang bisa menanti, aku perlu di perjuangkan jika kau benar-benar menginginkan diriku. Di masa depan jika aku tak merasa di cintai aku tak ingin menyalahkan diriku sendiri. Setidaknya aku membutuhkan cinta dan kasih sayang dari suamiku." ucapan Alexa membungkam mulut Zayn, pria itu tak bisa mengakui atau menangkis perasaannya karna memang Zayn masih abu abu dengan hatinya sendiri.
__ADS_1
"Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan Alexa, baik itu kebutuhan lahir dan bathinmu. Rumah tangga bukan soal cinta saja kan?"
"Aku tak bisa kak, menurutku wajar untukku jika aku meninta cinta darimu." Alexa berpaling dari Zayn yang menatapnya.
"Aku hanya tak ingin mengecewakanmu."
"Ya, ini sebabnya aku mengatakan kita perlu waktu untuk berpikir. Kau hanya menikahiku karna bayi itu. Dan setelah semuanya berakhir aku rasa hubungan kita juga akan berakhir. Kau juga berhak mendapatkan gadis shaliha, tidak seperti diriku yang di penuhi scandal." Alexa memanggil Papanya kemudian meminta Papa Azam untuk membawanya pulang.
Zayn diam. Ia juga tidak bisa memberikan penjelasan yang masuk akal. Pertanyaannya, benarkah Zayn membutuhkan sosok gadis lain? untuk menjalani biduk rumah tangga baru, atau justru Zayn hanya membutuhkan Alexa saja untuk melanjutkan kisahnya.
Zayn mengikuti mobil mertuanya dari belakang. Ia bahkan belum menyetujui tawaran Alexa tapi wanita itu sudah pergi meninggalkannya di ruang rawah Alexa tadi, di saat Zayn masih berpikir. Sungguh Zayn sangat buntu akan masalah percintaan.
"Alexa, Zayn malah mengikuti kita." Papa Azam melirik spionnya.
Alexa hanya menghembuskan nafas kesal, apa sebenarnya mau Zayn. Pria itu tinggal mengakui jika ia mencintainya maka Alexa akan pulang bersamanya dan menjalankan rumah tangga mereka dengan lembaran baru. Apa memang dasarnya Zayn tidak mencintainya? Mungkin saja Zayn hanya terlanjur menikahinya.
Sesampainya Zayn di rumah mertuanya, ia segera memasuki kamar Alexa yang sudah bersiap untuk beristirahat. Zayn juga meminta kedua mertuanya untuk meninggalkan ia dan Alexa untuk berbicara.
"Kak. Apa yang sebenarnya yang kau inginkan?" Alexa mulai kesal akan sikaf Zayn yang terkesan mempermainkannya.
"Kau tau apa yang aku inginkan Alexaa, aku hanya ingin dirimu."
"Kau menginginkan aku sebagai apa? Sebagai wanita yang terlanjur kau nikahi atau sebagai wanita yang kau cintai." Alexa juga heran mengapa dirinya begitu menginginkan pengakuan cinta dari Zayn. Padahal ia tau pria kaku seperti Zayn terbilang mustahil untuk mengungkapkan cinta.
"Kau itu kenapa Alexa? Tidak cukupkah sikap baikku selama ini? Kenapa kau ngotot sekali inging pengakuan cinta dariku?"
__ADS_1
"Bukan hanya aku saja yang seperti ini kak. Semua wanita juga sepertiku, ingin pengakuan cinta dari suaminya. Namun banyaknya basa basi yang kau pertunjukan di hadapanku membuat diri ini mengerti. Kau tak perlu mengakui apapun!" Alexa meminta Zayn keluar dari kamarnya dan mulai berbaring di ranjangnya. Alexa juga mengabaikan ucapan ucapan klise yang Zayn ucapkan. Bahkan kalimat Zayn selanjutnya terdengar sumbang di telinganya.