Terikat Kesalahan Gus Zayn

Terikat Kesalahan Gus Zayn
Berbahagialah putraku


__ADS_3

Binar kebahagian kini tengah menyelimuti keluarga Ustadz Ridwan.


Nenek Kimmy dan Kakek Ridwan kini resmi sudah mempunyai sepasang cicit.


"Loh kok semua bayinya mirip kak Zayn sih? Kasihan Alexa dia yang ngidam, dia yang hamil, dia yang lahiran pas brojol bayinya mirip kak Zayn semua." Alena terkekeh renyah, melihat istri sepupunya yang yang terlihat memberenggut kesal di atas brankar pasien miliknya.


"Alena berhenti menggoda istriku." Zayn melotot. Jelas Zayn memahami ke dongkolan yang di rasakan oleh istrinya. Bagai mana tidak, anak kembar mereka lebih mirip ke Zayn semua.


Satu bayi di gendong oleh Hanna dan satu bayi lagi di gendong oleh Mama Lexi. Alena sangat gemas terhadap bayi yang berada di gendongan Hanna, bayi dengan pita pink di kepalanya terlihat sangat nyaman dalan dekapan Hanna.


"Ann. Gantian ih, aku mau gendong dedek bayinya." Alena sudah mengulurkan kedua tangannya bersiap untuk menggendong bayi itu. Namun Hanna malah semakin erat mendekapnya.


"Enak saja. Aku juga baru sebentar gendongnya. Lebih baik kak Alena cepat nikah, biar bisa bikin adek bayi." Hanna malah menyinggung sepupunya itu.


"Anak kecil jangan menghadirkan api ya, mentang mentang udah nikah malah ngatain aku, mau bagai manapun umurku lebih tua darimu ya." Ketus Alena.


"Hanya beda dua tahun saja. Jika kak Alena merasa tua nikah donk nikah." Alena merasa dongkol akan ulah adik iparnya.


"Heh, malah berantem. Istriku mau istirahat Pergi pergi." Zayn mengusir adik dan sepupunya untuk keluar dari ruang inap Alexa.


Bukan hanya Hanna dan Alena saja yang pergi, semua orang juga turut pergi meninggalkan Zayn juga Alexa bersama kedua anak kembar mereka yang tertidur di atas box bayi.


"Rumah kita sudah selesai di bangun dan sudah siap huni. Tapi kita pindahnya nanti saja ya? setelah dedek kembarnya berumur 2 atau tiga bulan." Zayn meminta persetujuan istrinya.


"Kau juga perlu menyesuaikan diri terlebih dahulu menjadi seorang ibu. Jika ada sesuatu yang tak mengenakanmu tentang peran ibu baru, kau jangan pernah memendamnya sendiri, katakan saja semuanya denganku. Aku juga akan memperjakan satu atau dua orang pengasuh terlatih untuk membantumu mrngurus si kembar. Kau juga memerlukan waktu untuk dirimu sendiri, untuk merawat diri juga me time. Jangan karna adanya si kembar justru kau malah tertekan atau terabaikan. Kau harus tetap happy menjalani peranmu sebagai istri dan anakku." Andai saja semua suami seperti Zayn, rasanya syndron baby blush akan lenyap dari muka bumi. Sayangnya pria seperti Zayn hanya seribu satu di antara banyaknya pria di muka bumi.


Alexa tak sanggup menahan cairan bening yang membingkai matanya. Ia tatap lekat wajah Zayn yang menangkan untuknya. Wajah dan mata itu kemarin sempat menangis saat menemani melahirkan jedua buah cinta mereka.


Papa Azam benar, Alexa sangat beruntung mempunyai suami seperti Zayn. Pria kaku dengan jepekaan di atas rata rata.

__ADS_1


"Terimakasih, karna tidak menuntutku menjadi wanita sempurna. Tapi jangan mencintai mereka melebihi cintamu terhadapku." Alexa tak bercanda akan untaian kalimatnya, tidak juga sedang bergurau. Ia benar benar mengatakan uang sebenarnya.


"Justru bentuk cintaku yang sesungguhnya terhadap mereka adalah dengan caraku memperlakukan dan mencintai Mamanya. Kau tidak usah Khawatir bagian cinta, kasih sayang, dan apapun kau akan lebih banyak mendapatkannya di bandingkan siapapun." Zayn mengecupi pergelangan tangan Alexa.


"Aku nyaris tak percaya, tubuh ini berkorban dan berperan begitu banyak atas setiap kebahagiaan dalam hidupku. Aku mencintaimu Alexa." Zayn membenamkan ciuman di bibir istrinya, repleks kedua tangannya mere mas dua kelembutan istrinya yang mulai mengeluarkan asi.


