Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Hal yang tidak-tidak


__ADS_3

"Ale, ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu." Hanna segera meraih bantal untuk ia letakan di pangkuannya, dirinya tengah duduk di ranjang milik kakak serta kakak iparnya.


"Tentang apa hayooo? Pasti tentang calon suamimukan?" Alexa menggoda adik iparnya, namun bukankannya merona malu Hanna justru marah, wajahnya merah padam. Ia tak suka dengan calon suaminya dengan status duda beranak satu.


Alexa yang menyadari raut Hanna berubah segera menautkan kedua alisnya, calon manten yang satu ini terlihat murung padahal beberapa minggu lagi akan melepas masa lajangnya. Apa adik iparnya tak bahagia? "Apa kau tak menginginkan pernikah itu? Anna."


Hanna menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan. "Aku tak memiliki alasan yang kuat untuk menolaknya. Mama papa, serta kak Zayn menyetujui mas Raffa menikahiku." Berat hati rasanya Hanna harus mdnerima pinangan Raffa.


"Kau tau kan orang tuamu serta kak Zayn pasti menginginkan yang terbaik untukmu. Aku yakin mereka sudah meneliti lebih dulu bibit bebet dan bobot calon suamimu. Mereka sangat menyayangimu." Alexa membingkai wajah murung Hanna.


"Tapi aku merasa tak yakin dengan Mas Raffa, dia seorang duda! Kau tau kan bagai mana kesannya duda? Pria idamanku seperti Arga, perhatian dan penyayang." ungkap Hanna terus terang.


"Tapi kata kak Zayn, pria bernama Raffa itu sosok yang hangat. Dia juga penyayang bahkan pekerja keras, cabang usahanya di mana mana. Dan yang paling penting dia bertanggung jawab, jangan lupakan ini! Dia kaya raya juga tampan. Meskipun lebih tampan suamiku kemana mana sih." Alexa tetkekeh saat memuji suaminya sendiri.


"Iya, iya tau. Nona bucin." Hanna mencubit gemas hidung saudari iparnya.


"Tapi aku kesal karna ketampanan suamiku itu banyak gadis yang tergila hila pada kakakmu itu. Bahkan kemarin ada seseorang yang melamar Kak Zayn di depan mataku Ann. Wah itu benar benar tak akan ku lupakan, mana gas itu tengah hamil pula kan bener bener tidak waras." Hidung Alexa bahkan kembang kempis saat mengatakan kedongkolan dalam dirinya.


"Ya Allah. Alexa, yang benar kau? Di desa bibimu ada seorang seperti itu?" Hanna nyaris tak percaya setahunya gadis desa baik baik semua.


"Iya Ann, untung saja lidah tajam kakakmu berfungsi dengan sangat baik di saat seperti itu. Sehingga bibit pelakor itu menangis bombay." Alexa tertawa puas. Ia cukup terkesan dengan apa yang di katakan Zayn kemarin malam kepada pak Toha dan anaknya.


"Wah, sudah ku duga kakakku memang sangat mengagumkan. Kau tak akan menyesal memiliki kakakku. Meskipun dia terlihat cuek dan dingin tapi ia sangat perduli terhadap hal hal kecil. meskipun dia sangat tidak menyukai sentuhan fisik." Hanna berkata demikian karna memang Zayn tidak menyukai jika tubuhnya tersentuh seseorang sekalipun oleh adiknya sendiri. Hanna bahkan dapat menghitung berapa kali Zayn memeluknya, saking jarangnya Zayn terlibat sentuhan fisik.

__ADS_1


Lain pikiran Hanna lain pula isi kepala Alexa. Bahkan Alexa berdecih dalam hati, tidak menyukai sentuhan fisik dari mananya? Pria dewasa itu sangat suka menempel padanya. Ada saja alasan Zayn hanya agar bisa selalu bersentuhan dengan Alexa. Zayn bahkan kerap kali sengaja membatalkan wudhu hanya karna tertarik untuk mengecup pipi Alexa.


Ya hanya dengan Alexa saja Zayn tidak membatasi prifasi apapun. Zayn membiarkan Alexa mengetahui titik terdalam Zayn sekalipun bahkan tentang letak tahi lalat di bagian bawah alat tempur pria itu, yang mungkin saja Zayn juga tidak tau akan letak tanda hitam kecil itu.


"Aku kesal kepada Papa! Papa memajukan pernikahanku menjadi seminggu lagi." ucap Hanna dengan sangat lesu. Ia belum siap lahir bathin untuk menjadi seorang istri apa lagi menjadi seorang ibu sambung untuk putri dari calon suaminya.


"Astaghfirullah yang benar Ann? Kenapa cepat sekali?" Alexa menutup mulutnya ia terkejut akan keterangan dari Hanna.


