
"Aku tak mau denganmu!" Alexa melengos ia kembali menggoyang goyangkan tangan papanya.
"Ayo pa. Kita cari orang hajatan."
"Cari kemana Alexa? Ini bukan musim nikahan. Lagi pula tak gampang untuk kita mencari orang hajatan." Papa Azam yang baru kali ini mengetahui tingkah aneh putrinya merasa pusing. Apa lagi Zayn, menantunya itu pasti sangat bekerja keras untuk memenuhi keinginan Alexa wajar jika menantunya kerap kali marah saat menghadapi tingkah Alexa.
"Ayo pergi bersamaku. Kata karyawan kantor ada tetangganya yang tengah hajatan, dia menyunat putra. Biar karyawanku yang meminta ijin untuk kau dapat makan, nanti aku akan memberikan putranya amplop sebagai ucapan terimakasih." Zayn mengajak Alexa dengan menggenggam jemari wanitanya tapi dengan cepat Alexa menepisnya dengan kasar.
"Ogah. Akan lebih baik jika bayiku mengeces dan ileran dari pada aku harus merepotkanmu lagi, kemudian kau akan mengungkitnya di kemudian hari." Akhirnya Alexa lebih memilih untuk memendam ke inginannya dari pada harus merepotkan Zayn kembali.
"Aku minta maaf Alexa soal yang tadi. Aku tak akan mengulanginya lagi. "Ujar Zayn penuh sesal, tap Alexa tak merespon apapun. Ia lebih memilih menghindar.
Wanita hamil itu pergi ke ke arah dapur dan mengambil seporsi makanan. Juga meminta tolong kepada Mamanya untuk memotongkan buah untuknya, buah pear dan buah naga merah yang Alexa pilih hari ini.
Alexa kembali ke ruangan tengah dengan seporsi makanan juga segelas air putih yang ia bawa di atas nampan.
Alexa mendudukan tubuhnya tepat di sebelah Papa Azam. Alexa tak melirik ke arah Zayn sama sekali.
"Mau ku suapi?" tawar Zayn penuh perhatian. Alexa mengabaikan ucapan Zayn, ia tertarik untuk bertanya sesuatu kepada ayahnya.
__ADS_1
"Pa, apa pernah Alexa makan di suapi Papa? Alexa tak mengingatnya, Seingat Alexa, Alexa hanya makan melalui tangan Alexa sendiri setelah kepergian Mama." Suara Alexa terdengar parau, sepertinya wanita hamil itu tengah menahan tangis, yang entah apa penyebabnya.
Papa Azam bungkam ia memang tak pernah menyuapi putri sulungnya. Alexa seakan terabaikan selama bertahun tahun. Alexa selalu menjadi nomor kesekian yang tak pernah menjadi prioritas Papa Azam. Hanya karna Alisa yang sakit papa Azam seakan menutup mata akan kehadiran putrinya yang lain.
"Entah. Papa juga lupa." Alibi Papa Azam. Kata lupa seakan menjadi bukti jika Alexa tak di ingat sama sekali.
"Bolehkah sekali seumur hidup aku makan di suapi Papa? Itupun jika Papa tidak terbebani." Suara Alexa tercekat, wajahnya kini sudah berpaling dengan manik yang sudah di bingkai oleh air mata.
Papa Azam meraih satu sendok makanan dan menyuapkannya kepada Alexa. Alexa mengunyah suapan pertama dari papanya, sekali seumur hidupnya. Saat Papa Azam hendak menyuapkan lagi Alexa menggeleng. "Cukup Pa."
"Alexa maafkan Papa." Papa Azam memeluk tubuh putrinya dengan dengan sangat erat, tangis pria paruh baya itu pecah begitu saja di pelukan putri yang selama ini terabaikan. Wajar jika Alexa lebih mencari kesenangan di luar rumah, karna di dalam rumah Alexa tak mendapatkan apa itu kehangatan.
Itu lah sebabnya Alexa sangat manja kepada para mantan kekasihnya, terutama Adam. Pria itu sangat piawai memanjakan Alexa. Setelah menikahpun Alexa sangat manja kepada Zayn, tapi kadang kala Zayn jengkel akan kemanjaan Alexa. Baru ia mengerti jika istrinya begitu haus akan kasih sayang karna sejak kecil Alexa memang terabaikan.
"Apa Papa tak melihat Alexa selama ini. Alexa kerap kali melihat papa menyuapi Alisa tapi Papa tak sekalipun menawari Alexa untuk makan dari tangan papa langsung. Alexa kerap kali mengintip Papa di balik pintu saat Papa membacakan dongeng dongeng kisah seorang putri dan pangeran, Alexa menguping di balik pintu kamar Alisa, hanya agar bisa mendengar papa berdongeng. Tak sekalipun Papa berdongeng untukku, apa lagi menemani aku sebelum tidur hingga aku terlelap. Aku seakan mahluk asing yang tersesat dan berada di antara keluarga yang harmonis. Aku tak menanyakan akan kasih sayang Mama Green terhadapku karna Mama Green adalah mama Alisa bukan mamaku. Tapi - tapi." Suara Alexa tersendat sendat tenggelam oleh tangisannya sendiri, terdengar pilu dan menyayat hati.