Oek ... Oek ...


Bayi bertopi biru nenangis dengan sangat nyaring.


Alexa segera mendorong Zayn yang masih mencium serta menyentuh dua kelembutan miliknya.


"Kak Zayn ih. Pake pegang segala nangiskan anaknya." Alexa mencubit punggung tangan Zayn.


"Ya, ampun Dek, Papa hanya pegang sedikit saja masa tidak boleh." Zayn mendekati putranya kemudian menggendongnya.


Bayi tampan itu menggerakan kepalanya tak beraturan, ke kiri dan kekanan dengan mulut terbuka seperti tengah mencari sesuatu.


Alexa meraih bayinya dengan hati hati.


"Pelan pelan Yank." Zayn membantu membukakan pakaian Alexa, bayi itu langsung mencaplok put ing ibunya. Repleks Alexa meringis karna bayinya menyusu dengan kuat juga gusi bayinya terasa lebih tajam di bandingkan gigi suaminya.


"Awww shhtt ..."


Jemari kaki Alexa bahkan saling bertautan karna merasakan sakit yang luar biasa.


"Sakit?" tanya Zayn sembari mengusap kepala Alexa.


"Ya kak. Tajem banget gusinya. Lebih tajem dari gigi kak Zayn."

__ADS_1


"Haha haha ..." Zayn tergelak mendengar penuturan Alexa.


"Jadi enakan nyusuin aku dari pada bayi kita nih?" Ajaib Alexa malah mengangguk.


"Kau ini." Zayn memijat kaki istrinya.


Bayi dalam pangkuan Alexa menatap ke arah wajahnya, hah ini sangat indah menurut Alexa, air matanya bahkan langsung turun dan membasahi hidung bangirnya.


"Masya Allah. Lihat kak! Bayinya menatapku." Ucap Alexa serak.


Zayn turut mendekat dan mengunci pandangannya ke arah bayi di gendongan Alexa. "Ini mamamu Nak. Dia orang yang berkorban besar dalam menghadirkanmu ke dunia. Papa sangat mengayanginya." Zayn pun turut menangis haru.


"Terimakasih."


"Jika di hitung, ada kali kak Zayn ngomong terimakasih sejuta kali sehari." Cebik Alexa.


"Sekalipun seperti itu aku tak akan mampu membayarnya Alexa."


Setelah memastikan putranya kenyang dan terlelap Zayn kembali meletakannya di dalam Box bayi.


"Kak aku ingin ganti pembalut sepertinya sudah penuh." Alexa mulai merasa tak nyaman.


"Sebentar biar aku panggil Hanna untuk menjaga mereka dulu." Zayn segera memanggil adiknya.


Zayn menuntuk Alexa ke kamar mandi, tidak hanya membantu Alexa mengganti pembalut, Zayn juga mencucikan pembalut milik istrinya itu. Banyaknya darah yang terdapat di pembalut sang istri membuatnya merasa bersalah kepada ibunya. Mama Lexi juga pasti berkorban sangat banyak untuknya, tapi sampai detik ini Zayn belum membahagiakan ibunya.


Gegas setelah menyelesaikan tugasnya dan membawa Lexi ke tempat tidur. Zayn langsung sungkem, keningnya bertumpu di lutut Mamanya.


"Ma, maafkan Zayn yang selalu membuat mama repot, maaf Zayn yang hingga hari ini Zayn belum bisa berbakti terhadap Mama. Zayn belum bisa membuat Mama bangga." Zayn terisak pelan di hadapan Mamanya.

__ADS_1


"Zayn putraku. Dengan kau berbuat baik dan memperlakukan istimu dengan sepantasnya, itu sudah lebih dari membuat Mama Bangga. Jau sudah menunjukan pada dunia jika Mama telah berhasil mendidik putra Mama sehingga dirimu dapat memperlakukan istrimu layaknya ratu. Mama tidak menuntut bakti atas semua yang sudah mama lakukan. Semua itu murni kewajiban Mama sebagai orang tua. Kau tidak usah merasa terbebani mengenai baktimu terhadap Mama. Bahagiakan keluarga kecilmu. Itu sudah cukup membuat mama bahagia." Mama Lexi mengecup kepala putranya.


Setinggi apapun jabatan serta gelar Zayn, seberapa besar tubuhnya, juga sebanyak apa angka di umurnya, bagi Mama Lexi Zayn tetap menjadi puta kecilnya. "Barbagialah putraku. Do'a serta ridha mama selalu menyertaimu."


__ADS_2