"Aku serius Ale. Rasanya aku ingin melarikan diri dari pernikahanku."


"Jangan mengecewakan keluargamu Ann, aku menginginkan kau bahagia. Tapi maaf aku tak bisa membantu atau mendukungmu. Berdoa saja apapun yang terjadi semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu." Alexa memeluk Hanna, ia menyalurkan kehangatan untuk temannya.


Ceklek.


"Mengapa belum tidur? Kau bergosip dengan adikmu?"


"Ish,, kak Zayn kalo mau mesra mesraan tunggu Anna keluar dullu lah!" Hanna mengerucutkan bibirnya, nadanya sangat jelas memprotes tindakan kakaknya yang menurutnya mesum.


Zayn mendekat ke arah Adiknya. Ia usap kepala adiknya yang tertutup hijab.


"Sebentar lagi kau juga akan merasakannya. Calon pengantin! Adik kakak sudah besar. Rasanya baru kemarin kakak menggendong kau dan Alexa bergantian. Hiduplah dengan bahagia adik kecilku. Aku tak bisa seutuh dulu dalam menjagamu. Ada seorang wanita yang lebih wajib ku jaga dan ku bahagiakan. Kau juga akan di jaga oleh temanku, dia pria baik aku percaya terhadapnya. Jika dia berani melukaimu setitik saja, aku lah orang pertama yang akan menjadi perisai dan senjata untuk melindungimu. Aku bersedia melukai siapapun yang mengusik kebahagiaanmu." Zayn berkaca kaca saat mengatakan itu. Adiknya sudah tumbuh besar dan dewasa, sebentar lagi gelas istri akan tersanding pada dirinya.


"Terimakasih." Hanna menubrukan tubuhnya di pelukan tubuh kakaknya. Tak perduli sekalipun Zayn keberatan dan memang benar Zayn hanya pasrah dan tak membalas pelikan. Lain halnya jika di dekapannya adalah Alexa, ia akan menyingkirkan segala macam penghalang sekalipun berupa sehelai benang.

__ADS_1


"Sudah. Istriku tak akan menyukai saat ada bau lain di tubuhku." Zayn mengurai pelukan ia tetap tak nyaman saat bersentuhan dengan orang lain, sekalipun adiknya sendiri.


"Dasar Alexa pelit. Alexa serakah, Anna ga boleh peluk kak Zayn." Hanna terlihat pura pura merajuk.


"Tidak. Anna, aku tidak akan cemburu jika kau dan Mama Lexi memeluk Zayn. Kalian boleh ko meluk kak Xay." Ujar Alexa tak enak hati. Ia takut Hanna benar benar menganggap jika dirinya serakah dan hanya menginginkan Zayn untuknya seorang.


" Bercanda Lexa. Aku tau kok, kak Zayn saja yang tak nyaman saat di peluk olehku. Dia memang seperti itu kan?" Hanna tertawa saat melihat raut wajah Alexa yang tak enak.


"Ya sudah aku mau tidur. Kalian jika mau lembur bikin keponakan untukku tidak papa." Hanna cekikikan menggoda kakaknya yang selalu terlihat kaku.


"Ish, Hanna mulutnya! Anak gadis tak boleh seperti itu. Lagi pula kan belum boleh kami bikin keponakan untukmu. Tapi kakakmu nakal selalu menyuruhku yang tidak-tidak." Alexa, mendelik akan ucapan Hanna, lain halnya dengan Zayn yang sudah melotot karna ucapan Alexa. Jika di biarkan Alexa bisa saja membongkar rahasianya tentang dirinya yang selalu mengelabui Alexa dengan banyaknya bujuk rayu supaya Alexa mau menuruti inginnya.


"Hanna cepat ke kamarmu!" Perintah Zayn tegas. Ia bahkan mengekori langkah adiknya, dan segera mengunci pintu kamarnya.


"Apa maksudmu dengan aku yang selalu menyuruhmu melakukan hal yang tidak-tidak?" Zayn mengangkat wajahnya menatap ke arah Alexa yang tengah kebingungan menjawab.


"Aku, aku berkata sebenarnya. Kau memang sering menyuruhku hal yang tidak-tidak." bela Alexa.


"Seperti apa contohnya?" Senyuman nakal meleset di bibir Zayn.


"Kak Zayn mau apa?" Alexa beringsut saat Zayn sudah membuka kancing kemeja putihnya dan melemparkannya ke sembarang arah. Memamerkan bahu lebar serta dada kekarnya.


"Tentu saja aku ingin melakukan hal yang tidak-tidak sesuai ucapanmu." Zayn sudah menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan Alexa yang berada di atas tubuhnya.

__ADS_1


"Kak Zayn ..."


__ADS_2