"Terimakasih. Papa, sudah berhasil menciptakan masa kecil yang menyakitkan untukku. Bahkan sempat aku berpikir untuk turut ikut bersama Mama. Dunia sangat kejam terhadapku. Aku di biarkan sendiri memeluk diriku sendiri di tengah dinginnya malam. Aku di paksa untuk melawan ketakutanku sendiri tanpa adanya orang dewasa di sampingku. Aku sakit, sakit Pa, selama belasan tahun aku memendam sendiri. Aku selalu merasa iri terhadap anak anak lain yang menikmani masa kanak kanaknya. Sedangkan diriku, aku tumbuh seorang diri saja tanpa dirimu." Alexa menutup wajah menggunakan kedua belah tangannya, dadanya yang sesak secara perlahan lahan mulai terbebaskan.
"Hentikan Alexa. Papa mohon jangan mengabsen kesalahan papa yang tak terhingga terhadammu. Papa bersalah. Papa minta maaf, sudah mengabaikanmu selama ini." Papa Azam membingkai wajah putrinya yang berlinangan air mata. Dirinya menjadi tersangka utama atas ketidak adilan masa kecil yang Alexa lalui.
__ADS_1
Zayn membatu di tempatnya sebegitu menderitanya hidup Alexa di masa lalu, Zayn tak tau jika Alexa setertekan itu, yang ia lihat Alexa adalah gadis kecil yang ceria juga dengan senyuman indah yang selalu melengkapi paras cantinya. Kenyataannya, senyuman yang di tebarkan Alexa hanya kepalsuan saja, sebagai topeng untuk menyembunyikan setiap lukanya. Begitu berdosanya Zayn karna merasa terbebani atas tingkah Manja Alexa yang mengada ngada. Rupanya Alexa tak mendapatkan hak haknya sebagai anak.
"Apa papa tau setiap kenakalan yang Alexa lakukan di sekolah hanya semata mata ingin membuat Papa sebentar saja menatap Alexa. Tapi apa yang Papa lakukan. Papa hanya memaki dan menyalahkan Alexa, tidak sekalipun Papa bertanya apa yang Alexa inginkan. Yang papa perhatikan hanya Alisa saja. Aku seakan bayangan yang tak terlihat di saat waktu gelap maupun waktu terang."
"Sayang maafkan Papa, Maaf karna sudah menjadi ayah yang buruk untukmu. Papa terlalu sibuk dengan adikmu. Papa tak tau jika kau semenderita itu."
"Papa tak akan tau karna anak papa hanya Alisa bukan aku, sudah aku katakan aku hanya mahluk asing yang tersesat diantara kalian. Bahkan setelah Alisa tiadapun Papa tak pernah melihat kearahku. Saat aku hamil waktu itu, Papa mememukuliku dan mengusirku, Papa tidak merengkuh dan memelukku sebagai anak. Papa memakiku tanpa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Lantas pria mana yang harus ku jadikan pelindung jika papaku saja mengabaikanku." Alexa sudah muak membendung semuanya sendiri. Kepalsuan yang ia perlihatkan selama ini kini ia beberkan.
"Alexaaa." panggil papa Azam lirih ia meminta agar putrinya berhenti mengabsen setiap kesalahannya. Ia tak sanggup mendengarnya, ia dzalim kepada putrinya sendiri.
"Sejak kepergian mama, apa pernah Papa mengingat ulang tahunku? Apa pernah papa datang kesekolahku untuk menghadiri kenaikan kelas atau rapat sekolah, papa selalu mewakilkannya kepada orang lain, aku sakit atas perlakuan papa. Aku juga malu, teman temanku mengatai aku sebagai yatim piatu. Karna Papa tak pernah menghadiri apapun kegiatanku di sekolah."
"Zayn jika kau bertanya akan sikapku yang menurutmu aneh salahkan dia Zayn, dia yang membentuk kepribadianku. Dia yang membiarkanku tumbuh sendiri." Tunjuk Alexa kepada Papa Azam.
"Ayo pulang Zayn! Aku sesak jika terlalu lama di rumah ini. Rumah yang tak pantas ku sebut rumah."
"Tak apa, kau boleh mengatakan apapun kepadaku. Aku memang memang manja dan kekanakan. Tapi tolong bawa aku pulang. Lama lama Aku akan terbiasa oleh mulut pedasmu."
"Alexaaa ..." Zayn meraih tubuh tak berdaya istrinya. "Maaf. Tolong maafkan aku." Zayn mendekap erat tubuh ringkih istrinya.
__ADS_1